Monday, June 8, 2020

The Writers Sessi 3, What to Say and How to Say dengan Om Bud


Pelajaran The Writers Sesi Ketiga dibuka oleh Kang Asep Sebagai moderator. Dan mempersilakan Om Bud untuk mulai membagikan ilmunya kepada The Writer Batch 8 Gelombang 2. Silakan simak kuliah dari Om Bud yang selalu berwarna.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Selamat malam teman-teman, Malam ini saya akan membawakan materi yang berjudul:


Apa yang dimaksud dengan 'What to say' dan 'How to say'?
What to say adalah apa yang ingin disampaikan dan how to say adalah bagaimana cara menyampaikannnya. 
Keliatannya sepele dan gampang, kan?
Tapi percayalah, sebenernya ini sama sekali tidak mudah. Berikut saya akan memberi dua contoh yang sangat sederhana.
Sebagai bangsa yang tidak ekspresif, orang Indonesia selalu merasakan beban yang berat untuk menyatakan cinta kepada wanita yang digandrunginya.
Itu sebabnya orang Indonesia kebanyakan iri melihat orang-orang barat di film-film Hollywood dengan mudahnya menyatakan “I love you” pada cewek yang mau ditembak...
Sekarang mari kita simak pengalaman Arya, teman sekelas saya waktu di SMA, yang hendak menyatakan cinta kepada Wina, teman sekelasnya.
Arya : Win, tahu nggak? Di kelas kita banyak sekali orang ngegosip?
Wina : Ah, cuekin aja…
 Arya : Si Anto digosipin sama Tina, si Ronald sama Cindy…
Wina : Ah cuekin aja….
Arya : Si Sammy sama Pinky, si Alan sama Lydia, si Rilo sama…
Wina : Cuekin aja.  Kamu apa nggak ada bahan omongan lain?
Arya : Eh…anu Win…soalnya eh… kita juga digosipin…
Wina : Ah, masa?!
Arya : Iya…eh… katanya aku pacaran sama kamu….
Wina : Gila kali orang-orang itu ya.  Gosip melulu!
Arya : Kamu…kamu marah ya, Win?
Wina : Ah…enggak. Itu kan cuma gossip. Cuekin aja…
 Arya : Eh..anu… aku mau  tanya Win.
Wina : Apa?
Arya : Kalo beneran gimana?
Wina : Hah?
 ___________
Hahahahahaha....norak ya? 
Mereka memang akhirnya pacaran. Namun lihatlah! Betapa sulitnya Arya berusaha mengatakan   kalimat sepele “I love you”  pada Wina. Atau lebih tepatnya, "Mau gak kamu jadi pacar saya." Dia mengerti apa yang ingin dia katakan.Tapi ia begitu sulit menyampaikannya. 

Kalau tanpa ba…bi…bu…dia langsung berkata; “Win Aku cinta padamu”  atau langsung ujug2  ngomong, "Win, pacaran, yuk?" Wah, bukannya terharu malahan Wina akan tertawa terpingkal-pingkal barangkali. 

Arya sangat menyadari hal itu. Butuh waktu lama dia mencari jalan bagaimana cara mnyampaikannya.... (Saya tau benar hal ini karena mereka berdua adalah temenn sekelas saya waktu SMA). Akhirnya ia mendapat cara untuk menyatakan cintanya; yakni dengan cara seperti di atas. 

Dari sini bisa disimpulkan bahwa semua orang sudah mengerti ilmu periklanan. Ilmu periklanan adalah ilmu kehidupan. 

Arya  pada taraf ini sudah menerapkannya dengan pemahaman “apa yang ingin disampaikan” dan “bagaimana menyampai-kannya” yang dalam ilmu periklanan dikenal dengan istilah “what to say” dan how to say”. 

Waktu sekolah dulu, kita suka disuruh mengarang oleh guru kita dengan topik yang sama. Iya, kan? Kalo ikutan sayembara menulis, pasti kita juga harus menulis topik yang sama. Betul, kan? Jadi ketika kita berada dalam situasi seperti itu, kita perlu mengantisipasi dengan menyimpulkan seperti berikut: 

“Kalo gue nulis begini kira-kira  orang lain bakalan nulis kayak gini juga, gak, ya?  Kayaknya sih iya. Kalo begitu, gue tulis yang lain, ah. GUE HARUS NULIS YANG ORANG LAIN GAK KEPIKIRAN.” 

