Friday, June 12, 2020

THE WRITER, SESI KE – 4, "DIGITAL COPYWRITING". DENGAN OM BUD


Narasumber : Om Budiman Hakim
Moderator : Kang Asep
Penyelenggara Program : Kak Devina

Teman-teman seperguruan the Writers, Group Menulis ke 1-12, siswaku yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik,.. keponakanku, brothers and sisters di seantero jagad raya,..terutama untuk anakku dan suamiku yang mungkin belum melirik kuliah yang kudapat semalam, dengan penuh perjuangan aku menyalin, karena aku takut lupa untuk segera mempraktekkannya. Rasa kantuk yang tak tertahankan, hingga Hp jatuh, aku sudah tak sadarkan diri karena sedang bermimpi menulis dan menulis,.. supaya tidak penasaran, yuk kita simak pelajaran yang saya dapat tadi malam: Inilah penuturan Om Bud setelah dibuka salam oleh Kak Devina yang sabar dan baek sekali, Kang Asep yang kasep sebagai moderator, juga salam pembuka oleh Om Bud sendiri:

“Okay, malam ini kita masuk ke sesi 4 dan akan membahas topik tentang DIGITAL COPYWRITING.

Kenapa saya merasa perlu membahas masalah ini? Karena kehadiran digital telah merombak semua lini kehidupan. Dari budaya, tata nilai, cara berkomunikasi sampai bahasa termasuk tentu saja copywriting di dalamnya.
Itu sebabnya saya secara khusus memilih topik ini karena pengaruhnya sangat penting. Distuptionnya udah gila.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia diberikan dunia alternatif untuk beraktivitas. Dunia itu disebut dengan Dunia Digital. Hal yang gak pernah terpikirkan sebelumnya, sekonyong-konyong aktivitas manusia berpindah tempat dari dunia nyata ke dunia maya.

Dan virus Corona semakin memperkuat eksistensi dunia maya. Semua orang langsung gandrung karena media ini mampu membuat orang untuk berinteraksi secara masif dan cepat. Semua orang berpaling ke dunia ini. Eksodusnya kegiatan manusia ke dunia digital membuat sebagian besar kegiatan di dunia nyata ditinggalkan. Akibatnya cukup mengerikan: Berbagai toko-toko besar tutup. 

Banyak perusahaan besar gulung tikar. Brand-brand bergengsi seperti Nokia bangkrut. Bahkan presdir Nokia dalam pidato penutupan perusahaan Nokia mengatakan, "We didn't do anything wrong but we are bankrupt!" Gelombang Tsunami berupa disruption yang diakibatkan oleh dunia digital ini benar-benar telah memporak-porandakan peradaban. Benar yang dikatakan ayah saya bahwa.... “Punahnya Dinosaurus membuktikan bahwa bukan yang kuat yang bisa bertahan. Yang bisa bertahan adalah yang mampu beradaptasi.” Konsekuensi yang harus dihadapi adalah gaya hidup dan attitude penduduk dunia tiba-tiba berubah drastis. Sekarang ini eksistensi manusia modern diukur dari pergaulannya di dunia digital. Semua orang pengen eksis. Itu sebabnya mereka suka bikin foto selfie yang aneh2 dan berbahaya. Supaya? Yak betul! Biar eksis. Mereka bikin vlog, bikin web series chanel di Youtube, pamer kekayaan di Instagram. Pokoknya apapun dilakukan demi eksistensi diri di dunia digital. Mereka sering bilang: Kalo gak narsis, gak eksis! Pengakuan eksistensi diri di dunia digital ini ternyata sangat penting buat netizen. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kata bijak yang berbunyi. 

“If you type your name in Google and you don’t find your name, technically you’re dead.” Jadi kalo nama kita tidak ditemukan di search engine, artinya keberadaan kita dipertanyakan alias gak eksis. Hehehehe…. 

