Friday, June 5, 2020

Topic Batch 8 Gel 2 Day 1 : KARAKTERISASI OLEH OM BUD DENGAN MODERATOR KANG ASEP HERNA.


Seperti di beberapa tulisan saya di blog sebelumnya, pelajaran yang saya salin ini dapat diresapi oleh para pembaca, maka pelajaran ini saya sajikan seperti apa yang dikatakan oleh narasumbernya, dalam hal ini narasumber adalah OM Bud dengan moderator Om Asep Herna.  Untuk membuka pelajaran, moderator mengawalinya dengan salam. Mari kita simak pelajaran malam ini.  

“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Teman-teman, ketemu lagi kita di Level 2 The Writers, yang akan kita jalani dalam 12 sesi ke depan. 6 sesi dari Om Budiman Hakim dan 6 sesi bersama saya.

Malam ini, Om Bud akan mengawali sesinya dengan tema "Karakterisasi".

Seperti biasa, saat Om Bud memberi materi, grup akan di-lock agar clean. Bila teman-teman ada pertanyaan, silakan tulis via WA saya di 087778031272. Nanti pertanyaan akan saya sampaikan di sesi Tanya Jawab.

Baiklah teman-teman, gak sabar kita baca sharingnya Om Bud. Mari kita langsung saja sambut Om Buuudiiimaaan Haaakiiiim...

Temen-temen sekalian, selamat berjumpa lagi di sesi kedua. Malam ini kita akan membahas tentang Karakterisasi dalam sebuah penulisan. Tapi sebelumnya saya akan membahas awalannya dulu gapapa ya ....

KARAKTERISASI DALAM PENULISAN.

Kalau ada orang tanya, tulisan seperti apakah yang kita bisa anggap bagus?

Dulu saya rada bingung nyari jawabannya. Tapi sekarang kita sudah sepakat bahwa tulisan yang bagus adalah yang menggugah emosi (dalam konteks positif tentunya).

Menggugah emosi itu seperti apa sih maksudnya?

Dalam hidup ini berapa kali kita ketawa? Berapa kali kita menangis? Berapa kali kita terharu? Pasti banyak, kan? Semua hal tersebut di atas adalah saat hati kita tergugah oleh sesuatu. Nah, kenapa semua perubahan emosi tersebut ga kita tulis? Kalo jelas-jelas kita tergugah oleh suatu peristiwa, logikanya orang pasti tergugah juga, dong, kalo kita ceritain kan? Pertanyaannya adalah, apakah kalian masih suka berpikiran, “Gue, sih, pengen latihan nulis tapi ga tau harus nulis apa." Kita sudah belajar memancing ide dengan 6 benda di sekitar kita, bukan? Nah, sekarang kita bisa mencoba menggunakan rumus 3P di bawah ini. Sebuah rumus yang ampuh buat penulis pemula. Apa aja sih 3P itu?

1. PENGALAMAN:

Yaitu segala peristiwa yang menggugah hati dan KITA ALAMI sendiri.

Saya pernah bilang bahwa saya punya folder khusus di laptop yang saya kasih judul ˜gudang ide“. Isinya adalah pengalaman saya yang menggugah hati. Semuanya saya kumpulkan dalam folder itu. Pengalaman itu ga perlu berupa kejadian besar. Kejadian sehari-hari pun bisa jadi menarik kalo kita sedikit lebih peka.

Misalnya: Kepala Anda kejatuhan cicak padahal Anda jijik bukan main sama binatang itu. Sebagai adegan membangun situasi udah asyik, kan? Anda kaget dan panik, sementara Isteri Anda menjerit karena menyangka Anda sedang dilanda kesakitan hebat. OK, kita stop di sini dulu. Meskipun pengalaman kalian cuma segini...gapapa. Tulisakan aja. Nanti pasti ada gunanya.

Pengalaman adalah P1. Sekarang kita masuk ke P2. Apakah P2 itu?