WHAT TO SAY dan HOW TO SAY artinya adalah, bisa jadi kita memang menulis TOPIK YANG SAMA tapi cara kita MENYAMPAIKANNYA BEDA BANGET dengan orang lain.  Kita boleh saja menulis cerita yang sama dengan 100 orang yang lain. Tapi kita harus mampu membuat cerita versi kita tetap unik. 

Coba perhatikan uraian saya barusan. Berasa gak, apapun yang saya sampaikan ujung-ujungnya kembali ke creative attitude. Sekarang saya akan ngasih contoh kasus dalam video. Sengaja saya pilih video yang paling umum, yang semua orang pernah ngeliat supaya kita tinggal membahasnya.



Silakan ditonton dulu ya, saya kasih waktu 2 menit.
Coba perhatikan video ini, ada pelajaran yang sangat menarik untuk kita pelajari.

Awalnya kita melihat seorang kakek tua buta sedang mengemis dengan sign “I am blind. Please help.” Tapi entah kenapa orang seakan tidak peduli dan jarang sekali yang tertarik perhatiannya untuk memberi sedekah. Sampai akhirnya seorang copywriter perempuan lewat dan melihat apa yang terjadi. 

Awalnya penonton digiring untuk mengira bahwa perempuan ini tentunya jatuh iba dan akan memberi sedekah yang cukup banyak pada pengemis tadi. Tapi perkiraan kita meleset. 

Dia memang menghampiri Sang Pengemis tapi bukannya memberi uang dia malah meraih sign yang ada di depan Si kakek dan megganti tulisan tersebut dengan “IT’S A BEAUTIFUL DAY AND I CAN'T SEE IT.” 

Lalu apa yang terjadi? Sekonyong-konyong banyak sekali orang yang melemparkan koin pada Si Pengemis tua. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, tempat koinnya sudah dipenuhi oleh uang. Bukan cuma penonton tapi Si Pengemis pun bingung apa yang terjadi. Ketika mereka bertemu kembali, Si Pengemis bertanya, “What did you do to my sign?” “I wrote the same but different words,” jawab Sang Copywriter. 

Wuiiiiih...! Keren ya? Pertanyaan saya, pernahkah kalian menela'ah sampai detil, kenapa hal iu bisa terjadi? Ingat! Hadiah terindah dari Tuhan adalah otak. Dan masih banyak orang yang suka malas menggunakannya. Setiap saya tanya kenapa? Ada yg jawab, "Soalnya tulisan yang kedua lebih seru." Kok seru, sih.... 

Ada juga yang jawab, "Soalnya tulisan yg perempuan lebih menyentuh." Terus saya tanya lagi, "Kenapa bisa lebih menyentuh? Apa bedanya dengan tulisan sebelumnya?" Jawabnya, "Tau, deh," sambil nyengir. Okay, saya jawab sendiri ya....

Dalam kasus ini kita bisa menyimpulkan bahwa sebuah pesan (what to say) yang sama ketika dituliskan dengan formulasi yang berbeda (how to say) tiba-tiba mempunyai efek yang jauh lebih powerful. 

Kenapa bisa berbeda? Kenapa tulisan Si Copywriter bisa mempunyai impact yang jauh lebih kuat daripada kalimat yang ditulis oleh si kakek tua? 

Perlu diketahui bahwa bagi orang-orang yang tinggal di daerah 4 musim, sinar matahari adalah berkah yang luar biasa. Apalagi jika mengingat mereka baru saja melalui musim dingin yang begitu menyiksa. Itu sebabnya setiap kali matahari bersinar, orang-orang barat girang banget dan mereka sering mengekspresikannya dengan ‘IT’S A BEAUTIFUL DAY.’
Hal ini tentu saja agak sulit dipahami oleh kita yang tinggal di negara tropis. Buat kita sinar matahari mah biasa aja. Bahkan kita cenderung ngomel, “Anjrit! Panas banget hari ini!”
Tulisan Sang Pengemis ‘I am Blind, please help’ adalah KELUHAN PERSONAL sehingga tidak menyentuh hati orang yang membacanya. 

