Thursday, May 7, 2020

Motivasi Menulis Buku dan Berprestasi dengan Bapak Imron Rosidi


Motivasi Menulis Buku dan Berprestasi 
Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd,

By Nani. 
Assalamualikum,.para sahabat guru yang baik, kali ini saya mencoba merangkum pelajaran dari narasumber kita, bapak Dr. H. Imron Rosidi, S.Pd., M.Pd. yang memiliki masa kerja selama 36 tahun 5 bulan, dan telah menjadi guru selama 32 tahun 5 Bulan. Memiliki hobi membaca, menulis dan Pencak Silat. Pendidikan terakhir beliau Pascasarjana S3 Bahasa Indonesia, dengan segudang prestasi yang diraih semenjak tahun 2004. diantaranya menjadi Juara I Guru Prestasi Tingkat Jatim dan nasional pada tahun 2011, Penulis artikel terbaik versi majalah Media Jatim tahun 2010 dan 2011, Juara Lomba Best Practice Tingkat Nasional tahun 2014, Juara 1 Menulis Legenda Pasuruan 2016 dan masih banyak lagi. Saat ini beliau sebagai Koordinator penilaian DUPAK Guru dan KS tingkat Jawa Timur. Jika ingin berkorespondensi dengan beliau , berikut alamat dan no telpon beliau :

Alamat Rumah : Kedondong Raya Blok i-9/16, Bugul Kidul , Pasuruan, Jawa Timur, Telp. Rumah/HP. 081210500199.
Materi beliau dapat disimak di link berikut : https://youtu.be/G4ZCy5DYNFk



Materi menekankan pada Motivasi Menulis Buku (Self Driving for Teacher).


Bapak ibu saksikan dan pelajari melalui link tersebut. Berikutnya, Om Jay membagikan power point (PPT) dengan ulasan pelajara seperti berikut : 
Saat ini marilah kita memotivasi diri untuk menjadi guru penulis. Guru yg visioner. Setelah kemarin Bapak Imron memberikan materi menulis untuk kenaikan pangkat. Sekarang beliau fokus ke menulis buku. Sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa menulis buku. Yang ada adalah orang yang tidak mau menulis buku. Mengapa demikian? Karena menulis itu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Bapak ibu semua punya itu. Berarti pastilah bisa menulis. Mengapa seseorang dapat dengan lancar berbicara. setiap bertemu langsung dan berbicara tanpa berfikir. Namun ketika menulis pastilah berbeda. Padahal keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Menulis itu hanya 4 syaratnya, yaitu mau, tekun, nekat, dan baca. Sekarang lanjut ke menulis buku. Saya yakin bapak dan ibu sudah berkomitmen akan menulis buku. Ada tulisan mahasiswa? Tulisan santri saya dari pondok Sidogiri dan Salafiyah, dan dari para guru. Saya yakin bapak ibu bisa. Mengapa guru tidak menulis, terdapat 2 jawaban. 1. Belum menemukan alasan mengapa harus menulis dan 2. Tidak tahu cara menulis. Nah di sini kita perlu mengetahui alasan menulis dan cara menulis. Seperti terdapat di PPT. Ingat, menulislah dengan jelek dan jangan takut salah. SEBAB Orang yg tdk pernah salah hanyalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Menulis itu keterampilan. Maka harus terus berlatih. Berlatih menulis, bukan dipelajari. Sebagaimana pemain sepal bola. Dia harus terus berlatih. Tetapi dia juga perlu vitamin. Apa vitaminnya seorang penulis. Ya buku-buku tentang teori menulis dan hal-hal lain yg berhubungan dengan menulis. Biarlah tulisan kita awalnya tidak terlalu bagus. Dengan terus berlatih maka akan ada peningkatan dari segi kedalaman konten maupun bahasa. Pengalaman narasumber menulis buku, diawali dengan menulis LKS. Dari LKS ini justru narasumber mendapatkan semuanya. Itu dulu karena dulu LKS wajib dimiliki siswa. Setelah itu narasumber menulis buku-buku umum untuk dilombakan di tingkat nasional. Alhamdulillah 2 kali narasumber menjadi juara nasional. Selanjutnya narasumber menulis buku pelajaran dan sekarang aktif menulis buku perkuliahan dan umum. Bapak ibu guru dapat mengawali dengan menulis buku kumpulan puisi atau kumpulan cerpen. kemudian lanjut  ke buku umum, atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran. Lalukan pasti bisa dengan langkah-langkah seperti dalam PPT. Di sini juga terdapat alamat penerbit mayor dan apabila hendak mengirimkan karya ke penerbit harus melihat visi penerbit tersebut. 
   