Dulu, public figure, artis, pejabat, dan semua orang-orang terkenal, keberadaannya tidak ubahnya seperti dewa-dewi. Mereka hidup di awan tanpa bisa terjamah oleh rakyat biasa. Tapi sekarang? Internet memaksa mereka turun dan berpijak di bumi. Semua mata mengintip kegiatan mereka detik demi detik. Sekecil apa pun kesalahan yang mereka buat, habislah mereka di-bully bahkan dilaporkan ke polisi sampai dijebloskan ke penjara. Bahkan artis Korea bernama Sjulli sampe bunuh diri gara-gara gak tahan dibully oleh netizen di Twitter. Sadis banget ya... Jadi kita harus bersyukur dan harus merasa beruntung bahwa kita-kita yang bukan orang terkenal hehehehe…. 

Seperti telah saya sebutkan di atas, keberadaan internet telah merombak perilaku manusia secara global. Media ini sangat efektif untuk menjangkau komunitas-komunitas yang kita tuju dengan biaya yang jauh lebih murah dan jauh lebih cepat. 


Efek yang ditimbulkan membuat penggunanya mampu melakukan interaksi yang sangat cepat dan intens. 

Begitu intens sehingga nature interaksinya pun menjelma seperti percakapan pada sesama teman.  Percakapan antara teman tentu saja menimbulkan efek lain lagi, yaitu tiba-tiba percakapan dengan BAHASA FORMAL TERSINGKIR. 

Kalo kita masih menemukan orang pake bahasa formal, itu pasti orang-orang tua. Hehehehehe.... 

Di media sosial orang lebih nyaman berbicara dengan bahasa yang lebih santai. Media online abal-abal langsung mendapat tempat di hati netizen karena mereka menggunakan bahasa yang sangat santai sampai bahasa alay. Bahkan mereka gak segan-segan menggunakan bahasa yang paling kotor sekalipun. Melihat fenomena yang terjadi, media-media online mainstream seperti Detik.com, Kompas.com, dan lain-lain, ikut banting setir dan menggunakan bahasa yang lebih santai. Tentu saja mereka gak ma kehilangan pelanggan. Mereka terpaksa melakukan hal tersebut untuk mendekatkan diri pada konsumen. Coba kalian perhatikan bahasa media online lalu bandingkan dengan media cetak dan elektronik yang menjadi core business mereka sebelumnya. 



TETIBA.... Percakapan dengan bahasa santai antara sesama teman di online begitu mengasyikkan dan menimbulkan efek baru lagi. 

Sekarang ini, seseorang menjadi sangat tergantung dan tak dapat terpisahkan dengan gadget-nya. Apalagi dengan munculnya aplikasi-aplikasi chatting seperti Line, Whatsapp, Telegram, dan lain-lain. Semua orang bisa berkomunikasi one on one atau masuk menjadi anggota sebuah group, entah itu group SD, SMP, SMA, kuliah, group arisan, sunatan, karaokean dan masih banyak lagi. Setiap menit dan setiap detik, handphone kita berbunyi karena ada notifikasi adanya sebuah pesan yang masuk. Pada dasarnya manusia itu takut sekali pada kesepian. Internet telah menjadi jawaban untuk menghadapi ketakutan itu. Dengan internet, setiap manusia merasa dirinya 24 jam FEEL CONNECTED dengan komunitas di mana mereka menjadi member-nya. Konon angka Insomniac (Penderita insomnia) meningkat drastis seiring dengan penemuan aplikasi-aplikasi digital. Coba kalian perhatikan, setiap kali meeting, semua orang tetap membagi perhatian pada gadget-nya. Duli kita bisa menegur mereka. Sekarang? Mereka bilang, "Lah? Gue lagi nyatet omongan lo, Bro!" Dua orang teman janjian ngopi bareng di kafe tapi realitanya mereka tetap sibuk dengan handphone-nya. Bahkan pas lagi Yasinan tiga-harian orang meninggal, semua tetep aja matanya ke arah Gadget. Alesannya, "Gue baca Yasin dari sini, Bro,"  

Gila, ya? Pokoknya orang zaman sekarang, begitu bangun tidur mereka langsung mencari smartphone-nya. Sepanjang hari mereka sibuk dengan gadget-nya, bahkan kadang ada yang masuk ke toilet sambil bawa-bawa HP. Siapa yang di sini ke WC bawa HP? 