Sebaliknya tulisan Si Copywriter dengan cerdas menyentuh hati orang yang membacanya.
Mereka bersetuju bahwa saat itu ‘beautiful day’. Dan mereka memang sedang menikmatinya dengan hati suka cita. Itu sebabnya mereka langsung berempati karena Sang pengemis tunanetra tidak bisa merasakan keindahan yang sedang mereka rasakan. Rasa empati itulah yang membuat orang langsung memberi sumbangan pada Si Kakek Buta. Kalo temen saya menyimpulkannya gini, tulisan si pengemis, "Saya buta". Sedangkan tulisan Si Copywriter, "Kalian gak buta." Heheheheh lucu juga ya... 

Intinya adalah Si Pengemis bercerita tentang dirinya. Sedangkan tulisan Si Copywriter bercerita tentang semua orang. Apa yang dituliskan oleh Sang Copywriter di video tersebut ternyata sangat menyentuh INSIGHT yang membacanya. Human Insight adalah faktor yang sangat penting. Ketika kita hendak berjualan sesuatu, tulislah sebuah komunikasi yang menyentuh hati konsumen. Tulislah tentang konsumen. Bukan menulis tentang diri kita sendiri. 

Menarik sekali ya? Begitulah seharusnya attitude seorang copywriter. Mereka  mengerti bahwa kemampuan mereka dalam merangkai kata seharusnya lebih hebat dari orang biasa. Mereka bisa memformulasikan pesan yang sama tapi memberi impact yang sangat berbeda. Kemampuan mereka mengolah kata dapat menciptakan enerji dan menyihir orang yang membacanya. Nah, kalo saya boleh ngasih nasihat, setiap kali kalian memperoleh cerita keren dan insipiratif, jangan cuma terinspirasi. Pelajari dengan baik kenapa cerita itu bisa inspiratif. Pelajari sampai ngelotok sehingga pemahaman itu bisa kita lakukan dalam konteks dan kasus yang lain. Jangan terjebak pada rangkaian kalimat tapi pelajari filosifi yang terkandung dalam kalimat tersebut. 

OK, jadi apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan human insight? Saya akan ngasih ilustrasi satu cerita lagi iar tambah jelas. HUMAN INSIGHT. 

Waktu masih SD, saya punya kenalan seorang preman pasar, namanya Bimo. Sehari-hari dia nongkrong di pasar Bendungan Hilir, deket rumah saya. Kalau mau merokok dia tinggal pergi ke warung dan tanpa perlu mengucap sepatah kata, si penjual rokok sudah tergopoh-gopoh langsung memberikan sebungkus rokok padanya. Begitu juga kalau dia mau minum atau makan. Semuanya diberikan tanpa diminta. Dia memang sangat ditakuti di kawasan itu. Badannya tinggi besar, tegap, berkulit hitam dengan hiasan tato naga di sekujur tubuhnya. Wajahnya sangar tapi lumayan ganteng. Bimo dulu satu sekolah sama kakak saya makanya ke saya dia selalu baik dan tidak pernah mengganggu. Saya kadang merasa beruntung dengan pertemanan ini tapi di sisi lain saya sebel juga kalau dia sedang memalak pedagang tua yang tidak berdaya. Karena kasihan sering saya diam-diam mengganti uang pedagang seharga benda yang disumbangkannya ke Bimo. "Bud, temenin Abang ke toko kaset yang di pojok, yuk?" Suatu hari Bimo mengajak saya ke toko musik. "Yuk, Bang!" sahut saya sambil bergumam dalam hati, 'Wah mau malak kaset dia sekarang’. 