2. PENGAMATAN:

Yaitu segala hal yang menggugah hati tapi TIDAK Anda alami sendiri. Bisa saja Anda menemukan hal itu di film, buku, internet atau dari cerita orang lain. Kita, kan, sering kan menerima email atau WA dari temen yang isinya seru. Ada yang berupa cerita haru, ada jokes, ada plesetan pokoknya apa aja. Nah, kalo ada yang menggugah hati biasanya saya copy paste lalu saya kumpulkan juga di folder tadi.

Kalo PENGAMATAN ada yang berhubungan dengan PENGALAMAN yang kita tulis, kita bisa ngegabungin kedua peristiwa itu.

Misalnya: Ketika Anda kejatuhan cicak, pembantu Anda mulai menghubungkannya dengan takhayul bahwa itu adalah pertanda akan ada musibah menimpa keluarga Anda. Gara-gara cerita takhyul itu hidup Anda jadi ga tenang. Setiap jam kalian menelpon isteri ke rumah, “Lo baik-baik aja, kan? Anak-anak di mana? Mereka juga baik-baik aja, kan?”

Hehehehehehe…Sebetulnya kita gak percaya pada takhayul tapi ketika itu berhubungan dengan orang yang kita cintai sering kali kita jadi takut beneran. Khawatir kalo isteri atau anak kita akan mendapatkan musibah beneran.

Sampe sini nangkep kan? Saya udah menghubungkan pengalaman dan pengamatan. Pengalaman adalah yang kalian alami sendiri yaitu kejatuhan cicak. Dan pengamatan diperoleh dari ocehan pembantu tentang takhyul tadi.

Kalo kebetulan kita mempunyai kisah lain seputar cicak maka itu bisa digunakan untuk memperkaya tulisan kita. Pokoknya benang merahnya adalah CICAK.

Misalnya ada anak tetangga yang sering makan cicak untuk menyembuhkan penyakit kulit yang dideritanya. Karena kesulitan mendapatkan cicak, ayah anak itu mengumumkan bahwa dia bersedia membeli cicak pada siapa pun yang hendak menjualnya. Akibatnya anak-anak di seputar kampung tersebut ramai-ramai berburu cicak untuk dijual pada si sakit. Situasinya jadi tambah menarik, kan? Tulis dan gabungkan dengan hasil tulisan awal yang kita peroleh dari pengalaman.

Pengemasan adalah memberi bumbu pada tulisan kita agar menjadi tambah menarik. Bagaimana cerita seputar cicak di atas jadinya kalo kita beri pengemasan?

Misalnya: Ketika Anda kejatuhan cicak Anda mengalami kesulitan untuk mengusirnya dari kepala karena Anda memakai Jel rambut yang daya rekatnya kuat sekali. Coba liat? Makin seru, kan? Isteri Anda berusaha membantu dengan menepok-nepok kepala Anda. Karena dia juga jijik sama cicak, dia tidak berhasil mengusir cicak tersebut. Binatang itu ga copot-copot juga dari rambut Anda. Cicak itu sebenernya juga ketakutan tapi dia sulit melepaskan diri akibat daya rekat jel Anda yang begitu kuat. Saking panik, isteri Anda mengambil sapu dan menyabet kepala Anda dengan keras. PLAK!!!!  “Nguing….nguiiiiing….nguiiiiing.” Terdengar suara ambulans. Rupanya Anda mengalami gegar otak karena berkali-kali dihantam sapu oleh isteri sendiri. HAHAHAHAHAHA…..

Dapet, kan, pengemasannya?

Untuk memperkaya tulisan, Anda juga bisa menyelipkan jokes di sana-sini seputar cicak atau apapun yang relevan. Untuk memaksa orang agar terus membaca tulisan kita hingga tamat, tambahkan cerpenting, kutipan, jokes atau menggunakan keywords supaya penyajiannya lebih segar.

