Saturday, June 20, 2020

BERBAGI PENGALAMAN MENERBITKAN BUKU DENGAN IBU SISKA

Malam ini kami mendapatkan pengalaman baru dari ibu Siska Iko Destiana tentang berbagi pengalaman menerbitkan buku.

Ibu Siska Lahir di Klaten pada tanggal 12 Desember 1985. Guru muda yang memiliki segudang prestasi. Lulusan S1 Komunikasi Universitas Jendral Soedirman Purwokerto lulus tahun 2008. 
Pendidikan Normal yaitu : Amil Development Program IMZ Dompet Dhuafa, pada bulan Mei hingga Oktober 2008.
Dan inilah riwayat pekerjaan ibu Siska yang menurut saya pribadi sangat unik, karena saya jarang mengetahui tentang pekerjaan yang digeluti ibu Siska. 


RIWAYAT PEKERJAAN
1.   Staf Fundraising Griya Zakat Banyumas, 2008
2.   Staf Fundraising LPI Dompet Dhuafa, 2008-2009
3.   Project Officer Capacity Building IMZ Dompet Dhuafa, 2009
4.   Koordinator Public Relation LPI Dompet Dhuafa, 2009-2012
5.   Supervisor Marketing Komunikasi Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, 2012-2014
6.   Supervisor Pusat Sumber Belajar Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, 2014–2015
7. Asisten Program Edupreneur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, September 2015–Desember 2015
8. Associate Marketing Komunikasi PT Sinergi Edukasi Indonesia, Januari–Maret 2016
9.   Sekretaris Umum Yayasan Pengembangan Insani Januari, 2015–2018
10.Content Writer arsip.co, 2018
11.Content Writer www.gerakbareng.org, Maret-April 2020.

Kompetisi yang pernah dikuti sebagai berikut”

1.   Public Relation
2.   Trainer dan Public Speaking
3.   Jurnalistik
4.   Marketing dan Komunikasi
5.   Parenting
6.   Bahasa Inggris
7.   Standart Operating Procedure Development
8.   Training Development (terutama bidang pendidikan)
9.   Menulis
10.Editing

DAN TRAINING YANG PERNAH DIIKUTI
1.   Teknik Coaching (oleh Yeti Widiati Suryani, Psikolog)
2.   Perkembangan Anak (oleh Yeti Widiati Suryani, Psikolog)
3.   Character Building (oleh Erie Sudewo, Social Enterpreneur)
4.   Social Enterpreneur Leader (oleh Erie Sudewo, Social Enterpreneur)
5.   DNA Sukses Mulia (oleh Jamil Azzaini, Motivator)
6.   Capacity Building Marketing & Communication (oleh Edo Lavika, Pakar Komunikasi)
7.   Teknik Marketing (oleh Tung Desem Waringin, Pakar Marketing)
8.   Sukses Dengan Karakter Pancasila (oleh Zaim Uchrowi, Motivator)
9.   NLP Training (oleh Kartiko Adi Pramono, Professional Coach)
10. Menulis Kreatif (oleh Sofie Beatrix, Penulis dan Editor)
11. Teknik Menulis Berita (oleh Arys Hilman, Wartawan Senior Republika)
12.  Mencapai Editor Kompeten (oleh Yopi Sartika, Penulis dan Editor Profesional)

AKTIVITAS SAAT INI
1.   Fulltime Mother
2.   Content Writer
3.   Copy Writer
4.   Ghost Writer
5.   Freelance Editor

PENGALAMAN EDITING BUKU dapat dibaca secara lengkap dilink berikut:


PENGALAMAN EDITING BUKU BAIK YANG SUDAH JADI MAUPUN DALAM PROSES SBB :
1.    Multimedia Interaktif
2.    Tiga Kunci Fundraising
3.    Chakae, Gadis Baik
4.    Bukan Sekedar Mendisplay
5.    Ayo Gerak Bareng
6.    Berani Nikah Muda?
7.    Sekolah Langit
8.    Guru Terbaik dengan Karya Terbaik
9.    Geliat KOMED 9
10.  Berdaya dari Ruang Maya
11.  Berdaya dari Ruang Maya 2

Berikut adalah penuturan dari narasumber:

Ibu Siska membukanya dengan membuka salam. Ibu Siska di dalam pelajarannya akan berdiskusi dan memberikan gambaran secara umum tentang Ragam tulisan Non Fiksi seperti slide dibawah.


Selanjutnya ibu Siska memperkenalkan diri seperti CV tersebut diatas.