Pokoknya mereka selalu ingin bersama HP-nya selama 24 jam. Satu fenomena yang lain terjadi, yaitu tiba-tiba ilmu copywriting naik pamornya. Kenapa demikian? Karena internet adalah media baru yang sangat menjanjikan untuk dijadikan peluang bisnis. Itu sebabnya, orang bebondong-bondong ingin berjualan di sana. Berjualannya gimana? Yak tentu saja SENJATA ANDALANNYA ADALAH ILMU COPYWRITING. Itu sebabnya sekonyong-konyong banyak tawaran workshop tentang copywriting. Saya penasaran banget! Pas saya daftar eh yang ngajar seumur hidup belom pernah jadi copywriter. Seumur hidup belom pernah kerja di biro iklan. Digital telah mewajibkan semua orang untuk harus menguasai copywriting. 

Fakta ini tentu saja sangat menguntungkan para copywriter kawakan. Copywriter-copywriter kawakan tersebut langsung mendapat banyak tawaran untuk mengemas penjualan dalam rangkaian kata yang indah. Namun apa yang terjadi? Boleh percaya boleh tidak ternyata para copywriter tersebut kerjaannya melempem. Brand-brand yang mereka tangani salesnya sama sekali tidak meningkat. Kok bisa gitu ya? Padahal dulu jago loh… Apa yang terjadi? Selidik punya selidik ternyata copywriting di TV, Koran, Radio, Billboard, Poster, Flyer dan lain-lain TIDAK SAMA dengan copywriting di internet. Sama sekali tidak sama. Bahkan BEDA PAKE BANGET! TV, Koran, Radio dll, biasa kita sebut dengan MEDIA SATU ARAH. Sedangkan INTERNET ADALAH MEDIA DUA ARAH. Keduanya tentu saja memiliki karakter yang berbeda. KARAKTER MEDIA 1 ARAH. TV, koran, majalah  dll., punya kecenderungan untuk memasukkan info sebanyak-banyaknya. 
Kenapa? Karena mereka tidak bisa berinteraksi dengan konsumennya. Ketiadaan sarana interaksi membuat mereka perlu memberikan informasi yang lengkap dalam mengirim pesan. 

Ketika Mobil Toyota memasang iklan di Kompas cetak, misalnya, mereka tidak berani membagi pesannya menjadi 2 bagian. Takutnya ketika pesan kedua dikirimkan, belum tentu yang membacanya pernah melihat pesan pertama. 

Hal yang sama akan terjadi pula pada pesan ketiga, keempat, dan seterusnya. Mereka tidak ingin target audience menerima pesan sepotong-sepotong. 

KARAKTER MEDIA 2 ARAH. 

Sarana interaktif pada media internet memungkinkan terjadi interaksi yang panjang dan hidup. Jejak digitalnya mudah sekali ditemukan. Jadi di media digital justru lebih efektif kalo kita memberikan info sepotong-sepotong. Yang harus diperhatikan adalah info tersebut harus dikemas sedemikian rupa sehingga mampu membangkitkan rasa ingin tau orang terhadap pesan itu. Rasa ingin tau itulah yang akan membuat terjadinya interaksi. Manfaatkanlah sarana interaktifnya seefektif mungkin sehingga netizen  semakin bernafsu untuk mengetahui info tersebut lebih banyak lagi. 

Okay sebelum kita masuk lebih jauh, sebelumnya kita perlu memahami Digital User Insight. 

DIGITAL USER INSIGHT. 