Gerakan satu tahun satu Buku. Dari seorang guru ke seorang Penulis. Menulis itu menuangkan gagasan, pikiran, dan perasaan. Kita pasti punya itu. Mengapa seseorang tidak menulis? Karena belum menemukan alasan mengapa harus menulis, tidak atau belum tahu bagaimana cara menulis. Mengapa kita harus menulis? Beberapa alasan berikut : Berbagi insprasi, menyuarakan kebenaran, menyebarkan ilmu, identitas diri, uang/royalti, popularitas dan mungkin terpaksa karena tugas.  
Buku apa yang akan kita tulis? Buku yang sangat ingin kita baca tapi belum ada maka TULISLAH. Apa syarat menulis? Mau, tekun, nekat, dan baca. bacalah maka kita akan siap untuk menjadi seorang penulis atau kita dapat mengatakan “Don’t write if you don’t read ! IQRO’ Harus terus menulis jangan takut salah. Prinsip menulis, Menulislah dengan jelek jangan takut salah. Karena orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Menulis itu ketrampilan dan harus terus berlatih. Buku-buku merupakan vitamin bagi seorang penulis. Seperti pada gambar berikut:
Bagaimana menulis buku Non Fiksi? Inilah beberapa hal yang perlu dilakukan:
     Bacalah beberapa buku untuk menentukan layout buku dan gaya beberapa penulis
      Buatlah judul dan kerangka buku!
      Kumpulkan berbagai literatur yang mendukung!
      Lakukan pendalaman materi!
      Mulailah menulis dari bab yang sudah dikuasai!
      Apabila terjadi kemandekan, lakukan lagi pendalaman materi
      Menulislah dengan tidak takut salah
      Setelah selesai, lakukan editing dari segi bahasa dan tanda baca!
      Terbitkan!
Contoh layout buku :
Pendalaman materi dengan 3P, Paper, Person dan Place. Paper yaitu mengumpulkan Literature. Mulailah dengan menentukan jenis buku. Tentukan jenis buku yang akan ditulis seperti : Buku Pelajaran, Antologi Cerpen, Antologi Puisi, Novel, Buku Agama, Buku Pendidikan, Buku Motivasi, dan Buku Umum/Remaja.
Membuat Kerangka Buku. Misalnya dapat dilihat dari gambar berikut:
Ayo Jadi Juragan-juragan Kecil (Sebuah Pemikiran dan Pegalaman)
I.              Aku Sudah Lulus
A.   Jangan mau menganggur.
B.   Melanjutkan studi
C.   Jadi juragan yok!
D.   Cara mudah memulai usaha
II.            Membuka Usaha Sablon
III.           Membuat Vas Bunga dari Besi Sisa
IV.          Membuka Servis telepon genggam (HP)
V.           Kios Perbaikan dan Rakit Komputer
VI.          Usaha Jasa Pengetikan
VII.         Kios Bunga dan Miniatur Taman
VIII.       Kios Majalah dan Koran
Berikut adalah Skala Keterbacaan yang dapat dijadikan Acuan Penulisan

1. Jika panjang kalimat 5 kata atau kurang ini berarti sangat .mudah dipahami.
2. Jika panjang kalimat 8 kata  ini berarti mudah dipahami.
3. Jika panjang kalimat 10 kata  ini berarti agak mudah dipahami.
4. Jika panjang kalimat 12 kata  ini berarti standar.
5. Jika panjang kalimat 16 kata  ini berarti agak sulit dipahami.
6. Jika panjang kalimat 20 kata  ini berarti sulit dipahami.
7. Jika panjang kalimat 25 kata  atau lebih ini berarti sangat sulit dipahami.

