Saturday, April 25, 2020

Sigit Suryono Duta Rumah Belajar Terinovatif Penggerak Literasi

Sigit Suryono Duta Rumah Belajar Terinovatif Penggerak Literasi

Bersama  :
Bapak Sigit Suryono, M.Pd.
Jumat      :  17  April  2020


By : Nani Kusmiyati

Sigit Suryono Duta Rumah Belajar Terinovatif Penggerak Literasi ...

CV Narasumber :


Bapak Sigit Suryono lahir di Sleman, 20 Nopember 1976. Lulusan S2 di Program Pascasarjana UNY jurusan Teknologi Pembelajaran dari tahun 2003-2006. Aktifitas keseharian sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Wonosari Kabupaten Gunungkidul, mengampu mata pelajaran IPA. Aktifitas lainnya yang telah dan sedang dilakukan diantaranya:

1. Sekretaris Komunitas Rumah Belajar Kemdiknas 2012 – sekarang
2. Ketua MGMP SMP Kabupaten Gunungkidul 2017 – sekarang
3. TIM Pengembang TIK Kabupaten Gunungkidul 2009- sekarang
4. TIM Pengembang TIK Propinsi DIY 2009 – sekarang
5. Trainer Pelatihan Blog, Pelatihan Multimedia Pembelajaran di BTKP Propinsi DIY
6. Trainer ICT di MGMP IPA dan TIK Kabupaten Gunungkidul dan masih banyak lagi.


Prestasi lomba yang telah diraih diantaranya:

1. Penerima Anugrah Gubernur DIY tahun 2015 atas prastasi sebagai Juara 1 Gupres TK Nasional.
2. Penerima SatyaLencara Bidang Pendidikan dari Presiden RI tahun 2016 atas prestasi sebagai juara 1 guru berprestasi Tingkat Nasional tahun 2015.
3. Sebagai Salah Satu Peserta Terbaik Literasi Tingkat Nasional 2017.
4. Duta Rumah Belajar Tk Nasional Th 2018 dan Duta Rumah Belajar Terinovatif Th 2018.
5. Penerima Anugrah Gubenur DIY tahun 2018 atas prestasi sebagai Duta Rumah Belajar Terinovatif Thn 2018. Dan masih segudang prestasi yang dicapai beliau.


Jika berkenan visit, berikut Address beliau:

Jeruksari Rt 01/ RW 20, Wonosari, Wonosari, Gunungkidul, DIY, Indonesia 55812
Email :
ciget_suryo@yahoo.com

Sebelum kuliah dimulai selalu diawali dengan salam oleh OM Jay, penyelenggara dan guru blogger ternama:

Om Jay memperkenalkan narasumber, bapak Sigit Suryono, juara pertama guru berprestasi jenjang SMP dan Duta belajar rumah KEMDIKBUD dan narasumber pada kuliah ini berkenan berbagi pengalaman menulis dan pencapaian prestasinya di tingkat Nasional.

Narasumber memulai kuliah dengan pembuka salam yang hangat ditujukan kepada para peserta pelatihan Belajar Menulis ke -8.

Narasumber menceritakan keberhasilannya menjadi juara 1 guru berprestasi SMP di tingkat Nasional tahun 2015 maupun sebagai duta rumah belajar tahun 2018 juga prestasi-prestasi lain yang dengan harapan dapat menjadi profokator bagi peserta di group menulis ke -8 ini.

Sesuai dengan judul yang disampaikan oleh omjay yaitu "Guru menulis dan Berprestasi" narasumber menuturkan baru memiliki 1 buku kumpulan cerpen selama 9 tahun yang dibantu oleh pasangan beliau dengan judul "Aku ingin menghitung rembulan" pada tahun 2017 dan berhasil menjadi salah satu desiminator terbaik literasi SMP tingkat Nasional. Beliau merasa bahwa betapa sulitnya untuk membuat suatu karya.

Salah satu sisi betapa sulitnya menulis buku, namun beliau sering membuat coretan artikel, berita dan juga tutorial yang lumayan banyak yang di upload di web beliau yaitu di ciget.info maupun di inobel.id bisa dikatakan satu madzab dengan Om Jay guru yang senang menulis di blog.

Hal pertama yang di share adalah tentang bagaimana narasumber dapat meraih juara 1 Guru berprestasi tingkat Nasional pada Tahun 2015.