Bimo berjalan di depan sementara saya ngekor di belakangnya. Melihat sosok tubuhnya yang tegap berhiaskan bekas penuh luka, melihat sikapnya yang garang dan kehidupannya yang keras, saya menduga pastilah Bimo ini sukanya sama lagu-lagu heavy metal, rock, Iwan Fals atau dangdut. Dengan langkah mantap dan memancarkan aura binatang buas dia sampai di depan toko kaset. saya masih mengintil di belakangnya. “Ada kaset Bukit Berbunga 2 Koh? Albumnya Uci Bing Slamet yang baru,” tanyanya pada engkoh pemilik toko. Saya melongo tidak menyangka dia akan membeli kaset itu. Uci Bing Slamet adalah penyanyi dengan suara lirih mendesah-desah dengan irama melodramatis. Masa sih preman doyan lagu itu? Penasaran yang membukit membuat saya kontan bertanya,” Buat siapa Bang kasetnya?” 

“Buat Abang.’ jawabnya tanpa rasa bersalah. 
“Buat Abang? Bukit berbunga? Abang suka lagu itu? Saya tergagap dengan tololnya. 
"Iya. Kenapa? Bukit berbunga 1 aja enak pasti yang kedua lebih enak.” katanya lagi. 
“Tapi lagu-lagu metal dan rock Abang suka juga, kan?” desak saya. 
“Lagu rock? Hahahahahahaha…”Tertawanya mengguntur membuat bubar kerumunan orang yang dekat dengan kami. ”Lagu hingar bingar gitu mana enak? Bikin sakit kuping aja.” lanjutnya. 

Bertahun- tahun pertanyaan saya terkubur tanpa jawaban. Pokoknya saya tidak habis pikir kenapa dia yang begitu bengis bisa menyukai lagu seperti itu. Rasanya kok ada yang tidak cocok. Tapi itulah kenyataannya. Setelah saya berkecimpung di dalam dunia marketing, akhirnya saya menemukan jawabannya. Kita sering denger kalimat ‘Don’t judge book by its cover, kan? Artinya kita gak boleh menilai sebuah buku hanya dari covernya. Kita baru bisa menilai setelah kita mambaca isinya. Begitu juga kita gak boleh menilai manusia hanya dari penampilannya.  Kenapa?

Karena APA YANG TAMPAK DARI LUAR BELUM TENTU MEREFLEKSIKAN APA YANG ADA DI DALAMNYA. 

Saya mulai mengerti bahwa tidak mudah memahami konsumen. Apa yang kita tawarkan belum tentu yang konsumen butuhkan. Kalau saya sok tahu dan memberikan kaset-kaset heavy metal pada Bimo di hari ulang tahunnya...wah, bisa berabe! Pasti dia tidak suka. Pemahaman tentang Bimo membuat saya menyadari bahwa seperti itulah pemahaman yang harus kita dalami terhadap target audience. Pemahaman itulah yang disebut dengan HUMAN INSIGHT. Dalam dunia marketing, istilah human insight dikerucutkan lagi menjadi  Consumer insight. Inilah Lagu Bukit Berbunga.




Bayangin preman kok doyan lagu itu. 

CONSUMER INSIGHT
CERITA 1.

Seorang lelaki dengan dandanan keren turun dari mobilnya. Dengan langkah yakin, dia berjalan memasuki Matahari Department Store. Sesampainya di dalam, dia melihat beberapa pegawai yang menjaga outlet. Mereka nampak sedang ngobrol satu sama lain. Setelah melihat-lihat outlet di bagian pakaian, sekonyong-konyong, lelaki itu berteriak dengan suara menggelegar ke arah salah seorang pegawai wanita terdekat, “HEY MBAK! SINI KAMU!!!” Dengan tergopoh-gopoh, si pegawai wanita menghampiri tamunya, “Ya, Pak! Ada yang bisa dibantu?” “Saya mau ketemu manager kamu sekarang juga. Cepat panggi dia!!!” “Kalau boleh tau, ada urusan apa ya Pak? Barangkali masih bisa saya tangani,” kata Si Penjaga Toko mencoba menetralisir. “Saya nggak butuh sama, Mbak. Saya mau bicara sama manager kamu sekarang!” bentaknya lagi. Ga lama kemudian manager on duty datang., “Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Kamu manajernya?” “Betul Pak.”
“Kamu pernah ngasih training nggak ke pagawai-pegawai kamu?” “Maaf, ini tentang apa, ya, Pak?” “Saya masuk ke toko ini tapi sama sekali nggak ada yang menyambut. Saya sudah berkeliling lebih dari 10 menit dan nggak ada satupun pegawai saudara yang melayani saya.” “Oh begitu ya, Pak? Maaf sekali kalau begitu.” “Tanpa pelanggan kamu nggak akan sukses. Kamu niat nggak jualan?” “Niat dong, Pak. Saya mohon maaf.” “Saya ngeliat minimal ada 4 staff Anda yang melihat kedatangan saya tapi ngga ada satupun yang peduli. Meraka ngerti nggak tugasnya melayani pelanggan?” “Baik, Pak. Nanti saya tegur mereka.” “Kalau mereka cuma berdiri doang, apa bedanya mereka sama mannequin? Hah?!!” teriak Si Pelanggan sambil menunjuk ke arah beberapa mannequin yang memang banyak bertebaran di sekitar itu. Setelah berkali-kali meminta maaf, akhirnya kemarahan si pelanggan dapat diredakan.