Bagaimana menerbitkan buku?
Caranya? Major Publishing or Self Publishing atau Jual Putus. 

KEUNGGULAN MAJOR PUBLISHING VS SELF PUBLISHING.
MAJOR PUBLISHING : distribusi yang luas, hampir tanpa modal, dan lebih praktis. 
SELF PUBLISHING : Fleksibel, Margin profit yang lebih tinggi dan pasti penerbit.

KELEMAHAN MAJOR PUBLISHING VS SELF PUBLISHING.
MAJOR PUBLISHING : kurang fleksibel dan Margin profit yang lebih kecil (Royalti 10%)
SELF PUBLISHING : distribusi yang lebih sulit, perlu modal bessar, dan banyak hal yang harus dikerjakan.

JUAL PUTUS KEUNGGULAN VS KELEMAHAN.
KEUNGGULAN : cepat mendapatkan uang, tidak berkurang meskipun buku kurang laku terjual, dan praktis.
KELEMAHAN : pendapatan sesuai dengan kesepakatan, hak cetak ditangan penerbit, tapi pendapatan tidak bertambah meskipun dicetak ulang.

Modal Menerbitkan sendiri
      Cover             Rp150.000
      ISBN              Rp150.000
      LAYOUT        Rp2500 per lembar
      EDIT              Rp1000 per lembar
      CETAK          Rp27.500 untuk 218 halaman.   

Syarat Major Publishing
      Surat Pengantar
      Soft copy buku
      Biodata penulis
Kelengkapan Penerbitan

Daftar Beberapa Penerbit
1.  Almahira, kompleks Kodam Kalimalang, Jln.
Manunggal 2/8C, Cipayung Melayu, Makasar Kota, Jakarta Timur 13620, telp 021 68300123, email: almahira.publishing@yahoo.co.id
2.  Azka Mulia Medika, Jln. Raya Hankam Komp.
Satrudal Ring TNI AU No. 1. Jatirahayu, Pondok Gede, Bekasi 17414, telp 021 84973048
3. Balai Pustaka, Jln. Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta, Telp. 021 3451616
4. PT Bumi Aksara, Jln. Sawo Raya no. 18, Jakarta 13220
5. Remaja Rosdakarya, Jln. Kembang Raya No. 4 Jakarta 10420, Telp. 021 3901692, 
email: rosda@indosat.net.id
6. Yudhistira-Ghalia Indonesia, Jln. Waru No. 20B, Rawamangun, Jakarta Timur     13220, telp. 021 8581814.
7. Grafindo Media Pratama, Jln. Pasirwangi 2, Pasirluyu,Bandung, 40254, Jawa Barat, telp 022 5206177, weebsite grafindo.go.id.
8. Mizan, Jln. Cinambo no. 135, Cisaranten Wetan, Ujung Berung, Bandung 40294, Jawa
    Barat, telp 022 7834310, email: info@mizan.com
9. PT Gramedia Pustaka Utama, Gedung Kompas Gramedia Lt, 5 Jln. Palmera Barat 29-37, Jakarta Pusat 10270, telp 021 53650110, email fiksi@gramediapublishers.com dan nonfiksi@gramediapublisher.com
10. Grasindo, Jln. Palmera Selatan 22-28, Jakarta Pusat 10270, telp 021 53696546.
11. Remaja Rosdakarya, Jln. Kembang Raya No. 4, Jakarta, 10420, Telp. 021 3901692,      email Rosda@indosat.net.id
12. Penerbit Andi, Jln. Beo no. 38-40 Demangan, Yogyakarta, Telp 0274561881, email:  jendela_yogya@plasa.com
13. Tiga Serangkai, PT. Jln. Prof. Dr. Supomo SH No. 23 Solo 57141, Jawa Tengah, 
telp. 0271 714344.