Banyak orang mengeluh, “Kenapa setiap saya posting sesuatu kok sedikit sekali yang ngeliat?” Mereka mempertanyakan hal itu karena postingan teman-temannya dikunjungi banyak visitor sampai ratusan bahkan ribuan. Apa yang salah dengan mereka? 

Yuk, kita bahas apa yang sebenernya terjadi. 

Perlu dipahami, sekali lagi  bahwa digital adalah media interaktif atau media dua arah. Media interaktif ini tentu saja karakternya berbeda dengan media satu arah seperti media cetak dan elektronik. 

Di media satu arah, kita memang perlu memasukkan seluruh informasi yang kita miliki. Kenapa? Karena konsumen tidak bisa memberi respons secara langsung. Sebaliknya, di media dua arah sangat memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung sehingga kita tidak perlu memasukkan semua info. 

Menarik perhatian netizen. 

Kalo mereka tertarik, pastilah mereka akan memberikan respons. Ketidaklengkapan info malahan akan membuat orang penasaran, sekaligus memberi ruang untuk berinteraksi. Artinya kita melakukan aksi sekaligus MEMBERI RUANG bagi orang lain UNTUK BEREAKSI. 

Ingat! Digital adalah media dua arah. Di media digital, tentunya setiap kali kita posting sesuatu, kita mengharapkan ada INTERAKSI dengan netizen. 

Hal inilah yang tidak dipahami oleh copywriter- copywriter kawakan karena mereka malas meng-Up Date diri. Mereka mengira bahwa pengalaman mereka sebagai copywriter puluhan tahun sudah cukup mumpuni untuk menangani brand apapun. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu copywriting juga sudah terdisrupt habis-habisan oleh teknologi digital. Ada seorang temen menulis status di FB dan dia menanyakan pada saya kenapa gak ada orang yang komen apalagi share. Yang nge-like Alhamdulillah ada satu orang. 

Berikut saya copas statusnya secara utuh tanpa mengurangi titik atau koma sekalipun. Ini statusnya: “Menunggu pesawat take off menuju Bali. Kebetulan dapat job mengajar sosial media marketing selama 2 hari untuk ibu-ibu Dharma Wanita di Gedung Telkom Denpasar.” 

Coba diandang- diandang dulu. Apa yg salah dengan status ini? Kenapa gak ada yang like, komen apalagi share.... dipandang2....typo. Maaf. Apa yang salah dengan kalimat di atas? Ada yag tau? 

Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut, hanya saja kalimat di atas terlalu penuh dengan informasi. Status penuh info kayak gitu lebih cocok dilakukan di media satu arah. Bukan di social media. 

Dalam dunia digital, informasi memang penting tapi MEMANCING ORANG UNTUK BEREAKSI LEBIH PENTING. Jadi akan lebih baik kalo kita memberikan informasi yang TIDAK LENGKAP. Caranya adalah kita bisa mencicilnya dengan cara mencari kalimat yang sekaligus mampu memancing rasa ingin tahu pembacanya agar terjadi komunikasi. Sip. 

Kita lanjuta ya teman-teman. Masih tentang status di atas. Kita bisa mencicil status tersebut dengan cara mencari kalimat yang sekaligus mampu memancing rasa ingin tahu pembacanya agar terjadi komunikasi. 

“Udah duduk dan pasang safety belt. Aduh! Gue selalu takut naik pesawat tapi apa daya. Tugas telah menanti dan harus dijalani. Doakan ya, guys….”  

Coba perhatikan potongan status tersebut. Kalimat di atas keliatannya sederhana tapi orang yang membaca pasti merasa tercolek rasa ingin taunya. Saya jamin pasti ada yang tidak tahan untuk bertanya sehingga terjadilah interaksi yang bisa membentuk percakapan yang cukup panjang. 