Untuk mencapai kejuaran tersebut beliau telah menyiapkan diri sejak awal bekerja di SMP Negeri 1 Wonosari. Tepatnya pada saat itu masih CPNS dan diminta untuk mengikuti kegiatan seleksi simposium tingkat Propinsi  DIY tahun 2006. Beliau melihat ada peluang yang dapat di rekam dari senior-senior beliau saat pelaksanaan simposium tersebut yaitu banyak dari peserta simposium yang ahli dalam penelitian namun belum banyak yang menguasai TIK, sedangkan teman-teman yang menguasai TIK tapi banyak yang tidak mau melakukan penelitian bahkan malas menulis laporan.  

Simposium pada saat itu diikuti oleh semua ketua MGMP SMP maupun pengurus dari hampir semua bidang study yang ada di propinsi DIY. Setiap Kabupaten wajib untuk mengirimkan peserta dalam kegiatan tersebut. Hal itu merupakan tantangan dan peluang bagi narasumber untuk mempromosikan diri kepada para senior. Dan pada saat itu, tahun 2006 sudah menyelesaikan S2 untuk jurusan Teknologi Pembelajaran. Walaupun harus kuliah 11 tahun (S1 hampir DO 7 tahun kemudian langsung S2 selama 3 tahun). Pada waktu 3 tahun itulah merupakan senjata yang handal bagi narasumber.

Awal keberhasilan dimulai pada saat beliau merasakan bahwa Pendidikan sangatlah penting untuk terjun ke dunia kerja. Narasumber telah mendapatkan senjata tajam dari kedua orangtua beliau. Keuntungan memiliki S2 yang tidak linier dengan S1 karena narasumber ingin memiliki keahlian yang belum banyak dimiliki oleh teman-teman di dunia pendidikan pada saat itu.

Dari simposium tersebut mulailah mendapatkan tawaran untuk mengajar Powerpoint, flash, blog, dan lain-lain di sekolah-sekolah  di wilayah kabapaten Gunungkidul, lintas MGMP, dan juga menjadi trainer kegiatan di tingkat kabupaten maupun tingkat propinsi.

Narasumber mengikuti berbagai lomba walau sering mengalami kegagalan ketika mengirimkan karya dan proposal. Namun pantang menyerah terus mencari informasi lomba lewat web maupun blog tentang info lomba. Tidak lagi menunggu informasi dari dinas karena pasti akan terlambat. Kegagalan-kegagalan yang ada di depan mata saat lomba dirasakan oleh narasumber. Bahkan karya terbaik yang di buat masih tetap kalah walau karya yang di buat lebih baik dari karya peserta lomba lain. Kemudian narasumber melakukan riset mengapa selalu kalah. Pada tahun 2009 narasumber mulai merasakan hasil kejuaran dari tingkat kabupaten, regional, maupun propinsi, walau di tingkat Nasional masih kalah. Pada akhirnya setelah mengikuti 6 kali lomba barulah berhasil menjadi finalis lomba tingkat Nasional. Narasumber berusaha mencari penyebabnya.

Ketika benar-benar ingin mengikuti lomba tingkat Nasional maka yang perlu dilakukan:

1. Mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya karya yang akan diikutkan untuk  lomba (kecuali ketika tahap awal karena masih ingin mencoba berhasil/tidak , gagal/tidak).

2. Karya yang diikutkan dalam lomba bukan karya yang instan yaitu karya yang di buat dengan tidak maksimal. Membuat karya hanya pada saat akan ada lomba. Namun karya yang dibuat haruslah dipersiapkan jauh hari, mungkin 1 tahun pengerjaan yang di dalamnya ada jiwa dan ruh kita dan semangat kita.

3. Ketika kita lolos ke tingkat Nasional maka perlu di lihat kembali faktor apa yang menjadi penilaian lomba tersebut. Apakah karyanya ataukah presentasinya (hal ini sangat penting saat mengikuti suatu lomba).

4. Siapkan diri, pribadi, mental dan juga fokus pada lomba.

5. Pada saat presentasi lomba berfokus pada materi yang akan di sampaikan. Jangan sampai keluar dan menyimpang dari presentasi yang disiapkan karena akan banyak memakan waktu.