Ibu Siska memulai dengan pertanyaan mengapa menulis. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Sebagai knowledge management, Ibu siska sering mengunjungi blog peserta. Knowledge management (mengelola pengetahuan) di perusahaan sangatlah mahal, mengelola pengetahuan kita seperti kita melegalisasikan dari gagasan kita agar paten. Mematenkan gagasan kita dalam sebuah tulisan. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang memiliki gagasan yang bagus dan didengar oleh orang lain maka ide ini bisa ditulis oleh orang lain dan dipatenkan sehingga dianggap milik dia. Maka orang yang memiliki gagasan asli tidak dapat membantahnya karena dia tidak menuliskan sebagai karya pribadinya.




Ibu Siska selanjutnya menjelaskan tentang pengertian nonfiksi seperti tersebut dalam slide dibawah. Menurut KBBI, non fiksi adalah tulisan yang tidak bersifat fiksi, namun berdasarkan fakta atau kenyataan. Non fiksi juga berarti karya informatif, dimana penulis bertanggungjawab penuh atas kebenaran dan akurasi informasi yang disajikannya.


Kemudian ibu Siska membahas tentang Ragam non fiksi yang sangat banyak sekali, termasuk kamus dan encyclopedia. Namun dalam pelajaran ini akan mengambil yang ringan saja. Ragam Nonfiksi disebutkan dalam slide berikut yang terdiri dari : berita, esai, catatan perjalan, artikel informatif dan best practice.


Pembahasan yang pertama adalah Berita, yaitu cerita atau keterangn mengenai kejadian atau peristiwa hangat. Terdapat dua teknik menulis berita yaitu hard News dan Feature. Hard news menampilkan berita yang membahas poin-point nya saja dan tidak bertele-tele dengan bahasa lugas dan singkat. Sedangkan Feature merupakan artikel kreatif yang informatif dan menghibur. Dan biasanya bahasanya berbunga-bunga sehingga tidak to the point. Tulisan ini akan membawa pembacanya kepada cerita yang disajikannya. Secara ringkas dapat dilihat di slide dibawah.


Berikut adalah contoh Hard News yang ditulis sendiri oleh ibu Siska:

Berikutnya adalah contoh Feature tentang salah satu relawan di gerak bareng.
Ragam nonfiksi kedua adalah Esai, yaitu karangan prosa yang membahas masalah sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya.  Dan hal ini sering disebut dengan opini.

Dibawah ini adalah contoh dari tulisan esai yang pernah diposting di Kompasiana dengan 1000 lebih pembaca, tentang film India yang sempat menjadi headline dengan judul " Every Child is special". Cerita tersebut diambil sebagai lesson learn dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.


Ragam nonfiksi berikutnya yang dapat diproduksi dengan mudah yaitu Catatan Perjalan. Tulisan tentang proses sebuah perjalanan atau ulasan tentang apa yang ditemui dalam perjalanan  tersebut, dapat berupa ulasan tentang tempat atau lokasi yang dikunjungi, budaya daerah dan makanan khasnya.

Ibu Siska memberikan contoh tentang Catatan perjalanan dari salah seorang teman ibu Siska. Juga dari hipwee tentang traveling.

Dan inilah link nya: https://wiediesta.wordpress.com/2019/12/07/arigato-tokyo/


Ragam nonfiksi berikutnya adalah Artikel informatif yaitu tulisan yang berisi informasi tentang suatu hal yang bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca. Isinya murni informasi. Dalam bahasa populer sering disebut "artike feature". Contohnya Lenovo. Maka diceritakan kelebihan dari perangkat tersebut. 

Berikut contoh tentang artikel informatif bersama gerak bareng tentang relawan.

Ragam nonfiksi yang terakhir adalah Best Practice, yaitu tulisan tentang pengalaman terbaik dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Biasanya dibuat oleh para pendidik atau mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan. Selain sebagai lesson study, produk tulisan best practice dapat juga menjadi masukan bagi pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan.


Berikut adalah contoh buku Best Practice.




Demikian pembahasan dari ibu Siska, kemudian ibu Siska memberikan quote seperti tersebut dibawah, "

Apresiasi kepada seluruh peserta untuk memulai sejarah untuk menuliskannya dalam blog, sedang ibu Siska belum memiliki blog tersebut.



Ini tambahan info dari ibu Siska
"Sedikit pemberitahuan untuk Teman-teman sekalian, saat ini saya dan rekan saya sedang mempersiapkan buku antologi tentang pendidikan di masa pandemi. Rencananya kami akan mengundang kolaborasi kepada para guru dan orang tua. Saya berharap Guru-guru Hebat di sini bisa menjadi kontributor yaa... Nanti jika sudah siap segala sesuatunya, saya akan share detailnya seperti apa di grup ini ya."

Demikian sharing ilmu dari ibu Siska, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab.

SESI TANYA JAWAB

P – Mengapa ibu tidak menulis di blog?

