Saturday, May 9, 2020

Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor dengan bapak Ukim Komarudin


By : Nani Kusmiyati

Assalamualaikum,..Jumpa kembali bapak ibu dengan resume pelajaran yang kita ikuti bersama dengan narasumber kita Bpk Ukim Komarudin M.Pd. Kali ini Mr Babms bisa menjadi moderator kita. Dan Om Jay, guru blogger ternama kita telah memfasilitasi kita dengan narasumber yang ekspert dengan kepiawaiannya khususnya menulis dan menerbitkan buku.

Tema pada kuliah kali ini Pengalaman Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor.
Bapak Ukim Komarudin,M.Pd. adalah Penulis Buku Guru Juga manusia. Narasumber berpikir bahwa menulis merupakan ekspresi pribadinya. Memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya adalah hal yang sangat penting. Dan menulis adalah sarana yang tepat bagi beliau. Terkait dengan kualitas tulisan tidak menjadi kekhawatirannya demikian juga dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat, tidak begitu beliau perdulikan. Dengan menulis, beliau merasa menemukan lebih tentang”dirinya” karena menulis sebenarnya adalah kebutuhan. Maka beliau terus menulis. Jika hal itu tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Beliau menulis dengan jujur apa adanya dan menulis apa saja. 

Sebagai seorang guru, beliau dapat menulis yang berhubungan dengan pelajaran, proposal, liputan kegiatan yang ditulis di majalah, dan menulis buku harian, setiap saat hari-hari beliau diisi dengan menulis. Hingga suatu hari tulisan-tulisan beliau mulai dilirik orang-orang terdekatnya, yaitu teman-teman guru. Beberapa teman guru berkomentar kalau tulisan beliau bagus atau emotif (istilah teman-teman guru) karena pembaca dapat larut dalam cerita. Beberapa teman guru lainnya berpendapat bahwa bahasa yang di gunakan sederhana dan mudah dicerna. Bahkan ada yang mengaku bahwa sepenggal tulisan beliau dapat dijadikan ceramah atau kultum, dan sebagainya. Komentar-komentar itu menjadi penyemangat untuk membukukan tulisan-tulisannya, merekam semua kejadian di buku hariannya karena kebetulan beliau memang senang menulis kegiatannya di buku harian. 

Beliau menulis buku dengan judul” Menghimpun yang Berserak." yang berisi tentang beragam kejadian seperti pelajaran seorang guru dari anak-anak “cerdas” yang menjadi muridnya dengan beragam waktu dan tokoh. Suatu usaha untuk mengumpulkan mutiara-mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang bermanfaat bagi beliau khususnya dan orang lain (pembaca). Ketika itu beliau menjadi penanggung jawab penerbitan buku di sekolah dan beliau menjadi salah satu team (yang terdiri dari 5 orang) dalam menulis buku mata pelajaran. Disiulah beliau dapat menyisipkan karya pribadi. Pelajaran banyak didapat dari hal-hal yang tidak beliau pikirkan sebelumnya. Terlintas dalam benak beliau tentang karyanya “Menghimpun yang Berserak” akankah laku di pasaran? Apakah bukunya memiliki value atau nilai sehingga pembaca akan melirik dan membeli karyanya? Apakah bersedia jika beberapa hal yang terdapat dalam bukunya diganti atau disesuaikan demi kepentingan market? Dan lain-lain. Sebenarnya beliau merasa kurang nyaman ketika di interview. Diam-diam serasa “terpenjarakan” oleh orang lain yang mengatur privasinya. Beliau tersadar ketika dijelaskan oleh team (mungkin editor) bahwa karyanya dapat dinikmati orang banyak. Team itu adalah garda terdepan yang menentukan naskah tersebut layak diterbitkan atau tidak. Inilah ilmu pengetahuan baru yang di dapat narasumber. Sebagai penulis pemula memang harus dipoles seperti bagian sampul, ilustrasi foto jika diperlukan, tata letak dan lainnya. Team dalam hal ini editor menjelaskan bahwa semua hal yang berhubungan dengan buku selalu dalam konfirmasi, yang berarti semua akan terjadi dengan persetujuan penulis.

Karya beliau diproses dan sebelum dicetak beliau menerima dummy book (calon buku) yang sama persis apabila di cetak. Perasaan bahagia datang ketika beliau menandatangani kontrak kerjasama tanpa membaca prosentasi yang bakal diterima. Karena tujuan beliau bukanlah uang sehingga tanpa pikir panjang menyetujui dan menandatangani kontrak tersebut walau terkesan sembrono.

