Thursday, June 4, 2020

The Writers Day 2 COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA oleh Om Bud dan Kang Asep



Bapak ibu, di The Writers sesi kedua ini, Om Bud membahas tentang "COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA". Materi ini masih lanjutan dari CREATIVE ATTITUDE. Seperti yang pernah saya tulis di blog saya The Writers Day One atau Sesi Pertama, saya sengaja menuliskan kata-kata yang bermakna dan berkesan dari Om Bud melalui percakapan langsung di WhatsApp. Moderator masih Kang Kasep Asep Suherna. Silakan menyimak.

Teman-teman, saat ini kita masuk sesi ke-2 bersama Om Budiman Hakim. Di sesi ini Om Bud akan membawakan materi berjudul "COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA".

Teman-teman sekalian. Kemaren kita sudah belajar tentang manfaat menulis dan sebagian tentang Creative Attitude. Berdasarkan pengalaman dari batch-batch sebelumya, saya memahami bahwa agak sulit buat kalian untuk mengerti sepenuhnya apa arti Creative Attitude. Agar lebih mudah dipahami, saya akan mengulang sedikit tentang creative attitude dan membandingkannya dengan business attitude.

Dulu saya punya sahabat dekat, namanya Tjia Boen Houw. Saya biasanya panggil dia Si A Boen. Nah, temen saya ini tiap denger apa-apa pasti ujung-ujungnya bisnis. Saya ingat, pertama kali permainan Tetris muncul sekitar tahun 90-an. Waktu itu saya jago banget main tetris. Saking jagonya saya gak mati-mati. Sampe komputernya hang, saya belom mati-mati juga. Keren, ya? Ngeliat kepiawaian saya memainkan game itu, A Boen langsung teriak, “Bud! Lo jago banget! Ini bisa jadi duit, Bud!  Ikut gue ke Kota, yuk! Kita ikutan taruhan di sana, kita pasti menang banyak.”

Pernah juga dia main ke rumah dan disediakan makanan oleh isteri saya. Begitu tau bahwa isteri saya masak sendiri, dia langsung teriak, “Vin! Masakan lo enak banget!!! Ini bisa jadi duit, Vin! Gue cariin ruko terus kita partneran bikin resto, yuk? Marketingnya gue juga, kita pasti untung besar! Percaya deh apa kata gue!”

Semua yang dilihat oleh A Boen langsung dia pikirin jadi BISNIS. Sikap yang ditunjukkan oleh Si A Boen  itu adalah yang biasa disebut dengan Business Attitude.

Pertanyannya, “Apakah bisnisnya sukses?” Sebagian besar, sih, gagal total. Tapi pointnya bukan bisnisnya berhasil atau tidak. Keinginan untuk selalu berbisnis itulah yang disebut dengan Business attitude. Sukses atau tidaknya adalah soal lain. Begitu juga dengan CREATIVE ATTITUDE. Semua hal yang kita lihat/temukan seharusnya menjadi pemicu untuk menjadi ide. Soal idenya setelah dieksekusi jadinya jelek atau bagus, itu soal lain. Artinya yang perlu kita bangun adalah ATTITUDEnya dulu. Kalo kita udah punya CREATIVE ATTITUDE maka kita akan selalu berkarya. Kalo kita selalu berkarya maka karya kita otomatis akan menjadi bagus. Karena kemampuan kita selalu terasah. Itu intinya. Semoga bisa dipahami ya? Jadi kita gak ngomongin karyanya. Tapi kita ngomingin ATTITUDENYA. Sikapnya. Mental untuk selalu bersikap kreatif!

Perlu dipahami bahwa bagian CREATIVE ATTITUDE ini adalah yang paling penting. Karena bersikap kreatif seharusnya adalah sikap keseharian manusia sehari-hari. Jadi jangan pernah lupa, hindari komen yang biasa-biasa doang. Hindari memakai ucapan-ucapan IDUL FITRI yang udah basi. Tunjukkan bahwa kita punya CREATIVE ATTITUDE.

BUKTIKAN PADA DUNIA KALO KITA SELALU MAMPU MEMBUAT SESUATU YANG BARU.