J - Pertama, alhamdulillah sampai saat ini masih banyak yang order jasa penulisan maupun editing Bu, sehingga waktu saya saat ini terpakai untuk itu dulu. Jujur sudah cukup lama saya tidak menulis untuk diri saya sendiri, semoga segera bisa ya... mohon doanya.
Kedua, saya lebih memilih platform forum  seperti Kompasiana (walaupun akun saya sudah lama nggak aktif juga karena alasan pertama tadi), karena kemungkinannya lebih besar untuk tulisan saya terbaca oleh orang lain.

P - apa yang menjadi motivasi ibu dalam menulis?

J - Pertama, karena saya senang menulis. Kedua, mengaktifkan otak saya.

P - Nama: Nanik Yuliani, Asal Mataram. Salam kenal mbak Siska maaf ibu panggil mbak Siska seusia dengan anak pertama saya.
Tulisan mbak Siska begitu bermutu. Apa langkah langkah atau persiapan mbak Siska saat akan membuat sebuah tulisan. Terimakasih.

J - Wah masyaAllah... Halo Ibu Nanik... Terima kasih atas pertanyaannya.
Yang paling pertama saya lakukan adalah mengeluarkan apa yang berseliweran di pikiran saya Bu. Misalnya saya akan menulis tentang virus corona, maka semua yang saya pikirkan tentang itu saya tulis dulu. Biasanya saya menggunakan mind mapping sederhana untuk itu.

Hal ini saya lakukan agar ketika saya menulis nanti saya tidak "tersesat" dan tidak ada informasi yang ingin saya sampaikan kemudian terlewat saya tuliskan. Pada dasarnya di sini saya sedang membuat kerangka tulisan, hanya dalam bentuk sangat sederhana dan "kasaran".

Setelah semua isi pikiran saya keluarkan, lalu saya susun, mana yang akan saya letakkan di bagian pembuka, tengah, dan penutup tulisan.

Setelah semua selesai saya tulis, kemudian saya mengendapkan dulu tulisan itu. Minimal 15 menit saja. Tujuan mengendapkan ini adalah untuk mengistirahatkan otak.

Kemudian, saya baca lagi tulisan saya. Biasanya setelah otak lebih jernih, maka akan lebih teliti saat membaca ulang ini. Jika ada salah ketik, atau letak yang tidak pas, bisa kita perbaiki. Nah di sini juga saya melakukan "self editing" atau mengedit sendiri. Kesalahan-kesalahan dalam tulisan tadi bisa saya revisi terlebih dahulu.

Setelah semua dirasa oke, barulah saya setor tulisan saya ke editor (jika itu tulisan pesanan), atau saya posting jika tulisannya untuk kepentingan saya pribadi.
Demikian kiranya Ibu.

P - Assalamu'alaikum. Selamat Malam Bu Siska, Saya Mardiyanto dari Kapuas, kebetulan sama2 berasal dari kota bersinar, yang ingin saya tanyakan Apakah tips atau kiat-kiat untuk untuk menulis Fiksi. Terima kasih. 

J - Wa'alaykumsalam Pak Mardiyanto. Wah tebih nggih Pak, merantaunipun, dugi Kapuas.
Tentang menulis fiksi, pertama, perlu banyak membaca karya fiksi juga untuk memicu otak kita berimajinasi dan membangun cerita yang menarik. 

Terkadang saat hendak menulis fiksi kita ingin menyajikan konflik yang menarik agar pembaca bisa menikmati karya kita. Nah, saking ngêbêt-nya untuk itu, kita suka berpikir jauh dan mengawang-awang, akhirnya kadang tersesat.

Lho, tersesat piye Mbak? Maksudnya tersesat pada konflik yang kita tidak pahami. Nah, tips berikutnya adalah, ambil konflik dari keseharian kita dan hal-hal yang dekat dengan kita. Misal, saya seorang ibu rumah tangga, maka jalan cerita yang saya bangun, konfliknya, ya tidak jauh dari kehidupan berumah tangga... hehehe...

Pernah sekali waktu saya menulis tentang sesuatu yang saya kurang pahami. Saya juga tidak pernah terlibat dalam aktivitas yang saya angkat itu. Akhirnya, cerita yang saya buat jadi "garing" .

Bapak suka menulis fiksi ya? Monggo mampir ke halaman saya Pak https://www.storial.co/book/mencari-bahagia/
Tulisan Bapak (dan Teman-teman sekalian) juga bisa diposting di sana lho 😁 Bisa belajar juga dari penulis-penulis kawakan di sana.

P - Selamat malam Ibu Siska, Perkenalkan saya ibu Aning S dari Pati ...gel 12
Apakah artikel informatif itu bisa mendapatkan nilai dalam PAK (Penetapan Angka Kredit ibu) jika artikelnya tidak sesuai mapel, dan dimana artikel itu bisa dipublikasikan?
Terima kasih.