Key words itu apa sih? Pasti ada yang bertanya dalam hati.

“Sejuta topan badai, cacing kerriiiing!! Kebo Jigongan!!!!” Ini adalah contoh keywords yang Kapten Haddock sering gunakan dalam komik Tintin.

Jadi teman-teman, cobalah praktekkan metode 3P ini. Percayalah cara ini akan membuat cerita kita lebih kaya dimensi. Karena kita mengambil berbagai referensi yang akan membuat cerita kita unexpected.

Proses berlatih menulis seperti inilah biasanya yang saya lakukan di dalam Blog. Apapun yang menggugah hati, saya coba tuliskan dan saya lakukan pengemasan supaya ceritanya jadi lebih dramatis. Komentar teman-teman di blog merupakan masukan berharga karena saya jadi punya kesempatan untuk memperkaya dan memperbaiki tulisan saya dari komentar tersebut.

Misalnya ada temen ngasih komen, “Gue juga pernah punya pengalaman kocak seputar cicak…” Kalo ceritanya menarik, saya biasanya minta ijin sama dia untuk menggunakan cerita tersebut untuk melengkapi tulisan saya. Intinya semua peluang yang berpotensi untuk membuat tulisan kita lebih sempurna jangan disia-siakan. Temen kita pasti gasih ijin karena kita akan menuliskann namanya sebagai sumber cerita.

Okay, sekarang anggaplah kita sudah mempunyai cerita untuk dituliskan. Saran saya, sebelum mulai menulis, coba dibentuk dulu karakter masing-masing tokoh. KARAKTER adalah faktor yang SANGAT PENTING dalam penulisan.

KARAKTERISASI

Saya punya temen namanya Fauzi. Nama panggilannya Bontot karena dia memang anak bungsu. Dia penggemar berat Elvis Presley. Sehari-hari Bontot sering mengenakan pakaian seperti Elvis. Saya suka ketemu dia di Teebox Kafe di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru. Di sana dia sering minta ijin pada home band di sana untuk nyumbang lagu. Tentu saja dia selalu menyanyikan lagu-lagunya Elvis. Kalau sudah di atas panggung ... Wah jangan ditanya lagi. Dia bisa bernyanyi dan menari bak Elvis sampai kafe tutup. Selama dia menyanyi, banyak pegunjung yang memberi saweran pada temen saya ini. Tentu saja dia makin bersemangat nyanyinya. Begitu kagumnya dia pada karakter Elvis sehingga dia cenderung meninggalkan karakter pribadi dan meminjam karakter idolanya. Tanpa disadari dia merasa lebih nyaman menjadi Elvis imitasi daripada menjadi dirinya sendiri.


Oups! Ternyata bukan Si Bontot aja, banyak rupanya yang demen jadi Elvis imitasi. Hehehehehe..... Dari kisah Si Bontot ini, kita bisa mengambil kesimpulan betapa pentingnya karakterisasi itu. Banyak orang yang sengaja mengenakan pakaian hitam terus menerus, atau mengenakan seragam tentara setiap hari, memakai baret tanpa henti dengan resiko rambut rontok. Kenapa? Ternyata tujuannya cuma sekedar membentuk karakterisasi.

Mengapa Dedy Corbuzier dulu sering berdandan serba hitam, alis besar dan berkepala botak? Ya! Dia ingin menciptakan karakter yang unik. Konon setiap hari dia harus mengerik kepalanya agar identitasnya tetap terjaga. Dengan atribut seperti itu dia mempunyai keyakinan bahwa penampilannya bakalan jadi outstanding dibandingkan tokoh lainnya.

Limbad, pesulap alumni The New Master malah sampe mau-maunya ga ngomong di depan publik. Gila ya? Orang rela menyiksa diri seperti itu hanya untuk menemukan DIFERENSIASI dan memiliki identitas unik.