Misalnya tiba-tiba seseorang bertanya: 
“Emang mau ke mana, Bro?” 
Kita jawab tapi jawabnya DICICIL, “Ke Bali. Cuaca sih Alhamdulillah lagi bagus. Doain ya, Bro.”
“Wuiiih enak banget ke Bali? Liburan ya?” Misalnya orang itu bertanya lagi. 

“Panggilan tugas Bro. Mau ngajar di sana. Bukan hura-hura.” Kita jawab dan TETAP DICICIL. 

“Ngajar apa?” 

“Biasalah, sosial media marketing.” jawaban kita tetep dicicil. 
“Oh ya? Ngajar siapa? Mahasiswa, ya?” 
Kita jawab dan konsisten dicicil, “Bukan. Ibu-ibu Dharma Wanita. Ibu-ibu sekarang kan mau pada melek internet.” 
“Di mana ngajarnya?” 

Lalu percakapan menjadi semakin panjang dan itu baru satu orang. Selanjutnya percakapan kita di ruang komen akan menarik perhatian teman-teman lain yang kebetulan membacanya. Ruang komen kita akan semakin penuh dengan banyaknya orang yang ikut berinteraksi. Ruang komen kita justru akan jauh lebih menarik daripada status itu sendiri. 

Orang jauh lebih senang membaca percakapan daripada kalimat monolog. Karena membaca percakapan rasanya seperti membaca cerita dan hebatnya lagi kita bisa masuk dan berpartisipasi menjadi salah seorang tokoh dalam cerita itu. 

Jadi intinya, kita harus memancing interaksi dengan orang lain. Persoalannya adalah bagaimana memancing supaya orang merespon postingan kita?  

CARA MEMANCING INTERAKSI. 

Jadi sekali lagi saya ulang bahwa dalam berkomunikasi di media dua arah, kita harus MEMBERI RUANG untuk berinteraksi. Artinya kita mem-posting sesuatu tapi sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk bereaksi. 

Bagaimana membuat mereka bereaksi? Tentu saja dengan memanfaatkan naluri setiap orang untuk bernarsis ria. Berikut adalah beberapa metode untuk memancing interaksi. 

1. Membuat kalimat yang tidak lengkap. 

Kalau kita mem-posting kalimat yang tidak lengkap, yang membaca jadi penasaran sehingga mereka tidak tahan untuk melengkapi kalimat tersebut. 

Contohnya pengguna Twitter di bawah ini. Nama account-nya “Akun Kepo”. 

Kepo sendiri artinya adalah “pengen tau” atau curious. Kita tentu setuju bahwa rasa ingin tau adalah insight dasar dari semua manusia. Itu sebabnya acara gosip selalu laku dan dibeli orang. 

Admin Akun Kepo ini selalu mem-posting kalimat yang tidak lengkap. Kalimat yang tidak lengkap itulah yang saya maksud dengan memberi ruang bagi orang lain untuk bereaksi. Ruang kosong yang disediakan oleh Akun Kepo membuat orang yang membaca tweet-nya gatel dan tertantang untuk mengisi ruang kosong tersebut. Hasilnya? Semua pengguna Twitter yang membacanya tidak tahan untuk melengkapi kalimat tersebut dengan kata-kata yang kocak dan kadang jorok. 

Akibatnya akun tersebut menjadi sangat disukai. Dengan hanya bermodal tweet-tweet seperti itu, Akun Kepo berhasil memanen lebih dari 56.000 follower. Bukan main! 

Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun tweet Aku Kepo ini yang penting. Tapi kenapa banyak followernya? 

Karena penting itu nomor dua bagi netizen. Buat netizen yang penting postingan kita mampu menarik minat untuk berinteraksi. 

Liat jumlah followernya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa apabila pengguna sosial media sudah tersentuh insight-nya maka engagement akan terjadi dan hasil yang maksimal dapat diperoleh. 