Sering-seringlah latihan menulis dan gak usah pilih-pilih harus nulis apa. Tulis apa aja yang kita kuasai. Tulis dengan bahasa apa aja yang kita nyaman. Bahasa Indonesia boleh. Bahasa Inggris OK. Bahasa Jawa juga monggo. Perlu diketahui bahwa tulisan kita di social media akan membuat orang mampu menilai kita lebih mudah. Dulu kalo lagi nginterview orang, saya butuh berjam-jam mewawancarainya karena saya suka kasih test segala. Sekarang saya cuma butuh 5 menit dan hanya dengan 1 pertanyaan saja. Pertanyaannya begini, “Kasih saya 1 alasan kenapa saya harus menerima kamu. Gak boleh lebih, cukup 1 saja.” Sederhana tapi menantang bukan? Setelah itu saya minta link FB, Twitter, IG dan semua social medianya. Udah gitu doang tapi dari situ saya bisa menilai orang tersebut seperti apa. Setelah orang itu pergi saya browsing semua social medianya. Saya gak akan pernah menerima orang itu, kalo saya menemukan dia pernah menulis begini di social media:

“Gue telat ngantor, uang makan dipotong. Tapi elo dateng lebih telat dari gue gak diapa-apain. Enak juga jadi Boss, ya? Suatu hari gue mau jadi Boss juga kayak lo, Nyet!” (Astaqfirulloh- tambahan penyalin)

Ini beneran saya temuin, loh. Luar biasa ya statusnya? Ada juga yang nulis begini:

“Minta naik gaji katanya kantor sedang rugi. Tapi elo sendiri ganti mobil baru lagi. Situ sehat? Lo gak ada bedanya sama koruptor penghisap darah rakyat. Tauk!”

Yang paling happening ada orang kantor yang bikin status begini, “Isteri masa kini. Suami masak gitu? Mertua? Masya Allaaaaah….”

Coba perhatikan status-status tersebut. Biar orangnya sehebat apapun saya gak akan pernah menerima orang seperti ini. Nyari orang pintar itu susah tapi nyari orang pintar dengan GOOD ATTITUDE, itu susahnya minta ampun. Intinya adalah saya sangat terbantu sekali dengan adanya social media. Kalo ngewawancara orang off air, kita sulit menilai karya dan attitudenya. Karena kebanyakan portfolio yang dibawanya adalah kerjaan keroyokan atau kerja kolektif. Tapi dengan mengintip social medianya, saya bisa langsung tau seberapa kreatif orang ini dan seberapa bagus ATTITUDENYA.

Dan satu lagi, banyak CREATIVE DIRECTOR (termasuk saya gak akan pernah menerima COPYWRITER apabila yang bersangkutan tidak punya blog). Kenapa demikian? Karena membuat iklan, buat saya, adalah pertandingan. Sementara menulis di blog adalah latihan. Kenapa banyak sekali COPYWRITER yang karyanya jelek? Karena dia tidak pernah latihan di blog. Dia pikir berkarya itu sama kayak bikin POP MIE, tinggal robek bungkusnya, seduh air panas…selesai!  Di jaman digital ini, kalo gak hati-hati, kita akan terperangkap menjadi generasi instan. Karena segala data dan informasi begitu mudah kita temukan.  Syukurilah semua berkah yang bisa kita peroleh dengan instan. Tapi ingat! MENTAL GAK BOLEH INSTAN!

Respeklah pada TUHAN yang telah menghadiahkan otak pada kita. Pakailah itu semaksimal mungkin. Kita harus menyadari, mie instan saja dibuatnya tidak instan. Ayo kita pekikkan pada dunia bahwa KITA BUKAN GENERASI INSTAN. Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang bermental instan.

Coba perhatikan berita-berita di televisi tentang banyaknya korban penipuan. Orang yang bermental instan paling gampang ditipu dengan iming-iming umrah murah, arisan dengan untung berlipat ganda sampai mau-maunya ikut paranormal untuk menggandakan uang. Semua itu gara-gara kita melecehkan kemampuan otak kita sendiri dan maunya hanya yang serba instan.

Okay, sekarang kita kembali ke creative attitude. Selanjutnya bagaimana cara melatih diri agar Creative Attitude senantiasa mengalir dalam darah kita. Kemaren saya udah bilang bahwa yang namanya latihan itu pasti membosankan. Masih inget, ya?

Sekarang saya akan memenuhi janji. Jadi malam ini saya akan ngajarin cara latihan menulis dengan menyenangkan. Widiiiiii...apa iya ada cara latihan yang menyenangkan? Om Bud becanda, nih.... ADA! 

Bagaimana berlatih menulis terus menerus tapi kita tetap enjoy sehingga kita selalu mempunyai sikap kreatif.  Begini caranya.

                      COPY MENGGAMBAR. VISUAL BERCERITA. 