Apapun siap dilakukan untuk pembentukan sebuah karakter yang mengundang perhatian khalayak. Point saya adalah: Kalo di dunia nyata saja seperti itu, berarti begitu jugalah yang terjadi dalam penulisan. Karakterisasi adalah faktor yang ga bisa ditawar-tawar lagi. Pembentukan karakter pada sebuah tokoh akan membuat cerita kita menjadi menarik.

Cobalah perhatikan komik Tintin. (Buat yang belom pernah baca atau liat filmnya, silakan googling ya). Kita dengan mudah bisa menjabarkan masing-masing karakter di dalam komik tersebut.



Yuk, kita bedah satu-persatu ya:

1. Tintin. Seorang wartawan yang baik hati, pintar, pemberani dan suka petualangan.

2. Kapten Haddock, seorang mantan pelaut yang selalu meledak-ledak, pemarah, sembrono dan   peminum wiski.

3. Profesor Calculus yang jenius, linglung dan kurang pendengaran.

4. Si kembar detektif Thompson dan Thomson yang blo’onnya minta ampun.

5. Bahkan untuk Snowy pun karakternya dipikirin banget. Seekor anjing Terier putih, lucu dan cerdas.

Semua tokoh di atas karakternya kuat sekali dan sulit untuk dilupakan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana pentingnya membangun sebuah karakter dalam sebuah penulisan.Kita perlu memikirkan bagaimana membangun tokoh utama/protagonis, bagaimana membangun tokoh antagonis dan jangan dilupakan semua tokoh bawahan/pendukung juga perlu diberi karakterisasi. Karakter yang kuat akan membuat tokohnya melekat kuat di otak para pembaca.

Dari tadi kita ngomongin soal karakter. Sebetulnya apakah karakter itu? Jangan-jangan ada di antara kalian yang belum memahami apa itu karakter. Di batch-batach sebelumnya, saya selalu menanyakan pada para  peserta, apa itu karakter. Dan tau gak? Saya mendapatkan 4 jawaban yang berbeda. Ada yang bilang karakter adalah 1. Tipe huruf. 1. Sifat. 3. Tokoh 4. Tokoh kartun Betul, sih. Semua jawabannya gak ada yang salah. Tapi dalam konteks penulisan malam ini, yang saya maksud adalah tokoh dengan faktor pembeda yang kuat.

Percaya gak? Begitu pentingnya faktor karakterisasi sampai-sampai di Hollywood ada jabatan yang namanya Character Director. Tugasnya adalah MENGEMBANGKAN sebuah karakter tokoh tapi sekaligus menjaga agar KARAKTER DASARNYA TIDAK HILANG. Satu orang tokoh disupervisi oleh seorang character director. Kebutuhan character director ini biasanya ini diperlukan untuk film-film seri yang episodenya banyak. Misalnya kayak sitcom Friends, Golden Girls, Cheers dll. Coba perhatikan sitcom tersebut di Youtube.

Dengan mudah kita akan mengenal masing-masing tokoh dengan kekhasan karakternya. Karena episodenya banyak banget, produsernya takut lama-lama penonton akan bosan. Itu sebabnya pada episode yang ke sekian, KARAKTER mereka akan dikembangkan oleh charakter directornya. Hebatnya Sang Charakter Director mampu mengembangkan karakter setiap tokoh TANPA MERUBAH KARAKTER DASARNYA.  Sehingga penonton tidak merasakan perubahan itu. Yang mereka rasakan adalah bahwa mereka tidak pernah bosan dengan film tersebut padahal udah tayang ratusan episode. Hebat banget ya.....