J - Selamat malam Bu Aning, terima kasih atas pertanyaannya.
Dalam artikel informatif biasanya kita menyampaikan informasi atau pengetahuan kepada khalayak tentang suatu hal. Misal bagaimana cara mengajar dengan menyenangkan.
Menurut saya, seharusnya bisa dapat nilai dalam PAK, Bu. Karena apa? Karena melalui tulisan itu Ibu bisa mengarahkan khalayak tentang sesuatu. Ibu juga bisa menjawab permasalahan khalayak terhadap sesuatu. Misal, saya membutuhkan informasi tentang bagaimana mendampingi anak belajar. Kemudian saya googling, eh saya nemu tulisan Ibu tentang itu. Jika saya praktikkan dan kemudian berhasil, maka itu berarti Ibu sudah membantu saya menyelesaikan masalah saya tersebut.

Kemudian di mana bisa dipublikasikan, saat ini media massa mainstream (Kompas, Republika, Tempo, dan lain-lain) sudah membuat wadah jurnalisme warga, seperti Kompasiana (milik Kompas). Di sana kita bisa menulis tentang apa saja, selam itu baik dan informatif. Cara mendaftarnya pun mudah dan gratis. Nah Ibu bisa buat akun di sana, kemudian Ibu tuliskan artikel informatif yang Ibu tulis. Kemungkinannya besar untuk dibaca khalayak jika topik yang Ibu angkat bersifat umum dan informatif.

Ini alamatnya kompasiana ya Bu: www.kompasiana.com

Sampai saat ini sih  Kompasiana memang yang paling besar dibandingkan forum yang lain. Demikian Ibu Aning.

P - Assalamualaikum mbak Siska saya edi Syahputra.H dari Aceh sungguh mantap tulisan nya. Setelah saya mengikuti kuliah dari buk Siska Distiana yang menarik bagi saya adalah tulisan tentang berita, yang ingin saya tanyakan bagaimana menulis berita yang baik.

J - Wa'alaykumsalam Pak Edi. Wah, saya ingin sekali bisa berkunjung ke Aceh lagi.. Bumi Aceh sangat mengesankan.

Terima kasih atas pertanyaannya Pak. Bagaimana menulis berita yang baik? Pertama harus terpenuhi dulu semua unsur beritanya. Apa itu? 5W+1H (Who, What, When, Where, Why, dan How).

Jadi sebuah berita harus bisa menceritakan siapa melakukan apa, kapan dan di mana dilakukannya, mengapa melakukan itu, dan bagaimana ia melakukannya.
Kedua, ada nilai aktualitas dan faktualitas dalam berita. Aktualitas itu kecepatan berita ditayangkan. Jadi makin cepat sebuah peristiwa diangkat menjadi berita dan ditayangkan/dimuat, akan lebih diminati khalayak.

Kemudian faktualitas, ini bicara tentang kebenaran. Jadi sebuah berita harus benar-benar berdasarkan peristiwa nyata. Makin dekat sebuah berita dengan keseharian khalayak, biasanya akan makin diminati. Misal, Pak Edi menuliskan berita tentang seorang guru biologi di Aceh yang berhasil menemukan formulasi vaksin corona. Nah, Rekan-rekan guru lain pastilah akan tertarik untuk membaca itu daripada membaca tentang fashion show yang digelar di New York .

Terakhir, kemampuan menulis kita berbanding lurus dengan kemampuan membaca, saya selalu percaya itu. Jadi, makin banyak Bapak membaca berita, maka Bapak akan lebih mudah memproduksi diksi kata yang menarik pada naskah berita Bapak.
Demikian kiranya, Pak Edi.

P - Slmt malam ibu Siska,penulis bertanggungjawab penuh atas kebenaran informasi,yg saya tanyakan, apakah perlu surat keterangan untuk mempertanggung jawabkan kebenaran itu,kalau perlu bagaimana proses nya? Trims salam dari ibu Lusia.

J - Halo Ibu Lusia, selamat malam. Terima kasih atas pertanyaannya.
Tentang surat keterangan, jika tidak ada yang menggugat tidak ada surat keterangan pun tak mengapa Bu.

Surat keterangan kan biasanya diperlukan untuk ranah hukum ya. Jadi, jika tulisan kita dapat diterima dengan baik, tidak disertai surat keterangan pun tak mengapa.
Lalu bagaimana cara membuat surat keterangan tersebut? Humm... jujur saya belum punya pengalaman juga tentang ini. Namun sepertinya bisa kita cari tahu dari institusi pemerintah yang menangani Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), ada Dirjen Kekayaan Intelektual https://www.dgip.go.id/

P - Assalamu alaikum Bu Siska, saya Bu Iin Kediri.  Pencapaian yg luar biasa, berbagai tulisan dihasilkan oleh Bu Siska.  Bisa minta tips awal mulai menulis kapan dan siapa yg membentuk Bu Siska bisa seperti ini.  Dan bagaimana peran sekolah dalam mengasah kemampuan Bu Siska. Ini untuk kita terapkan ke anak dan siswa kita. Terima kasih.