Kalian semua punya akun Instagram, kan? Kalo kalian suka main Instagram berarti kalian beruntung. Karena Instagram adalah social media yang paling menyenangkan sebagai bahan latihan meningkatkan creative attitude. Misalkan kalian sudah mempunyai foto untuk diposting di IG. Pahamilah bahwa FOTO yang kalian posting itu sudah menyampaikan PESAN. Karena itu JANGAN bikin caption hanya MENGULANG apa yang sudah dikatakan oleh fotonya. Misalkan kita posting foto pasangan cowo dan cewe. Jangan pernah bikin caption “COUPLE.” Itu adalah caption yang mubazir dan tidak berguna. Kenapa demikian? Karena kata couple sudah disampaikan oleh imagenya. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Kita harus menulis sesuatu yang berbeda namun sekaligus berintegrasi dengan imagenya. Instagram adalah sarana visual. Caption berfungsi sebagai support untuk menambah value dari apa yang telah dikatakan oleh imagenya. Jadi di bagian caption, kita harus menuliskan hal lain. Imagenya telah menyampaikan pesan, yaitu ‘COUPLE’. Jadi tugas caption adalah mendukung atau menambah apa yang telah dikatakan oleh image tersebut. Coba liat postingan ini, udah jelas gambarnya couple, masa kita bikin caption bunyinya ‘”couple” juga? Halooooooo......!!!!!

Coba kalian pikirin. Sebaiknya caption apa yg harus kita cantumkan di bawah foto ini...

Yak, berpikir dimulai tik...tok....tik....tok.... Selesai. Jawab sendiri di dalam hati ya. Dalam konteks foto ini kita bisa bikin caption apa aja. Pokoknya asal TIDAK MENGULANG apa yg dikatakan oleh imagenya berarti udah betul. Saya bilang betul, belum tentu berarti bagus loh. Misalnya kita bisa kasih caption “ WHEN I MET YOU, I FOUND ME.” Jadi keren kan?


Berasa, ya, makna "COPY MENGGAMBAR. VISUAL BERCERITA."  Kita bisa bikin beberapa lalu pilih yang terbaik untuk caption kita. Misalnya, “Pasangan sejati adalah dia yang selalu ada kita butuhkan dan selalu menghilang saat kita tidak butuhkan.” Hehehehehe….

Contoh lainnya lagi.... Coba buka IG kalian. Banyak banget foto Eiffel di sana. Menurut riset, menara Eiffel pernah menduduki peringkat pertama sebagai obyek yang paling banyak diposting di IG. Ya wajar sih. Orang kan pengen pamer bahwa mereka udah di Paris. Selain itu menara ini juga bagus sebagai obyek foto. Yang bikin sedih banyak sekali yang bikin caption “EIFFEL”, udah gitu doang. Itu berarti orang tersebut belom pernah belajar CREATIVE ATTITUDE.

Okay, sekarang kita pikirin apa captionnya yang menarik? Kira-kira apa caption yang menarik? Gak usah dijawab, ya…. jawab dalam hati aja.  

Ini ada true story.

Jadi pas outing kantor sebuah perusahaan, ada orang Sunda dibawa ke menara Eiffel terus dia komennya begini, Naon sih alusna menara ieu. Di kampung aing ieu ngaran na sutet. Loba pisaaaan.” HAHAHAHAHA... Yang orang Sunda pasti ketawa juga, tuh...

Jadi terjemahannya “Apa sih bagusnya menara ini? Di kampung saya mah banyak yg beginian, namanya SUTET. Banyak banget!” Hahahahahahaha....

Nah, lucunya, ada salah seorang peserta outing memposting gambar Eiffel dengan mengambil omongan tersebut sebagai captionnya dan tentu saja hasilnya lucu banget.


Jadi dapat disimpulkan bahwa caption itu gak selalu harus cerdas, gak perlu ilmiah. Yang penting isinya MENYENANGKAN dan INTERAKTIF. Penting banget, nih, diketahui....

Contoh selanjutnya....Ada anak kecil lagi main sendirian. Masak captionnya “Playing Alone?” Hueeeek....!!!!!!

Sebagai orang yang mempunyai creative attitude, kita harus memikirkan caption yg lain. Cari caption yang inspiratif tapi sekaligus bisa bekerja sama dengan gambarnya. Daripada bikin caption cuma’ playing alone’, kita bisa bikin misalnya:

“When you’re alone, don’t be sad. Maybe God drives all your friends away because He wants to play with you. Only with you.”