Salah satu orang Indonesia yang jago soal menciptakan karakter adalah Pak Teguh pendiri Srimulat. Nama aslinya Kho Tjien Tiong yang lalu berganti nama dengan Teguh Slamet Rahardjo. Pak Teguh buat saya luar biasa banget. Kalian tentunya pernah ngeliat tokoh Gepeng, Tessy, Johny Gudel, Jujuk, Tarzan, Paul, Gogon, Asmuni, Bambang Gentolet, Triman, Basuki dan masih banyak lagi. Mereka semua mempunyai karakternya sendiri-sendiri. Dan karakternya semua sangat kuat. Believe it or not, semua karakter tersebut diciptakan oleh Pak Teguh. Itu sebabnya ketika Pak Teguh meninggal, Srimulat langsung kocar kacir seperti sekumpulan bebek tak bertuan.

MENGIMPLEMENTASIKAN KARAKTER DALAM CERITA

Jadi jika kita ingin menulis sebuah cerita, pastikan kita memberi karakter yang menonjol pada masing-masing tokoh. Yang paling gampang tentu saja adalah menciptakan tokoh penjahat dan jagoan. Si Jagoan orangnya nyenengin, ganteng, jago berantem, punya ilmu atau kekuatan super dll.

Sebaliknya Si Penjahat sangat jahat, orang nyebelin, sangar, sadis. Persamaan keduanya adalah sama-sama jago berantem, sama-sama punya ilmu atau kekuatan super yang berimbang. Kenapa harus berimbang, karena jika jagoannya terlalu sakti, sangat sulit buat pengarangnya untuk membangun ketegangan. Itu sebabnya keduanya harus punya kemampuan yang berimbang. Jadi di dalam cerita Si Jagoan dibuat kesulitan untuk mengalahkan Si Penjahat. Bahkan supaya lebih seru, Si Jagoan dibikin kalah dulu oleh penulisnya. Dengan cara demikian, di akhir cerita Si Penulis akan memuaskan rasa marah pembaca pada Si Penjahat. Bagaimana caranya? Sang Jagoan akan meluluhlantakkan Si penjahat dengan sadis lalu cerita berakhir dengan pesan bahwa kebaikan selalu menang dari kejahatan. Tapi cerita seperti itu seringkali tidak memuaskan bagi pembaca yang senang berpikir. Buat mereka cerita-cerita seperti itu gak membutuhkan otak.  Buat mereka cerita2 seperti itu terlalu mudah ditebak. Mereka tau bahwa apapun yang terjadi sebelumnya pastilah cerita selalu berakhir dengan kemenangan Sang Jagoan. "BASI!" kata mereka.

Untuk pembaca seperti ini, kita perlu membuat cerita yang cerdas. Cerita yang mampu mengajak pembacanya berpikir dan berimajinasi. Kita perlu menulis cerita yang netral. Tidak ada tokoh jagoan dan tidak ada tokoh penjahat. Yang ada adalah tokoh utama dan tokoh kedua. Bisa jadi keduanya sama-sama baik. Konflik dibangun berdasarkan kehidupan nyata. Di kehidupan nyata tidak ada tokoh baik dan jahat. Dalam kehidupan nyata seringkali konflik muncul karena sebuah kebaikan berbenturan dengan kebaikan lainnya. Tidak mudah untuk membuat karakter jika tidak ada Jagoan dan penjahat. Kalo gagal maka cerita kita akan menjelma seperti sinetron2 murahan. Semua karakter keliatan sama satu sama lain. Memang tidak mudah tapi di situlah seninya. Di situlah tantangannya. Ketika sebuah cerita ditulis tanpa tokoh penjahat dan jagoan, di situlah kita perlu membuat karakterisasi yang unik sebagai faktor pembeda. Kedua tokoh, baik itu tokoh utama maupun tokoh kedua, harus mempunyai karakter pembeda.

Meskipun keduanya tampak sama-sama baik, penulis sering memanfaatkan sudut pandang agar pembaca tetap berpihak pada tokoh utama. Setelah kedua karakter tersebut sudah mapan dengan karakter masing-masing barulah kita memikirkan tokoh ketiga, tokoh keempat dan tokoh pendukung lainnya. Selanjutnya, perkuatlah karakter tokoh-tokoh tersebut dalam cerita kita. Misalnya Si A orangnya serius, Si B kekanak-kanakkan, Si C orangnya bolot. Terserah! Karakterisasi akan membuat si tokoh menjadi sangat menarik.