CERITA 2.
Seorang lelaki masuk ke Matahari Department Store. Baru saja masuk, seorang pegawai wanita yang lumayan cantik langsung menghampiri tamu tersebut. “Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa dibantu?” Si tamu lelaki tidak menjawab malahan buru-buru meninggalkan si mbak. Sesampainya di outlet pakaian, kembali seorang staff lainnya mendatangi calon pelanggannya. “Selamat siang Bapak. Ada yang bisa dibantu?” sapanya. “Nggak Mbak, cuma liat-liat aja kok,” sahut si lelaki sembari melangkah pergi ke outlet lainnya. Pas ngelewatin toko sepatu, si Bapak tertarik pada sepasang sepatu olahraga. Sejenak dia memandang ke dalam toko, sepertinya dia ragu-ragu untuk masuk. Melihat Bapak tersebut, seorang staff lagi-lagi menyapa si bapak, “Selamat siang Pak. Ada yang bisa dibantu?” Kali ini si bapak sama sekali tidak berusaha menghindar. Bahkan dia balik bertanya pada perempuan itu, “Maaf Mbak, nggak boleh, ya, saya dateng ke sini cuma mau liat-liat doang?” “Oh, boleh, Pak. Mau liat-liat sepatu? Yuk, ke dalam biar bisa saya bantu?” “Iya, saya mau liat-liat tapi Mbak nggak usah nemenin saya.” “Nggak apa-apa Pak. Biar saya bisa bantu Bapak menerangkan semua tentang produk-produk yang dijual.” “Gapapa, Mbak. Ga usah ditemenin, saya mau sendiri aja ngeliat-liatnya.” “Nggak apa-apa, Pak. Sudah tugas saya menemani pelanggan.” Di luar dugaan, bapak itu menyahut dengan ketus, “Mbak denger, ya! Saya emang bukan orang kaya. Tapi saya nggak mau Mbak ngawasin saya terus-terusan. Emangnya saya mau nyolong?" "Oh, Bapak jangan salah mengerti, saya bukan bermaksud...." 
Belum selesai si perempuan menyelesaikan kalimatnya, Si Bapak sudah memotong. "Saya dari keluarga baik-baik. Seumur hidup saya nggak pernah nyolong. Mbak ngapain curiga sama saya segala?” katanya keras. “Loh? Saya cuma mau melayani Bapak. Bukan mencurigai Bapak,” sahut penjaga toko. Kagetlah dia tiba-tiba dijudesin sama calon pelanggannya. “SAYA BUKAN MALIIING!!!” teriak Bapak sampe mengagetkan para pembelanja yang ada di sekitar itu. 

Kedua cerita di atas saya peroleh saat meeting dengan klien saya, Matahari Department Store. Meeting tersebut membahas hasil riset yang dilakukan oleh department store itu untuk memahami lebih dalam CONSUMER INSIGHT. 

Dari pihak klien, yang mempresentasikan hasil riset itu namanya Romano Roring. Dia adalah klien sekaligus seorang sahabat saya. Sekarang beliau sudah almarhum. 