2.  Memberi pertanyaan. 

Membuat kalimat dengan pertanyaan sehingga orang tidak tahan untuk menjawab. Sebuah pertanyaan tanpa jawaban adalah cara ampuh untuk memancing reaksi orang. Ketiadaan jawaban itu adalah ruang yang kita sediakan bagi orang lain untuk bereaksi. 

Apalagi jika pertanyaan yang kita lemparkan merupakan topik menarik yang merupakan insight kebanyakan orang. 

Misalnya kalian mau jualan obat pengecil perut di sosial media. Kalian bisa bikin pertanyaan sebagai berikut. 

Kemarin saya baru menemukan sebuah produk ajaib buat ngecilin perut. Tau gak, berapa senti lingkar pinggang saya berkurang? 

Pasti orang gatel dan langsung pada nanya, "Berapa?" "40 cm?" Dll. 

Kalo kalian dosen dan sedang nyari calon mahasiswa untuk kuliah di sana. 

Wuiiih… senengnya bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi ini. Inilah tempat kerja terbaik yang saya idam-idamkan. Apakah anak-anak Anda sudah mendaftar ke sini? 

3. Memberi teka-teki. 

Memberi teka teki adalah salah satu cara memberi ruang pada netizen. Orang akan terpicu untuk menebak dan menjawab teka-teki tersebut. 

1) Ada nenek-nenek loncat dari atas Monas tapi gak mati, lalu manjat lagi, loncat lagi tapi tetep gak mati juga, nah… nenek-nenek apakah itu? 

2) Ada macan sedang tiduran, kita tarik buntutnya tapi dia diem aja, terus kita sundut buntutnya pake obor, dia cuma nengok sedikit sambil geleng-geleng kepala. Nah… macan apakah itu? 

4. Mengajak untuk berbuat sesuatu. 

Misalnya: 

“Saya mau bikin tulisan tentang bagaimana membuat dagangan kita laku di Facebook. Ada yang mau?” 
Kalo ada yang nyaut “Mau!” 

Kita sahutin, “Kalo yang mau ada 20 orang, saya mulai sekarang juga.” 

Saya sering banget melakukan metode ini dan selalu ampuh. 

Oh ya. Jangan lupa, gunakan bahasa informal karena kita ingin memperlakukan mereka sebagai teman. Setelah kita mengetahui strategi bagaimana memancing interaksi, coba praktikkan sesering mungkin. 

Kalau ternyata banyak yang komen, berarti sudah terjadi engagement antara kita dengan user. 

Sekali lagi saya ulang bahwa ruang komen yang dipenuhi oleh percakapan kita dengan teman-teman tersebut tidak ada bedanya seperti sebuah cerita. Pengalaman bersama dalam satu cerita akan membuat hubungan kita lebih dekat dengan user sehingga mempermudah kita untuk mempengaruhi mereka untuk membeli produk yang kita tawarkan. 

5. Iming-iming hadiah. 

Seandainya kita berjualan sesuatu di FB atau IG, kita bisa mengiming-imingi netizen dengan hadiah. 

Misalnya kita membuat quiz dan yang berhasil menjawab dengan benar maka akan mendapatkan hadiah dari produk kita. 

Kemudian kita bisa lanjutkan dengan membuat lomba menulis cerita. Temanya mereka harus bercerita pengalaman ketika memakai produk kita. Cerita yg paling bagus akan mendapatkan hadiah lagi. 

Atau kita bisa juga membuat lomba foto. 

Fotonya harus ada produk kita di dalamnya. Foto yg menarik akan mendapat hadiah. Dengan cara seperti itu engagement akan terjadi secara massif. Di samping itu, hasil-hasil lomba berupa cerita dan foto-foto, bisa kita manfaatkan sebagai bahan promosi kita. Kita bisa meng-up load hasi-hasil lomba tersebut di IG, FB, Youtube dll. 

Menarik, kan? 