Karakter yang kuat akan membuat orang dengan mudah mengingat semua tokoh-tokoh penting dalam cerita kita. Kita bisa menciptakan 2 karakter yang tali perhubungannya lebih menyentuh hati.

Misalnya dengan menghadirkan tokoh kakek dan anak kecil. Biasanya persahabatan antara kakek dan cucu selalu mengharukan. Misalnya saya selalu terharu ngeliat hubungan Jokowi dan Jan Ethes.

Copywriter saya pernah membuat teks radio dengan menggunakan tokoh kakek dan cucu. Karena dia kesuitan membentuk karakter mengigat iklan radio hanya punya fasilitas audio. Tapi jadinya OK banget.

RADIO GEMA MP3

Coba dengerin dulu. Di sinikita akan mendengar dua karakter yang sangat berbeda. Semoga bisa diputer ya....

Untuk kasus radio atau podcast, karakter dapat diperkuat dengan cara menambahkan atribut seperti  dialek, gagap, suara cegukan atau kebiasaan unik. Terserah kalian aja sepanjang membuat karakter si tokoh menjadi lebih bagus.

CEGUKAN KitKat.wav

Ini contoh penambahan karakter dengan cegukan.

Banyak juga orang yang menghadirkan tokoh bencong. Karena cara bicara bencong selalu unik dan heboh.

Misalnya tokoh bencong di film Catatan Si Boy. Hadoh! Jadul amat ya gue???

Semua orang yang pernah menonton film itu pastinya masih ingat dengan EMON, tokoh bencong tersebut yang diperankan dengan sangat baik oleh Didi Petet.

BENCONG.wma

Ini contoh menggunakan suara bencong sebagai pembentukan karakter. Kalo ini emang sering ada yg ngeluh karena gak bisa dibuka. Tapi sekarang semoga semua bisa buka ya.....

Kita juga bisa merekayasa karakter tokoh dengan membuatnya gagap dalam berbicara, seperti Aziz Gagap.

Bisa juga kita menghadirkan tokoh yang selalu bicaranya latah atau kalian punya ide yang lain? Banyak kok yang bisa digali.

Sesi Tanya Jawab :

Pertanyaan pembuka dari @Mba Ana : Assalamualaikum, malam om Bud & Kang Asep. Cicak oh cicak.. bikin ketawa ngekek ga berhenti. Pertanyaan nya: Dalam penulisan, banyak/sedikit tokohnya yang telah dibuat karakteristiknya, apakah akan mempengaruhi sebuah tulisan.

"Tidak mudah untuk membuat karakter jika tidak ada jagoan dan penjahat. Kalo gagal maka cerita kita akan menjelma seperti sinetron2 murahan. Semua karakter keliatan sama satu sama lain.

P - Cerita -cerita ini terus bertengger di stasiun televisi swasta, karena rating nya tinggi. Penontonnya yang kebanyakan maaf kurang cerdas, atau faktor apa yang membuat peminatnya tidak sedikit penikmat sinetron yang bisa jadi murahan. Terimakasih om Bud & kang Asep.

J - Iya banyak penonton yg kurang cerdas. Makanya banyak orang yang bilang tontonan di TV banyak yg gak mendidik. Maksudnya ya gitu didiklah penonton supaya selalu berpikir.

P - Kalau tokoh ceritanya adalah tokoh nyata, boleh nggak dibuat imajinasi karakternya versi kita sendiri.

J - Tergantung kamu mau bikin cerita apa? Kalo fiksi berdasarkan kisah nyata ya boleh-boleh aja diperkuat karakterisasinya.