Atau kalo mau bahasa Indonesia juga boleh, “Ketika sedang sendiri, jangan bersedih. Mungkin Tuhan memang mengusir semua orang karena Dia ingin bermain berdua saja denganmu.”

Contoh lainnya lagi.... Saya gak tau kenapa banyak perempuan suka banget moto kakinya lalu diposting di IG. Ya gapapa, sih. Tapi yang bikin saya terganggu, udah moto kaki, tau hak captionnya apa? “Feet.”

Ya’olooooooo….Tolong!!! Ngapain bikin caption kayak gitu? Kita udah tau itu foto kaki, kok pake dijelasin segala, sih? Tobat! Kita bisa bikin yang lain, misalnya “It is better to die on your feet than to live on your knees.” Atau “Kadang aku sengaja berhenti melangkah agar sepasang sepatuku bisa saling menyapa.” Pokoknya silakan bikin caption apa aja, yg penting inspiratif.

Contoh selanjutnya…

 
Garing banget yak captionnya.....Kita bisa bikin yg jenaka sedikit. Misalnya: “SAVE WATER. DRINK BEER!”


Contoh berikutnya….


Daripada bikin caption pengulangan seperti itu lebih baik kita tulis:


Hehehehehehe....dapet banget ya pesannya.... Jadi apa yg kita bisa simpulkan dari semua contoh yg saya posting? Jangan pernah bikin caption hanya dengan mengulang apa yg telah dikatakan visualnya. Kalo mengalami kesuitan dan ide lagi buntu, kalian bisa menggunakan kutipan orang lain. Namun ingat! Jangan lupa menyebutkan sumbernya.


Coba liat foto ini. Garing abis kan? Udah gitu captionnya bikin kita jijik pula....

Coba kalo kita kasih caption lain. Kebetulan saya menemukan caption kutipan dari orang lain. Caption: “Kalo udah sukses, suara kentutmu pun terdengar inspiratif. Tapi kalo blom sukses, omonganmu yg paling inspiratif pun terdengar seperti kentut. - JACK MA –


Tentu saja saya menyantumkan nama sumbernya yaitu Jack Ma. Kita gak boleh lupa karena itu adalah intelectual property orang lain. Kita harus menghargainya. Perlu dipahami bahwa caption itu dahsyat sekali pengaruhnya. Foto yang biasa2 aja, kalo dikasih caption yang bagus maka foto kita terlihat jadi lebih bagus daripada kenyataannya. Misalnya foto orang di kantor di atas. Saya akan kasih nilai 4 untuk foto garing tersebut. Tapi ketika udah ditempel dengan caption kutipan dari Jack Ma? Wuiiiih...saya akan kasih nilai 8. Dan nilai yang tinggi tersebut adalah andil dari captionnya. Bukan imagenya. Begitu dahsyatnya bahkan foto tak berarti pun bisa punya makna ketika kita kasih caption. Coba perhatikan image ini, cuma bidang item doang.

Gak ada maknanya. Kalo kita posting di IG, wah apa kata dunia???? Apa bagusnya bidang item doang? Apa maknanya? Gak ada sama sekali. Meaningless. Tapi tunggu dulu!!! Sebelum diposting, coba kita kasih caption. Ketika kita kasih caption. pandangan itu berubah. Misalnya kita bisa bikin caption sebagai berikut:


Sekarang punya makna, kan? Menjadi jelas apa maksud bidang item tersebut.

Seperti tadi kita bisa bikin beberapa alternatif. Luar biasa kan pengaruh sebuah caption?

Kalo kalian orangnya romantis, kita juga bisa bikin kalimat yang flowery...Widiiiii....kalian pasti akan mendapat banyak like dengan cara ini. Terutama dari cewek2 yang klepak klepek hatinya membaca kalimat itu...

KESIMPULAN

1. Jangan bikin caption cuma mengulang visual. Bikin caption yang beda tapi mendukung apa yg dikatakan visual.

2. Kalo perlu gunakan kutipan orang lain dan jangan lupa menyebutkan sumbernya.

3. Caption yang bagus akan membuat foto/ iklan kita bertambah jauh lebih bagus dari seharusnya.

4. Bahkan gambar tak berarti pun akan mempunyai makna ketika dikasih caption.

Temen kantor saya, namanya Leo, pernah ngomong gini, “Om Bud, gue punya foto bagus banget nih.” sambil memperlihatkan foto tersebut di HPnya. “Wah, keren, Le. Kok gak diposting di IG?” tanya saya. “Udah dari 4 hari yang lalu seharusnya gue posting. Tapi belom manteb nih hati ini.” jawab Leo. “Belom manteb kenapa?” tanya saya. “Belom dapet caption yang keren.” sahut Leo.