Kesimpulan yang diambil dari riset itu adalah; pelanggan dengan sosial ekonomi kelas A dan A+, akan bereaksi seperti dalam CERITA SATU. Mereka merasa, sebagai pelanggan mereka adalah raja dan harus dilayani. Itu sebabnya dia marah ketika gak ada seorang pun yang melayaninya. Sebaliknya pelanggan dengan kelas sosial ekonom C dan D, akan bersikap seperti si bapak dalam CERITA DUA. Mereka tersinggung kalo ada yang mencoba melayani. Mereka cenderung lebih merasa dicurigai daripada dilayani. 

Sehabis presentasi, Romano bertanya, “Okay, ada pertanyaan?”
Saya langsung tunjuk tangan. Dan Romano langsung memberi kesempatan, “Yak, silakan, Bud.” “Gue bukan mau nanya, sih. Gue cuma mau bilang bahwa hasil riset ini mind opener banget.” “Setuju Bud!” sahut Romano lagi.
“Dan gue baru nyadar ternyata gue ini datang dari kelas C atau D. Soalnya gue juga terganggu kalo pegawai Matahari ngintil gue terus.” kata saya lagi.
“Huahahahahahahaha...!!!” Semua orang ngakak ngedenger komentar saya.
“Dari penampilan sih, emang keliatan lo dari kalangan kelas D Bud. Hahahahahaha...” Romano mulai membully saya.
Mendengar ucapan Romano, orang2 dari pihak klien langsung gatel ikut ngebecandain saya sehingga ruangan rapat makin riuh dengan suara tertawa.
Salah seorang klien ngelepas dasinya, lalu mengangsurkan ke arah saya sambil ngomong,
“Ini dasi gue buat lo aja, Bud. Tiap kali ke Matahari lo pake biar kerenan dikit.” Kembali suara tertawa membahana.


“Yah, minimal kelas lo keangkat dikit, deh, Bud. Dari kelas D jadi C,” celetuk Romano lagi. Dan suara tertawa makin menjadi-jadi. 'HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...."
Setelah perbendaharaan tawa para klien menipis, tiba-tiba, seorang konsultan Matahari yang berasal dari Belanda, namanya Hans Reesinck, mengangkat tangannya. 
“Yak, silakan, Hans.” “Mari kita anggap Budiman Hakim tidak bercanda mengatakan hal tadi. Jadi kita harus waspada, jangan-jangan memang banyak orang dari kalangan sosial ekonomi A dan A+ yang juga merasa seperti itu,” kata Hans dengan suara sangat berwibawa. “Nggak mungkin, Hans. Kelas A dan A+ terlalu percaya diri untuk merasa dicurigai akan mencuri,” jawab Romano. 

“Point saya bukan disangka mencuri tapi mungkin merasa tidak nyaman.” 
“Maksudnya gimana, Hans?” kata Romano.
“Mungkin cara staff kita menemani malah membuat tamu-tamu kita ilfeel. Bisa jadi, kan?”
“Nah, kalo itu masuk akal!” kata Romano.
“Mungkin saja kesalahannya ada di staff kita sendiri. Kalau sama kelas D mereka kasar.  Kalau ke kelas A mereka cenderung menjilat. Akibatnya baik kelas A dan kelas D menjadi tidak nyaman.” kata Hans lagi. 

“Jadi apa rekomendasinya, Hans?”
“Kita adakan training yang lebih ketat pada semua staff di lapangan supaya semua tampil professional.” 
“Noted Hans.” sahut Romano sambil mencatat di di HPnya.
“Pastikan semua tamu, entah dia A atau D, merasa nyaman berada di Matahari.”
“Okay, Hans.”
Saya selalu respek pada Hans Reesinck.  Dan selama kerja bareng sama Hans, dia ga henti-hentinya membuat saya kagum atas pandangan dan pendapatnya.
Dalam perjalanan pulang ke kantor, saya merenung. Berapa persisnya yang dihabiskan oleh Matahari Department Store untuk menyelenggarakan riset ini?
Mengingat cabang Matahari ada di hampir semua kota-kota besar, jumlahnya pasti menelan biaya ratusan juta rupiah. Bayangkan! Ratusan juta dikeluarkan hanya untuk mengetahui consumer insight. Ratusan juta diinvestasikan hanya untuk menetahui perilaku konsumen. 
Padahal pedagang-pedagang Padang bisa menemukan solusi dari masalah tersebut dengan cara yang amat sederhana. Cuma dengan mengandalkan nalurinya, pedagang2 Padang cukup menggelar spanduk besar di depan tokonya dengan tulisan.
“Bapitih ndak bapitih, mambali ndak mambali, buliah caliak-caliak kadalam”