Tapi kalo mau bikin semacam biografi atau autobiografi, seharusnya musti sesuai dengan kenyataannya. Seharusnya tapi realitanya juga gak gitu sih. Kenapa?

Saya pernah jadi ghost writer untuk menulis buku biografi seseorang. Dan dia mencoret tulisan saya, katanya "Kok di peristiwa ini saya keliatan lemah?" Padahal saya nulis seperti adanya berdasarkan wawancara dengannya.

Dia ketawa mendengar alasan saya sambil bilang, "Yang jelek-jelek jangan ditulis dong. Kalo mau ditulis juga tolong diubah sikap saya, minimal saya harus keliatan heroik lah." Hehehehehehe....

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita juga gak boleh percaya sama sejarah begitu saja. Ada keberpihakan dan ada sudut pandang dari penulisnya.

Kalo kata Asep, "History itu emang artinya 2. Satu artinya sejarah. Dan satu lagi artinya 'His Story."

Oya, tadi kata @Mba Ana Writers 8 pertanyaan pertama belum dijawab Om:

P - Pertanyaan nya:

Dalam penulisan, banyak/sedikit tokohnya yang telah di buat karakteristik nya, apakah akan mempengaruhi sebuah tulisan. Terimakasih om Bud & kang Asep.

J - Tergantung kamu lagi nulis apa. Kalo cerpen cukup satu atau dua orang aja yang dikasih karakter.

Kalo novel bisa jadi lebih. Jadi gak ada ukurannya. Cukup sesuai kebutuhan.

P - Dari @Oksand: Tanya: Saya malah karakterisasi di sini yang dimaksud adalah karakter tulisan (gaya menulis, cara/ gaya bercerita) tapi sekalian saya tanya aja. Bagaimana seorang penulis dpt membuat karakter tulisannya Om? Sehingga pembaca kalau baca tulisan dia akan berkata: oh, ini pasti tulisan dia!

J - Saya lagi ngomongin karakter yang berkenaan dengan tokoh. Bagaimana memperkuat tokoh2 utama agar menonjol dari karakter lainnya.

Kalo ngomongin karakter yang lain bisa panjang banget. Misalnya karakter setting, karakter cerita an banyak karakter2 lainnya termasuk karakter penulisan.

Kalo karakter penulisan biasanya itu butuh proses untuk menemukan ciri khas personal. Jaranga banget orang langsung menemukan karakter penulisannya di awal-awal. Biasanya dia akan nyontek gaya penulis yang diidolakannya dulu.

Dan itu yang dilakukan oleh Ayu Utami. Dia nyontek gaya penulisan Gunawan Muhammad. Begitu persisnya sampe2 orang mencurigai bahwa itu itu emang tulisan GM.

Bahkan yang seneng bergosip malah nambahin bahwa itu memang tulisan GM. Dan mereka berdua katanya pernah pacaran. Hehehehehehe.....

P - Dari @Tonz: Malam Ombud, Kang Asep mau tanya, apakah karakteristik itu sama dengan personal branding? Apakah untuk pembentukan karakter diperlukan riset?

J - Aduh! Ini Toni pinter banget. Iya betul, pembentukan karakter sama persis dengan pembentukan brand character. Karena dalam ilmu marketing brand adalah sebuah personalitas.

Kita kan sering ditanya, kalo brand ini diumpamakan dengan seseorang (biasanya artis), dia ini siapa? Apakah Luna Maya, Syahrini atau Sule?