Dengan mengeluarkan cost operational yang sedikit, kita punya banyak materi promosi yang bisa kita posting di seluruh social media kita. Insya Allah dengan cara ini, dagangan kita bisa laku keras. Dan kalo udah kaya, jangan lupakan saya, ya? Bagi-bagi dikit, dooooong... 

Sekali lagi media internet adalah MEDIA INTERAKTIF maka kita harus melakukan INTERAKSI. 

Interaksi inilah yang akan membuat: 

1. Orang ngelike, comment dan share. 

2. Orang memfollow kita. 

Difollow dan  memfollow itu penting loh. Kita tau orang sampe mau-maunya beli follower karena mempunyai banyak follower seringkali membuat mereka merasa hebat. Mereka merasa eksis kayak artis. 

                                                   SESI TANYA JAWAB 

P - Kita masuk sesi tanya jawab Om. Pertanyaan pertama dari  @Mba Ana Writers 8: 

Assalamualaikum malam om Bud & kang Asep. Saya masih melihat beberapa media cetak bertahan di tengah dunia digital. Faktor apa ya om, yang membuat media cetak masih bertahan. Meski kalau dilihat, lapak koran, majalah, tidak seramai pada zamannya. Saya termasuk pelanggan setia majalah remaja pada masanya. 
Terimakasih om Bud & kang Asep. 

J - Betul. Masih ada banyak kok media cetak yang masih bertahan. Karena mereka masih punya pelanggan orang-orang tua yang kebiasaannya membaca sudah gak bisa diubah. 

Mereka merasa nyaman membaca dengan memegang koran, majalah dll. Tapi bagaimana dengan generasi milenial? Apakah mereka membaca media cetak? 

Saya dan Kang Asep pernah diajak orang Kompas untuk meeting. Akhirnya meeting disepakati diadakan di Citos. Saya dan Kang Asep udah berbunga-bunga hatinya karena merasa akan mendapat proyek besar. Kompas gitu loh.... 

Sesampainya di sana ternyata yang ngundang kami adalah Kompas cetak. Dalam meeting itu mereka mengeluh bahwa oplaagnya menurun terus. Menurun drastis malah. 

Dan pertanyaan mereka ke kamii, apakah saya dan Kang Asep mau membantu membuatkan komunikasinya supaya oplaag Kompas meningkat lagi seperti dulu? 

Kalo saya dan Kang Asep cuma mikir duitnya doang, pasti kami akan menerima job itu. Tapi akhirnya saya menjawab, "Kami gak bisa bantu untuk menaikkan oplaag koran Anda. Kalo memperpanjang umur supaya gak segera bangkrut, mungkin kami bisa." 

Orang itu kaget dan bertanya, "Emang kami pasti bangkrut?" Saya jawab, "Semua media cetak pasti akan bangkrut. Persoalannya cuma menunggu waktu aja." 

Artinya media digital udah gak mungkin dibendung. Nanti kita akan lihat sendiri. Semua media cetak akan hilang dari permukaan bumi, Dan itu pasti.  

P - Termasuk dengan dunia percetakan buku apapun itu om? 

J - Belum tentu. Karena siapa pun pasti akan bisa bertahan kalo dia mau berubah. 

Seperti yang saya sebut di atas, "Punahnya Dinosaurus adalah bukti bahwa yang bisa bertahan bukanlah yang paling besar dan bukan yang paling kuat. Yang bisa bertahan adalah yang mampu beradaptasi." 

Contoh binatang purba yang masih bertahan karena kemampuannya beradaptasi adalah kecoak. 

P - Dari @Citra Yuliasari: Selamat  malam saya Citra. 
Bagaimana dgn kita sebagai penulis di era digital ini om? Apakah masih tetep oke kita menerbitkan buku ? Atau lebih baik menulis di platform digital? 

Tetep harus dong bikin buku. Justru inni adalah kesempatan terbaik untuk membuat buku. Kenapa?  

Karena buku masih diminati. Dan buku itu abadi. Berbeda dengan koran yang umurnya cuma sehari dan majalah yang cuma seminggu.  