Terjemahannya kira-kira begini; Punya duit atau nggak punya duit, mau beli atau nggak mau beli, boleh liat-liat ke dalam.
Cuma dengan tulisan sederhana seperti itu, beban psikologis bagi pelanggan langsung hilang.
Seperti kata Hans Reesinck, pelanggan langsung merasa nyaman dengan perlakuan pemilik toko.
Hebat ya orang Padang? Pantesan mereka hebat kalo jadi pedagang. Hehehehehe…. HAHAHAHAHAHAHA...

Sesi tanya jawab:

P - Pertanyaan pertama dari @Mba Yesi Santania: Assalamu'alaykum, saya Yesi ingin bertanya:
"Kita boleh saja menulis cerita yang sama dengan 100 orang yang lain."
Pernyataan ini benar adanya di masa sekarang, sampe kita bingung apakah penulisnya sama?

Pertanyaannya:
Apakah masih oke kalo menulis hal yg sama tapi sudah banyak yang menulisnya?

J - Loh? Point saya di materi ini adalah memang bagaimana kita bisa menulis cerita yang sama tapi tulisan kita tetep paling unik dibandingkan dengan yang yang ditulis orang lain.

Jadi saya berharap, kalo ada sayembara menulis dari Samsung (misalnya), dan kita dikasih tema "Hidup bersama Corona." Kta kan terpaksa menulis tema itu. Apalagi kalo kita napsu sama hadiahnya berupa Smart phone S20 tipe terbaru.

Dalam situasi seperti itu, kita gak punya pilihan lain, kita harus menulis tema itu. Misalnya pesertanya 2000 orang. Nah, kita harus bisa menulis dengan sudut pandang yang unik, yang gak kepikiran oleh 1.999 peserta lainnya.

Bagimana caranya? Ya itu tadi kita harus mempelajari human insightnya. Jadi itu inti materi ini. Mampu menulis dengan hasil berbeda meskipun kita harus menulis hal yang sama dengan banyak orang lainnya.

P - Dari @Mba Ana Writers 8: Assalamualaikum, malam om Bud & kang Asep. Dalam kasus matahari departemen store, baik cerita 1 & 2, setiap konsumen pasti ingin di berlakukan sesuai keinginan nya sendiri. 

Pertanyaan:
Bagaimana caranya pihak matahari departemen store, bisa mengetahui jenis konsumen yang di maksud, seperti cerita 1 & 2 agar tidak salah persepsi melayani konsumen nya. 
Kita tidak tahu mau nya konsumen seperti apa. Terimakasih om Bud & kang Asep.

J - Ya itu tadi. Mereka menyewa lembaga riset. Yang tadi saya bilang bisa jadi biayanya ratusan juta. Lembaga itu bikinriset di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Kemudian hasilnya dilaporkan ke Matahari. Abis itu hasil risetnya, dilaporkan lagi ke saya (agencynya) supaya saya bisa bikin iklan dengan masukan dari lembaga riset tersebut.

P - Dari @Bernadeta (nggak bisa dimention ya): Semalat malam om Budi dan Kang Asep. Saya Bernadeta. Kalo saya melihat kasus 1 dan 2 di Matahari. Mungkin kita bisa melihat katagori secara langsung orang yang kita temui. Nah kalo dalam bentuk tulisan bagaimanakah cara kita bisa merangkul semua golongan? Supaya mereka mau menerima karya kita. Terima kasih

J - Dalam kasus Matahari di atas, saya cuma ngasih tau bahwa orang rela melakukan riset yang begitu merepotkan dan biaya yang besar hanya untuk mengetahui perilaku konsumen. Artinya saya mau bilang bahwa memahami perilaku konsumen itu sangat penting.

Matahari adalah perusahaan besar. Jadi kita gak perlu melakukan hal yang sama. Dari mana duitnya? Tapi memahami konsumen juga sangat penting, jadi kita bisa melakukannya sesuai dengan kemampuan kita.