Kemudian kuliah diteruskan dengan sessi tanya jawab :

Sebuah buku terutama buku pelajaran dapat diterbitkan oleh penerbit dengan kriteria layak atau tidak apabila : (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru;  (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca);  dan diutakan dari hasil penelitian   lembaga-lembaga pendidikan terbaik.

Dalam hal menulis dan menerbitkan buku, (1) narasumber menunggu waktu selama 6 bulan setelah tulisan beliau di lirik, apabila setelah 6 bulan tidak ada kabarnya, maka penulis akan berpindah ke penerbit lain atau naskah direvisi ulang. (2) Media yang digunakan untuk mem-publish tulisan pertama adalah buletin sekolah, kemudian buletin pendidikan DKI, selanjutnya buletin Diknas. (3) Yang melatarbelakangi Buku yang berjudul Guru Juga Manusia yang akhirnya menjadi Best Seller karena terjual banyak adalah berkat bantuan publikasi media sosial. Untuk buku berikutnya, narasumber mendapat berkah dari media sosial. (4) Narasumber bukanlah tipe yang pandai menjual ide agar bukunya dilirik penerbit, namun tipe yang penting menulis, walau banyak bukunya yang tidak diterbitkan daripada yang diterbitkan.  Beliau yakin bahwa Allah SWT yang Maha Pengasih akan menggerakkan penerbit untuk melirik dan menerbitkan bukunya. (5) Semua buku beliau berkesan, ibarat seorang anak buku tersebut berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Adakalanya buku tersebut secara diam-diam hanya dibaca sahabat dekatnya ketika dalam kondisi terpuruk terletak di sudut kamarnya. Namun beliau bersukur karena buku itu terlahir dari dirinya dan bangga atas rejeki dari buku tersebut.

Sebagai penulis pemula harus mampu memilih kategori ekspresi menulis, menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan kita. Jika tipe spinter, maka pilihlah cerpen, jika tipe marathon, pilihlah novel. Harus dilakukan bertahap dari lari jarak pendek hingga lari jarak jauh maka perlu latihan. Tipe Premis (tema besar).biasanya terdiri atas satu paragraf. Headline akan memegang pergerakan ide,tokoh,dan alur cerita. Penulis hebat harus memulai dari headline. Permasalahan pada penulis pemula adalah menjadi serakah, yaitu menjadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, tulisannya tidak sampai jadi. Baru satu bab dikoreksi, baru lima lembar disalahkan sendiri akhirnya tidak jadi. Tulis saja karena nanti akan ada jurinya yaitu diri sendiri, teman penulis, dan yang terakhir editor.

Adakalanya, mereka menganggap tulisan kita gagal laku di pasaran, tapi menurut kita itu bagus itu tidak masalah karena ada suatu  masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang.

Mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang kita rasa senada dengan buku yang akan kita buat. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat kita. Dari situ, kita punya standar sendiri. Untuk mendapatkan inspirasi bisa datang ke perpustakaan atau toko buku. Meyakinkan untuk menulis dimulai dari kita sendiri. Kalau kita kurang yakin, maka pembaca juga demikian.

Untuk menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan maka jadilah pembaca yang baik. Banyak membaca, akan menjadikan tulisan kita lebih berkualitas. Mendengarkan respons  dari orang sekitar untuk mengetahui kualitas tulisan kita dan akan menjadi penyemangat kita untuk menulis lebih baik.

Narasumber menambahkan, kita akan sampai menjadi diri kita sendiri, termasuk dalam hal karya-karya kita. Kita akan menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika teman-teman memuji tulisan kita, maka di saat itulah kualitas kita naik. Teruskan dan pupuk kekuatan itu. Hingga pada saat serpihan tulisan kita terjatuh di jalanan, ada seorang teman yang mengantakan kepada bahwa tulisan ini milik Anda karena dia atau mereka mengenali dan hafal Gaya Anda.

Seorang penulis yang hebat adalah penulis yang mampu mengekspresikan dirinya melalui tulisan, yang memiliki daya jangkau dakwah yang luas dalam menebarkan kebaikan, memiliki legacy, warisan sebagai pertinggal jejak kebaikannya. Maka menulislah setiap hari, karena kebahagiaan akan didapat ketika menulis. Dengan menulis maka kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.

Demikian yang dapat dirangkum, semoga bermanfaat. Amiin....

7 comments:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...