J - Wa'alaykumsalam Ibu Iin. Dari Kediri ya Bu? Dekat ndak dengan Kampung Inggris Pare Bu?
Saya mulai menulis sejak SD, Bu. Namun ya hanya untuk tugas sekolah saja... hehehehe.. Saya dulu sangat suka pelajaran mengarang di Bahasa Indonesia. Mengapa bisa begitu? Karena saya dari kecil suka baca, Majalah Bobo terutama. 

Yang membentuk saya menjadi seperti itu, Allah, Bu. Alhamdulillah saya dikaruniai bakat olah kata sejak saya kecil. Kemudian Ibu saya tentu saja. Sejak kecil saya memang suka membaca. Apa saja saya baca. Lalu ada peran Mbah Putri (Nenek) saya yang setiap malam mendongeng untuk saya, jadi otak saya biasa berimajinasi.

Nah bagaimana peran sekolah saya? Hehehe, agak disayangkan di sini Bu. Sekolah saya kurang mewadahi siswanya dalam bidang tulis menulis ini. Jadi bakat menulis saya ya saya alirkan sendiri. Lewat buku diary, surat-suratan sama teman, lewat pelajaran mengarang, dan sebagainya.

Nah saran saya untuk Ibu. Coba bidik siswa-siswi yang memiliki bakat seperti saya. Kemudian Ibu buatkan salurannya. Misal, berikan ruang mereka berkreasi di Mading atau Majalah Dinding. Buat forum penulis, agar bisa saling ngobrol dan update kemampuan menulis.

Jika Ibu ingin seriusi hal ini, yuk kita diskusi lebih lanjut. Saya siap bantu.

P - Assalamualaikum wr wb...Terimakasih byk atas kesediaan Bu Siska berbagi pengalaman dg kami. Ijinkan saya bertanya:

1.Dari ke 5 jenis tulisan non fiksi yg Bu Siska sampaikan di awal, yg mana kira2 yg paling mudah utk ditulis bg kami sdg bljar menulis.

2.Apakah berita itu hrs sllu berisi kjdian/peristiwa ? Ya/tdk, tolong dijelaskan lbh lnjut.

3.Kami sbgai peserta yg sdg bljar menulis, tentu suatu saat ingin menulis artikel dll di Kompasiana/gurusiana. Adakah persyaratan & bgmn caranya spy kami bs menulis di Kompasiana/gurusiana ? Terimakasih. Dari Sunaryo, Berau, Gelb.11.

J - Wa'alaykumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,
Halo Pak Sunaryo, terima kasih atas pertanyaannya.

1. Menurut saya yang paling mudah adalah Catatan Perjalanan, Pak. Tidak ada format baku untuk itu. Penulis bebas menuliskan apa saja yang ia rasakan, alami, atau temukan selama di jalan.

Untuk belajar menulis, perjalanan ini bisa luas sebenarnya Pak, tidak harus kita jalan-jalan dulu. Bapak juga bisa menuliskan "perjalanan" hidup, perjalanan karir, dan sebagainya. Contoh Catatan Perjalanan yang benar-benar jalan-jalan bisa menjadi pemandu Bapak untuk menuliskan "perjalanan" yang tadi saya sebutkan.

Yang kedua, sebenarnya Best Practice (BP) karena kita menuliskan apa yang kita lakukan sehari-hari. Hanya saja BP harus mengangkat masalah, bagaimana kita menyelesaikannya, dan bagaimana hasilnya.

2. Ya, berita harus mengangkat peristiwa Pak. Karena berita ada unsur aktualitas dan faktualitas. Aktualitas berarti kecepatan berita tayang/muat, dan faktualitas berarti kebenaran atau kenyataan.

Juga, berita harus berunsur 5W+1H (Who, What, When, Where, Why, dan How), yaitu siapa, melakukan apa, kapan dan di mana melakukannya, mengapa ia melakukan itu, dan bagaimana melakukannya. Karena itu, harus ada peristiwa yang diangkat.
3. Untuk masuk ke kompasiana sangat mudah Pak. Pertama masuk ke webnya dulu www.kompasiana.com. Kemudian nanti ada opsi daftar atau masuk (sign up atau login), tinggal klik dan ikuti instruksi.

Saran saya, jika belum punya email, sebaiknya buat dulu karena kompasiana membutuhkan akun email kita untuk mengirim pemberitahuan/notifikasi. Selanjutnya jika sudah terdaftar, tinggal masukkan tulisan kita Pak. Sejauh yang saya tahu, tema di Kompasiana ada cukup banyak yang bisa diwadahi. Paling yang dilarang hanya yang berunsur SARA, provokatif, mengandung kekerasan, atau hal2 normatif seperti itu.
Dicoba dulu saja Pak. Insya Allah mudah kok mengoperasikan akun kita di Kompasiana.
Demikian Pak Sunaryo.