P - Dari @Citra Yuliasari: Saya ingin menanyakan ,apakah dalam penulisan sebuah buku kita sebaiknya membentuk karakter dengan menuliskan karakternya di awal seperti " Rinjani adalah perempuan cantik , pemberani dan sangat meyanyangi keluarga atau membiarkan pembaca mengerti sendiri dari membaca alur cerita kita om? Terima kasih

J - Ada penulis yang menggambarkannya dari awal dengan bentuk deskripsi seperti itu. Tapi kalo saya sendiri lebih seneng menceritakannya dalam bentuk narasi. Dan saya biarkan karakternya muncu saat konflik terjadi. Kenapa demikian? Karena saya pengen bikin pembaca terkejut dan bilang, "Ih, gak nyangka Si Citra yang lembut begitu ternyata berani melawan mertuanya." Misalnya Hehehehehehe....

P - Dari @madany: Karakter itu sama dengan persona ya om Bud? Dalam menulis cerita baiknya dimulai dari nyusun karakternya dulu atau plotnya, Om? Matur nuwun saestu.

J - Saya gak ngerti apa yg kamu aksud dengan persona. Jadi lebih baik kita menggunakan istlah yang paling umum "KARAKTER"

Soal memulainya, itu juga gak ada ukurannya karena seperti saya biang sebelumnya, ide itu seringkali datengnya random. Jadi bisa aja sebuah cerita udah selesai tau2 kita dapet ide, "Kenapa kita gak bikin tokohnya selalu menyanyi setiap kali depresi. Dan lagu-lagu yang dinyanyikan selalu lagu-lagu Beatles."

Itu yang terjadi pada film I am Sam. Bintang utamanya, Sam (Dibintangi oleh Sean Penn), yang idiot itu kan karakternya udah kuat. Tapi sutradara memperkuat karakternya dengan membuat Sean Penn selalu menyanyikan lagu2 Beatles setiap lagi stress.

Closing speech dari Om Bud.

OK teman-teman, karakterisasi adalah faktor yang sangat penting dalam menulis cerita. Coba kalian pikirin film apa yang paling diinget. Biasanya yg muncul hampir selalu yang karakternya kuat. Misalnya I am Sam, Rain man, dan lain-lain.

Saya malam ini gak akan gasih PR. Tapi kalo kalian akan membuat tulisan baru, coba praktekin membuat karakter-karakter yang unik. Bisa Si Gagap, Si Bolot, Si Latah, Si Pincang, Si Buta, itu biasaya adalah contoh2 karakter yang kuat.

Karakter bisa juga diperkuat dengan pakaian yang unik, atau kebiasaan yang aneh. Misalnya Al Pacino di film Scent of a woman. Sebagai purnawirawan kolonel yang buta, karakternya udah kuat sekali. Tapi sutradara memperkuatnya lagi dengan memberi kebiasaan ngomong "Uh..haaa!" Hal kecil tapi sangat diingat oleh semua orang.

Pokoknya apapun yang membuat tokoh kita menjadi outstanding, pasti akan tertanam di benak pembaca lebih dalam. Cerita dengan karakter yang kuat akan membuar tulisan kita diingat jauh lebih lama dibandingkan dengan kisah dengan karakter yang biasa2 aja.

Jadi saya tunggu tulisan-tulisan baru kalian yang menggunakan karakter kuat. Saya akan cek setiap hari di web The Writers, semoga akhirnya saya akan menemukannya. Sekian untuk malam ini. Wabillahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Demikian yang telah dijelaskan oleh Om Bud tentang KARAKTERISASI. Dan sampai ketemu di pelajaran berikutnya.

Di salin oleh: Nani Kusmiyati


8 comments:

  1. Rapi..runtut...mantab..mbk nani...tp P yg ke 3 apa...mbk..penasaran

    ReplyDelete
  2. Rapi..runtut...mantab..mbk nani...tp P yg ke 3 apa...mbk..penasaran

    ReplyDelete
  3. Terima kasih commentnya bu Eny and bu Ismi,.saya sdg berguru juga dari ibu berdua,..

    ReplyDelete
  4. Waaw..super.. Terimksih bu nani tmbh ilmu ini..

    ReplyDelete
  5. P 3 nya belum dibahas, malam ini, tgl 6 Juni 2020 akan dibahas

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...