Sesi tanya jawab :
Bagaimana teknis menulis buku pelajaran yang menarik, kita tahu bahwa siswa milenial (meski tidak semuanya) kenyataannya kurang suka membaca buku, lebih menyukai youtube. 

Kita harus melihat dulu, siapa pembacanya. Karena siswa sekarang lebih suka youtube karena memang peradabannya memang demikian. Setiap hari dan detik mereka buka HP, bukan buka buku. Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum) menulislah hal-hal yang saat ini sudah Hit. Mungkin tulisan tentang kiat belajar di rumah di saat pandemi virus corona akan menjadi lebih menarik. Atau tulisan yg berisi pengalaman orang-orang sukses, bagaimana saat dia menjadi siswa itu juga menarik. Perlu dicoba dan jangan takut jelek dan tidak laku. 

Masalah kemandegan, belum selesai menulis sudah berhenti, hal itu karena kurangnya motivasi dalam .menulis. Jika menulis artikel populer, cerpen, puisi seharusnya sebelum menulis, penuhi dulu wawasan kita tentang apa yang akan ditulis. Jika kita bandingkan antara otak kita dan tangan kita maka otak kita akan lebih cepat daripada tangan kita yang mengetik. Jadi ide itu akan lancar mengalir di otak kita. Pada saat  menulis anggaplah sedang berbicara. Jika ada yang salah saat saat mengetik mengetik, mungkin salah huruf, kurang huruf, kalimatnya kurang baik. Biarkan saja. Terus menulis jangan takut salah. Setelah dianggap selesai, mungkin  4 sampai dengan 6 paragraf  dibaca lagi sambil membenahi yg salah.

Daftar pustaka hanya di akhir tulisan. Bisa juga dg diberi footnote. Untuk terbitan pertama, penerbit akan mencetak bukunya sejumlah berapa eksemplar itu tergantng prediksi penerbit. Narasumber menjelaskan buku beliau yang akan diterbitkan Kanisius Jogja masih dalam proses dan akan diterbitkan 5 ribu eksemplar. Jika menerbitkan sendiri bisa sampai 100 eksemplar.

Penerbit major biasanya tidak menerbitkan buku antologi yg keroyokan. Sebagai penulis pemula sebaiknya menerbitkan sendiri. Artinya dengan biaya sendiri dan jika nanti dirasa tulisan kita bagus, baru dikirim ke penerbit major. Ingat lihat visi penerbit.

Seorang penulis itu harus selalu mempersejatai dengan sebuah pena. Sekarang bisa dengan HP untuk mencatat ide yg muncul tiba-tiba. Tidak boleh ditunda. Terus tentukan, tulis dalam bentuk yang paling sederhana, artikel populer. Ini hanya 3 sd 5 halaman. Baca terus dan kirim ke majalah atau surat kabar. Misal ke radar dulu. Satu kali terbit maka nama jenengan akan dicatat oleh team redaktur. 

Tentunya setiap orang berbeda. Gairah dan motivasi keduanya sejoli dan berjodoh. Ketika ada motivasi SAYA harus menulis agar siswa SAYA bangga, pada saat itu gairah dapat muncul. Gairah ini akan terus bertambah ketika tulisan kita terbit. Waduh, akhirnya terus menulis dan menulis.

Narasumber bercerita memiliki saudara guru SD di sebuah pulau terpencil. Satu buku selesai dan diterbitkan sendiri. Banyak orang beri apresiasi. Akhirnya dia tambah bergairah untuk menghasilkan buku-buku selanjutnya. 

Paragraf itu adalah gabungan kalimat yg koheren atau padu. Ada 3 cara agar padu, (1) Mengulang kata yang sebelumnya disebutkan, (2) Mengganti dengan kata lain yang sama maknanya, dan (3) Memberi konjungsi antar kalimat. Paragraf itu terdiri atas 3 sampai dengan 5 kalimat, bisa 1 kalimat utama dengan 2 kalimat penjelas.