Coba bayangin! Kalo kita punya foto keren banget, pastinya kita gak sabar dan mau buru-buru posting dong ke IG? Iya gak? Tapi Leo sanggup menunda posting hanya gara-gara belom punya caption yang OK.

Temen-temen sekalian, sikap yang diperlihatkan oleh Leo tersebut, itulah yang namanya CREATIVE ATTITUDE. Berdasarkan apa yang dikatakan Leo, mulai hari ini saya minta pada semua temen-temen di sini:

JANGAN PERNAH POSTING FOTO KE IG SEBELUM DAPET CAPTION YG OKEH.

Berani? Berani dong, ya! Itulah cara berlatih menulis dengan cara menyenangkan. Dan itu sangat penting untuk membangun creative attitude kita. Teman-teman sekalian. Sekarang ini banyak banget orang yang sudah punya produk dan brand yang dijual secara online. Banyak dari mereka yang memanfaatkan social media. Sebagian peserta di sini tentu juga banyak yang berjualan di Instagram, kan?

Nasihat saya, sering-seringlah berlatih bikin caption sesuai metode di atas. Ketika sudah mempunyai creative attitude, kita jadi bisa membuat caption yang menarik agar dagangan kita semakin laku.

Judul materi kita hari ini adalah COPY MENGGAMBAR, VISUAL BERCERITA. Jadi jangan cuma fokus pada captionnya doang. Buatlah gambar yang bercerita. Gabungan antara image yang bercerita dengan copy yang menggambar akan membuat iklan di Instagram jadi menarik perhatian. Kerja sama image dan copy akan membuat komunikasi kita bekerja secara maksimal. Biar dapet gambaran yang lebih jelas, mungkin saya harus kasih contoh yang kongkrit ya. Misalnya kalo saya harus membuat iklan di IG untuk OBAT PEGEL LINU. Saya akan membuat gambar yang bercerita.


Di captionnya kita bisa bercerita bahwa betapa gak nyamannya kalo kita sedang menderita pegel linu. Silakan cerita bla…bla…bla…Di endingnya, kalian bisa akhiri dengan kalimat.... “Bahkan Patung Pancoran pun sering hilang kalo jalanan lagi sepi. Karena dia juga butuh obat tersebut. Capek loh berdiri terus-terusan gak bergerak sambil nunjuk ke angkasa. Kalo gak percaya, silakan coba sendiri.” Hehehehehe..

Btw, karena IG juga punya fasilitas untuk sarana audio visual, kita juga bisa membuat video 1 menit untuk brand kita. Sekarang ini kualitas HP sudah lebih dari cukup untuk membuat konten di IG , FB atau di Youtube.

Dengan memproduksi video, semua benefit bisa kita masukkan dalam video tersebut berupa audio. Jadi di caption kita tidak perlu lagi bikin copy yang njlimet.

Kita cukup memasukkan daftar harga dari barang akan kita jual beserta daftar harganya. Ini contoh iklan di IG menggunakan fasilitas video.

Hehehehe…. simple banget, kan? Produksinya murah namun punya daya tarik yang tinggi. Ini adalah iklan obat kuat "Viagra". Viagra gak boleh beriklan di TV. Jadi iklan ini saya buat bo'ong2an doang sebagai contoh, Iklan pegel linu di atas juga iklan boongan yang saya buat khusus untuk kelas ini. Kenapa saya mau repot-repot membuat iklan bo’ongan ini cuma buat contoh materi kita? Yak betul! Karena saya memiliki CREATIVE ATTITUDE.

Demikian kuliah dari OM Bud. Bagi yang tertinggal dengan materi tersebut silakan dibaca kembali. Semoga bermanfaat. 

Di Salin oleh Nani Kusmiyati dan Ariyani Alfath (my lovely niece).














10 comments:

  1. Kereen bu. Lengkap. Materinya hampir mirip dengan storytelling ya

    ReplyDelete
  2. Mantab abissss buuu. Lengkap n sgt bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti punya bu Ismi, hanya pengemasannya sedikit berbeda

      Delete
  3. Waaw bner2 rugi klo ga ngikuti. Materi om bud..super kereen..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om Bud and Kang Asep memang top, juga seperti narasumber kita yang lain juga Ok banget

      Delete

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...