P - Saya Ida F gel. 7..tanya Bu Siska Anda msh belia tp pengalaman +talentany  begitu matang. Kiat2 yg continue apa yg Anda lakukan shg anda bs spt skrg ini.

J - Halo Ibu Ida, terima kasih atas pertanyaannya.
Waduh, saya bingung ini jawabnya.. hehehe...
Pertama saya suka baca Bu, terutama bacaan fiksi ya. Untuk menulis sendiri, Allah yang menunjukkan jalan. Alhamdulillah saya diterima berkarya di Dompet Dhuafa Pendidikan, di bagian Marketing Komunikasi (kebetulan studi saya juga Ilmu Komunikasi). Salah satu yang menjadi tanggung jawab saya saat itu adalah mengelola website, sehingga saya harus menulis. Dari sana kemudian berkembang. Awalnya menulis berita, kemudian karena di kantor kami sering sekali berdiskusi jadi saya tertantang menulis opini. Lalu iseng nulis fiksi juga, meski baru dapat 2 cerpen sejauh ini sih Bu.. hehehee... Begitu seterusnya, hingga setelah resign Allah bukakan jalan untuk saya jadi editor freelance sambil ngasuh anak-anak di rumah. Alhamdulillah. Demikian kiranya Ibu.

P - Nama :sri budiarti, Dari : Bantul,  Jogja
Pertanyaan : yth Ibu Siska sy pernah mencoba menjadi content writer,  tp karena dikejar deadline saya berhenti,  sudah lama saya ingin menjadi content writer.
 - Bagaimana (kiat apa saja yang harus dimiliki penulis pemula, agar bisa menjadi  content writer seperti ibu Siska, terima kasih atas penjelasannya.

J - Sugeng dalu Bu Sri . Terima kasih atas pertanyaan Ibu.. Wah, bagus sekali Ibu... TOSS ah, kita senasib.

Saya juga saat ini sedang rehat jadi content writer Bu. Kemarin sempat ambruk, sebulan Ramadhan saya sakit. Jadi untuk sementara waktu sama suami dilarang menerima kerjaan content writer (CW) dulu.

Memang tantangan kerja CW di situ ya Bu, berkejaran dengan deadline. Namun pelajaran berharga yang saya dapatkan dari sana adalah konsistensi ya Bu. Konsistensi menulis dan mengatur waktu.

Jika kita bisa atur setiap hari menulis 1-2 artikel, saya kira tidak akan masalah. Ini yang masih menjadi tantangan saya sih memang. Saya belum lulus di ujian manajemen waktu ini Bu. Demikian kiranya Bu Sri.

P - Assalamu'alaikum wr. wb. Salam kenal bu, saya bu Titin dr SDIT Annaba Subang
Ijin bertanya :

1.Kesalahan apa saja yg sering ibu temukan ketika mengedit BP?
2.Bagaimana tips ibu dalam memanajemen waktu ketika menulis dgn pekerjaan ibu lainnya? Terimakasih.

J - Wa'alaykumsalam warrahmatullahi wabarakatuh, Bu Titin. Terima kasih atas pertanyaannya...

1. Pertama dan paling banyak terjadi adalah kesalahan teknis penulisan (kata tidak baku, tidak sesuai PUEBI, salah ketik, dan sebagainya). Kedua, kesalahan substansial biasanya berkisar antara kurangnya penjabaran pada "how to"-nya alias bagaimana cara menyelesaikan permasalahannya. Atau kurang menjabarkan metode yang digunakan.

2. Ehehehhee... saya masih merasa belum lulus ujian manajemen waktu ini Bu. Jadi masih berkejar-kejaran antara ngurus rumah, ngasuh anak, sama kerja. Saya sudah coba buatkan jadwal dan pembagian waktu di ketiga urusan itu, tapi eksekusinya belum oke ini Bu. Kebetulan saya masih punya balita (3 tahun), jadi jadwal saya masih suka berubah-ubah tergantung mood-nya si Adik ini. Demikian kiranya Ibu.

P - Dari beragam tulisan non fiksi. Biasanya org lebih suka yg mana?
J - Saya belum pernah secara khusus mengkaji tentang ini sih Pak.. jadi jawaban saya masih menurut pendapat saya ya Pak.

Sebenarnya tergantung kebutuhan ya Pak. Kebutuhan orang kan berubah-ubah.