Saya pernah menemukan penulis perempuan di IG, saya lupa namanya. Pokoknya dia adalah seorang penulis yang hebat. Bukunya langsung habis sebelum dipajang di toko buku. Gila kan? Akibatnya buku terseut cetak ulang padahal di toko belom ada. Bagaimana bisa begitu?

Rupanya dia di I-nya selalu bikin riset melalui followernya. Dia nanya ke followernnya, saya mau bikin novel dan kepikiran ada 3 tema. Yang pertama Tragedi rumah tangga. Kedua, cerita pembunuhan, dan ketiga, tentang percintaan seorang manusia dengan Alien.

Kira2 kalian mau beli kalo saya bikin yang mana? Setelah followernya memilih, dia akan naya lagi, kalo novel saya tebalnya 300 halaman, kira-kira harganya berapa?

Ada yang ngejawab harga novel tersebut Rp 200 ribu dan ada yang 85 ribu. Lucunya sama penulisnya bener-bener dijual dengan harga dua macem. Padahal bukunya sama, sama sekali gak ada bedanya.

Tapi khusus yang ngebayar 200 ribu, dia menambahkan merchandise berupa mug, kaos dll yang bertuliskan judul bukuya sehingga yang bayar 200 ribu gak merasa rugi. Malahan bangga karena merasa diperhatikan.

P -  Dari @Lukman SW: Bagian kreatif itu menurut om bud mengurus what to saynya juga ngga? atau hanya how to say saja. what to say diurus oleh account / strategic planner? 
Pertanyaan kedua. biasanya saya mencari insight dari survey, observasi atau wawancara & ngobrol. Adakah cara selain itu yg ampuh Om?

J - Coba biasakan menganggap semua faktor adalah bagian kreatif. Karena di jaman digital ii udah gak jamannya lagi, ini tugas AE, ini tugas Strategic planner. Mengetahui semua hal akan sangat bermanfaat buat kita semua.

Contohnya Kang Asep. Dia sendirian aja ikutan pitching melawan agency2. Bayangin coba, Asep sebagai AE, Strategic planner, kreatif dan juga bagian keuangan.

Nanti akan tiba masanya kita harus bekerja sendiri di rumah. Kita gak butuh lagi orang lain karena semuanya kita sanggup mengerjakannya sendiri.

P - Dari @Mba Melati2​, Met mlm kang asep...
Untuk tahu kesukaan pembaca, mngkin bisa sprti yg sdh d jwb om bud di atas dg contoh penulis yg sharing dg followernya...tp apabila tdk bnyk follower bgmn menyingkapinya om Bud? mksh. melati

J- Gak banyak itu berapa? Kalo udah di atas 100 rasanya cukup untuk membuat riset. Lembaga2 riset yang bikin riset untuk brand-brand besar juga cuma manggil 20 responden yang dibagi lagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok hanya terdiri atas 5 orang.

Closing speech  dari Om Bud

Teman-teman sekalian. 
Ketika saya mengatakan bahwa menulis itu untuk menyenangkan diri sendiri, itu adalah untuk keperluan membuat buku atau artikel. Tapi kalo kita mau jualan di IG, misalnya, kita perlu menulis untuk menyenangkan konsumen.

Jadi harus dibedakan ya? Kan, kita butuh sales makanya kita butuh pembeli, kita butuh konsumen. Jadi menulislah tentang konsumen. Jangan menulis tentang diri kita sendiri. Pokoknya konsumen harus disentuh hatinya supaya mereka terenyuh dan membeli. Bagaimana cara menyentuh hati konsumen? Kita harus memahami ciosumer insight.

Kita ketemu lagi minggu depan. Wabillahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Waalaikum salam.
Terima kasih, Om Budiman Hakim dan teman-teman semua. Semoga sharing ini banyak manfaatnya.

Baik teman-teman, dengan ini sesi ke-3 kita tutup dulu ya. Kita bertemu lagi Jum'at minggu depan dengan tema yang makin asik tentunya.

Demikian kuliah yang sangat menarik dan menginspirasi. 

Disalin oleh : NANI KUSMIYATI


No comments:

Post a Comment

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...