Paragraf bisa dimulai dari kalimat utama, yaitu kalimat yang perlu dijelaskan dan masih bersifat umum. Misal Pandemi Corona menyengsarakan banyak orang. Kalimat selanjutnya adalah penjelas dari kalimat tersebut. Jadi berakhir apabila dianggap penjelasnya sudah cukup. Usahakan maksimal 5 kalimat.

Karya tulis atau buku sebagai syarat untuk naik pangkat dari golongan 3 ke 4 tidak ada perbedaannya. Yang terpenting jika ber ISBN nilainya 3 dan jika tidak ber ISBN nilainya 1.5.

Narasumber menceritakan bahwa beliau mulai menulis ketika baru masuk menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia dan mengikuti kegiatan HMP (Himpunan Mahasiswa Penulis). Banyak menulis puisi dan cerpen serta artikel populer di majalah kampus. Sejak menjadi guru pada tahun 1989, dan  pada tahun 1990 baru ada 1 buku yg terbit. Itu karena motivasi muncul karena hinaan salah satu guru. Waktu itu guru bilang, mana ada guru D3 tulisannya diterbitkan. Alhamdulillah saat itu buku narasumber dapat diterbitkan oleh penerbit YA3 Malang dan mulai saat itulah gairah menulis muncul.

Penulis itu harus mau mengorbankan waktu. Selain menjadi kepala sekolah, Narasumber juga mengajar di 2 pondok pesantren dan 1 Perguruan Tinggi dan masih sempat melatih pencak silat. Kapan menulis. Setiap malam dan setiap ada waktu luang. Harus ada waktu wajib, misal malam hari jam berapa sampai dengan jam berapa. Tanpa ada waktu wajib menulis, pasti sulit untuk menjadi penulis.

Jika ingin menerbitkan buku di penerbit mayor maka harus faham visi misi penerbit. Karakteristik tulisan yang dapat diterima penerbit Major usahakan kita sdh terkenal dulu. Untuk mengetahuinya carilah di google, ketik nama dan asal. Kalau ada berarti sudah terkenal. Untuk mengetahui visi misinya juga buka google. Atau yang paling mudah datang ke toko buku. Cari buku yang selaras dengan buku yang Anda tulis. Kemudian kirimkan ke sana. Jangan mengirim buku agama ke balai pustaka. 

Untuk kenaikan pangkat . Buku kumpulan puisi  dan cerpen karya sendiri,  untuk bisa dinilai  untuk puisi berisi  lebih dari 2  dan nilainya 2, jika lebih dari 40 nilainya 4. Untuk cerpen lebih dari 10 nilainya 2 dan jika lebih dari 20 nilainya 4.

Kiat-kiat cara cepat baca buku.yang berkaitan dengan Buku yang akan di tulis, minimal buku yang harus dibaca dalam sehari menurut narasumber dimeja beliau harus dipenuhi dulu dengan buku-buku yang sesuai dengan buku yang akan ditulis. Narasumber akan menulis buku MEWUJUDKAN SEKOLAH PARA PENELITI. Maka meja dipenuhi dengan buku-buku peelitian dan buku-buku tentang pengelolaan sekolah. Seorang penulis harus memiliki segudang buku.

Untuk naik pangkat buku pendidikan dan pembelajaran juga buku pelajaran yang dapat dinilai. 
Demikian bapak ibu pelajaran dari bapak Dr. Imron Rosidi. Semoga dapat mencerahkan khasanah wawasan kita. Amiin.







16 comments:

  1. Hebat Bu Nani. Disertai audio visual ya. Wahh jadi lebih hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mohon tanya nama sebenarnya Blogger pemula siapa y, hahhaha

      Delete
  2. Satu tahun satu buku, semoga bisa bu

    ReplyDelete
  3. resume yang baik dan lengkap bu. good job

    ReplyDelete
  4. Geregetan... Bisa menuliskan resume selengkap itu dalam waktu singkat. Ok aku harus banyak belajar lagi

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah...luar biasa. Terimakasih sharing materinya

    ReplyDelete

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...