Jika mereka butuh hiburan, Catatan Perjalanan pilihannya karena paling ringan "bobot" tulisannya. Aktivitasnya juga paling menyenangkan, jalan-jalan.
Saat ingin tahu kondisi Indonesia dan dunia saat ini, tentu orang-orang akan baca berita.
Ketika galau membutuhkan referensi atau informasi tentang sesuatu, mereka akan googling dan mencari artikel informatif. Pas punya ide atau gagasan terhadap sesuatu, dan ingin mencari pendukung, biasanya orang akan baca esai-esai terkait.

Terakhir ketika berhasil menyelesaikan sebuah permasalahan, orang pasti ingin berbagi dan mencari-cari contoh Best Practice. Demikian Pak.

P - Assalamualaikum Wr Wb, Bu Siska.
Saya Ibu Yani dr Yogya. Ketika menulis, sy sdh menulis poin2 yg akan sy tulis. Namun di tengah menulis, sy kesulitan dlm mengembangkannya (tdk bs banyak). Bgmn agar sy bisa mengembangkan tulisan dgn mudah?
J – Wa'alaykumsalam warrahmatullahi wabarakatuh, matur sembah nuwun Bu Yani atas pertanyaannya.

Pertanyaan Ibu beberapa kali pernah saya alami juga. Kalau dalam dunia kepenulisan ini istilahnya writer block.

Ibu bisa googling, ada banyak sekali kiat yang dituliskan para penulis kawakan tentang bagaimana mengatasi itu.

Kalau saya, biasanya saya berhenti sejenak dan melakukan hal lain yang saya suka. Kebetulan saya suka nyanyi . Jadi saya rehat sebentar untuk nyanyi. Biasanya setelah itu pikiran jadi jernih kembali. Tilawah Quran juga sangat membantu menstimulasi otak untuk bekerja lebih baik, Bu.. Bisa dicoba juga.

Setelah pikiran jernih  kemudian coba urai lagi ide yang mau ditulis tadi. Menggunakan peta pikiran atau mind mapping sangat membantu. Tulis saja semua yang ada di pikiran kita dan semua yang berkaitan dengan ide tulisan kita tadi. Nah dari sana pengembangan tulisan bisa dilakukan.

Terakhir, kemampuan menulis kita berbanding lurus dengan kemampuan membaca. Makin banyak baca maka akan makin banyak juga kosa kata yang kita punya. Selain itu kita juga belajar bagaimana membangun tulisan/karya. Dengan demikian kita akan lebih lancar menulis. Demikian Ibu, semoga terjawab ya.

P - Assalamualaikum... Ibu , sy Esti dari Babel mau tanya tehnik penulisan Essay  itu yg bgmn ya bu... Ada ngk cthnya bu... Tks.

J – Wa'alaykumsalam Bu Esti, terima kasih atas pertanyaannya. Esai itu sama seperti opini di media massa. Bu Esti bisa coba lihat di koran pada kolom opini.

Ketika mau menulis esai, kita tentukan dulu topik apa yang mau kita tanggapi. Kemudian uraikan tanggapan kita seperti apa. Terakhir cari referensi yang terkait jika diperlukan.

Misal, Bu Esti ingin menanggapi tentang kasus positif corona di Indonesia yang terus meningkat. Pertama Ibu kumpulkan dulu data tentang itu, misal jumlahnya berapa, kenaikannya berapa per hari, dan seterusnya.

Kedua, tuliskan apa gagasan Ibu terhadap itu, misal Ibu punya ide tentang bagaimana caranya mengurangi penyebaran corona. Nah uraikan satu per satu, misal pertama di rumah aja, kedua rajin cuci tangan, dan seterusnya. Jangan lupa masing-masing poin dijelaskan.

Ketiga, jika ada referensi untuk mendukung ide Ibu, akan lebih baik. Misal, rajin cuci tangan bisa mencegah penyebaran corona, adakah teori atau pendapat ahli yang menguatkan itu. Demikian Bu Esti.

Contoh esai yang pernah saya tulis nanti saya lampirkan lagi di bawah sini ya Bu. Di internet juga banyak, Ibu bisa googling.

P - Assaamulalaikum bu Siska. Saya Aam Nurhasanah dari Lebak Banten. Apakah hal yang harus dilakukan saat ingin merubah resume menjadi tampilan sebuah buku??? Mohon pencerahan.

J - Oh baik, jadi resume kulwap ya Bu... 

Kebetulan saya sudah 2 kali diminta oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) untuk membantu membukukan  kulwap mereka. Namun bukunya dibuat digital (bentuk e-book).

Sebentar saya carikan link e-book-nya dulu ya Bu.
Kedua buku ini adalah kumpulan materi kulwap dan diskusinya. Pada setiap buku itu, antarmaterinya juga tidak nyambung Bu, karena beda-beda isinya. Tidak mengapa menurut saya. Lalu nyambunginnya gimana Mbak? Saya manfaatkan judul bukunya Bu. Jadi saya buatkan judulnya yang mewakili aktivitas kulwapnya.  Demikian kiranya Bu Aam.