Buku fisik bisa jadi akan punah juga dan digantikan dengan e-book dan buku digital. Tapi perkiraan saya masih sangat lama. Jadi manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ditunggu ya buku barunya. 

P - Malam Ombud, Kang  Asep, Mau bertanya, apakah story telling untuk iklan termasuk copywriting? Kapan kita gunakan story telling? 

J- Nah, pertanyaan bagus. Tapi gak bisa dijawab sekarang. Karena itu materi buat besok. Materinya panjang banget. Bahkan dua hari berturut2 kita akan mempelajari storytelling besok malam dan lusa. 

P - Om Bud, bagaimana nasib media lain spt tv dan radio? Apakah akan punah juga? 

J - Kalo itu gak akan punah perkiraan saya. Karena kebutuhan mendengarkan radio biasanya bukan hanya untuk keperluan informasi. Tapi orang membutuhkan teman di saat kemacetan. Itu sebabnya saya suka marahain temen saya yg suka ngomel gara2 macet, padahal dia kerja di radio. Macet itu berkah buat orang radio. 

Begitu juga TV. Banyak orang nyalain TV karena diabutuh bunyi-bunyian di dalam rumahnya. Sering banget saya ngeliat orang pulang ke rumah langsung nyalain TV. Abis itu mereka mandi, makan dll. Lucu, kan? Mereka nyalain TV padahal TV-nya gak mereka tonton.

P - Masa SMP-SMA saya penikmat radio juga om. Menemani setiap tidur malam saya. Bahkan saat terbangun tengah malam, ada Chanel yg bahkan masih mengudara.

Apa karena sekarang saya sudah tidak mendengarkan radio lagi/radio masih menjadi media yang eksis sampai saat ini?  

J - Ya itu tadi. Orang butuh teman di kemacetan. Gak enak banget loh pas macet gak ada bunyi-bunyian. Atau pas nyetir pulang jam 3 pagi, kita perlu bunyi2an dari radio untuk menetralisir rasa serem.  

Kenapa harus radio? Karrena kita merasa radio itu live, jadi kita beneran merasa ada temen. Kalo dengerin musik dari HP, kita tau bahwa itu rekaman shg kurang ampuh rasa ditemeninnya.  

Closing. 

Temen-temen sekalian. 

Digital adalah peradaban baru. Udah banyak toko-toko dan perusahaan bangkrut gara-gara dirsruption dari media ini. 

Sebaliknya udah banyak juga orang menjadi kaya dengan memanfaatkan teknologi digital. Misalnya start up-start up yang telah berubah menjadi Unicorn. Bahkan Jack Ma  menjadi  orang terkaya ketiga di China karena memanfaatkan teknologi ini. 

Artinya keberadaan digital sangat penting. Kalo kalian kurang tertarik untuk mendalami dunia digital, minimal pelajarilah copywritingnya. 

Seperti telah saya sampaikan di atas, digital copywriting itu sangat berbeda dengan traditional copywriting. 

Media satu arah tentu saja berbeda dengan media dua arah. Media dua arah adalah media di mana faktor 'INTERAKTIF" adalah kunci utamanya. 

Sekian untuk malam ini. Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Demikian kuliah Om Bud yang selalu menjadi TERBARU bagi group THE WRITERS.

DITULIS KEMBALI OLEH : NANI KUSMIYATI











3 comments:

  1. Wahhhhh lengkap dan sangat bermanfaat Buuuu. Terima kasih tlh berbagi. Smg mjd inspirasi bagi diri ini.

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah obu..luar biasa.. Mksih tlh berbagi.

    ReplyDelete
  3. Lengkap sekali, kalau ada kata di atas kata luar biasa maka saya akan berikan kata itu buat resume yang ditulis bu bu nani. Saya baca dari awal....terima kasih buat saya belajar

    ReplyDelete

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...