O ya, bagi Teman-teman yang penasaran tentang bagaimana mengirimkan artikel ke media massa, di buku ini ada ulasannya. Ilmunya langsung oleh jurnalis Republika. Silakan bisa dicoba trik-triknya. Semoga berhasil muat ya Teman-teman.

P - Saya Ika Elis Marice dr LUMAJANG Jawa Timur....

Sungguh termotivasi sekali dengan tulisan bu Siska... Pertanyaan saya:
1. Bagaimana cara mnjadiikan tulisan kita menarik di mata orang lain, terutama bagi mereka yg jarang membaca?

2. Upaya apa yg bisa kita lakukan untuk bisa menerbitkan tulisan kita di media masaa/cetak?

3. Buku yg td dijanjikan untuk  dibagi kepada kami, pa akan dkirim k alamat kami masing2 y bu? Mkasih byk sebelumnya.

J – Halo Bu Ika, terima kasih atas pertanyaannya.

1. Humm... ini pertanyaannya agak sulit ya. Pertama, seperti peribahasa, "Alah bisa karena biasa", jadi biasakan diri menulis dulu. Lancarkan tulisan kita, ndak papa awal-awal nggak ada yang baca. Yang penting berlatih menulis dulu.

Mengapa demikian? Karena tulisan mereka yang terbiasa menulis (dan membaca) dengan sendirinya akan menarik, dibanding mereka yang "coba-coba" menulis kemudian berupaya bombastis untuk menarik pembaca.

Setelah terbiasa, baru pikirkan bagaimana caranya menarik orang untuk membaca tulisan kita. Saya pribadi, saat hendak membaca sebuah karya, pasti yang dilihat lebih dulu adalah judulnya kemudian paragraf pertama atau pembukanya.

Judul yang menarik tentunya yang membuat penasaran. Contoh, saya pernah membuat berita untuk Yayasan Gerak Bareng, isinya sebenarnya laporan kalau yayasan tersebut sudah mendirikan bilik disinfektan. Namun yang membedakan, mereka berikan probiotik di cairan disinfektannya. Saya buat judulnya "Ada Probiotik di Bilik Disinfektan Gerak Bareng", dan berita ini jadi yang paling banyak dibaca.

Ibarat ungkapan, "Dari mata turun ke hati", dari judul turun ke paragraf pertama. Jika paragraf pertama ini "garing", sudah bisa dipastikan pembaca akan meninggalkan tulisan kita. Maka kita harus bisa sajikan apa saja sih hal menarik atau yang berbeda dari tulisan kita. Tuliskan secara ringkas saja, karena nanti akan dieksplorasi lebih banyak di paragraf inti.

2. Sama seperti jawaban nomor 1 di atas ya Bu. Banyak baca, banyak berlatih menulis, dan tanpa henti mengirimkan karya ke media massa, itu tips yang saya dapat dari jurnalis Republika.

Hanya saja perlu dipahami bahwa media cetak itu ruangnya terbatas. Satu edisi hanya bisa menampung 2-4 opini. Maka kita harus sabar ya Bu, kirim saja terus. 

Hal yang lain adalah kita tulis apa yang kita kuasai. Jika Ibu mahir urusan pendidikan, jangan nulis tentang peternakan. Karena redaksi pasti melihat biodata kita. Kalau yang kita tulis sesuai bidangnya dengan pekerjaan atau latar belakang studi kita, kemungkinan besar akan dimuat. Plus, jika tulisannya bagus kualitasnya.

3. Waduh, mohon maaf Bu, saya tidak menjanjikan membagi buku. Yang mana ya Bu informasinya? Saya jadi bingung ini. Demikian kiranya Bu Ika.

P – Assalamualaikum, Saya Santi dari Jayapura. Bu Siska, adakah perbedaan antara artikel yg ditulis di media cetak seperti koranmajalah dll dengan artikel yg di jurnal juga artikel yg di media elektronik? Bagaiman cara membuat artikel yg baik agar bisa di muat dan dinikmati pembaca dg baik.

J - Wa'alaykumsalam Bu Santi. Terima kasih atas pertanyaannya.
Untuk artikel di media massa baik cetak maupun elektronik, biasanya sama Bu. Kalau di jurnal berbeda karena jurnal biasanya isinya hasil penelitian.
Cara membuat artikel yang baik agar bisa dimuat dan dinikmati pembaca, sudah saya jawab di pertanyaan Ibu Ika Lumajang ya..


Mohon Om @Wijaya lab Unj atau Bu @Ibu Fatimah kiranya bisa menyalinnya untuk Bu Santi. Demikian kiranya Bu Santi ya.

Demikian yang dapat saya tuliskan kembali pelajaran dari ibu Siska. 

Ditulis kembali : Nani Kusmiyati

6 comments:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...