Kegagalan-kegagalan di awal mengikuti lomba di tingkat Nasional dialami narasumber karena pada saat pemaparan sering melakukan presentasi yang keluar dari pokok media atau penelitian yang di buat misalnya : siapa saya, prestasi apa yang dimiliki, membanggakan organisasi, sekolah, ataupun yang lainnya sehingga keluar jalur dari presentasi yang seharusnya dipresentasikan.

Hal tersebut sangatlah penting sekali karena kegagalan di ajang nobel tahun 2009 karena kehabisan waktu menceritakan siapa diri pribadi pemapar dan lain-lain. Hal itu merupakan pengalaman pahit narasumber yang seharusnya dapat masuk ke 3 besar.

Pada saat mengikuti lomba mungkin gagal atau juara. Jika gagal maka harus melakukan evaluasi. Dan jika menang jangan sombong karena suatu saat bisa kalah terutama ketika tidak dapat mengontrol diri "AKU-nya muncul", sehingga saat presentasi di lomba lain akan mengalami kekalahan.

Saran dari narasumber terus belajar dan belajar, dimana saja, kapan saja dengan siapa saja" (seperti slogan Rumah Belajar).

 KUMPULAN GORESAN PENAKU

Foto : Penyerahan hadiah sebagai Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Nasional SMP Tahun 2015 oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional Bapak Anies Baswedan.

Saran- saran yang disampaikan narasumber selanjutnya sebagai berikut :

1.  Mencari Pedoman Pemilihan Guru Berprestasi pada tahun penyelenggaraan dilaksanakan, jika belum keluar pedomannya dapat menggunakan pedoman pada tahun sebelumnya.

2.  Cermati isi dari pedoman tersebut berkaitan dengan proses penilaian dari tingkat Kabupaten, Tingkat propinsi, dan tingkat Nasional.

3.  Buat portofolio 8 tahun terakhir sesuai dengan ketentuan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi. Kumpulkan semua karya bapak ibu guru yang sudah dibuat selama 8 tahun terakhir, untuk bukti fisik berupa surat tugas, piagam, dll, diligalisir oleh atasan langsung.

Untuk tahun 2015, syarat portofolio adalah 8 tahun, yang merupakan tantangan bagi peserta gupres sehingga penting untuk mengarsipkan semua kegiatan yang pernah dilakukan dari tahun ke tahun.

Alhamdulillah karena pengalaman tahun 2006 tersebut narasumber masih memiliki semua arsip yang dibutuhkan untuk mengikuti gupres, seperti undangan, catatan singkat/ laporan singkat setiap kegiatan yang diikuti, foto, video dan dokumentasi, piagam dan sertifikat yang lain selama 8 tahun tersebut hampir semuanya lengkap sehingga memudahkan untuk menyusun portofolio tersebut.

4. Persiapkan naskah inovatif yang disesuaikan cara penulisannya sesuai dengan kaidah penulisan masing-masing karya. Tampilkan karya inovasi terbaik yang bapak/ ibu guru miliki dan selalu memperhatikan dari buku pedoman pemilihan guru berprestasi tingkat nasional.Karya daapt berupa PTK, best practice, maupun penelitian yang lainnya seperti penelitian eksperimen, penelitian R&D, dll. Buat presentasinya dengan menggunakan Ms Powerpoint atau yang lainnya.

5.  Buat makalah evaluasi diri mengapa layak sebagai guru berprestasi dengan tema dan tata penulisan sesuai dengan ketentuan pedoman guru berprestasi. Jika dalam pedoman tidak ada makalah evaluasi diri maka makalah ini tidak perlu dibuat.

6. Persiapkan video pembelajaran untuk satu tatap muka yang mencerminkan proses pembelajaran yang benar sesuai dengan RPP yang di buat sebagai syarat maju ke tingkat nasional.

Setelah semua siap, maka hal yang dilakukan yaitu tahapan-tahapan seleksi guru berprestasi dari tingkat kabupaten sampai Nasional yaitu:

Kegiatan penilaian di masing-masing jenjang seperti yang telah diikuti pada tahun 2015 meliputi:

Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Gunungkidul:

1.  Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Profesional
2. Test Wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Prefesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Kepribadian.
3. Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah. 

Lomba Guru Berprestasi Tingkat Propinsi DIY

1. Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi  Kepribadian dan Kompetensi Profesional.
2. Test wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional.
3. Psikotest
4. Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah.

Lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional

1. Test tertulis meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional.
2. Test wawancara meliputi Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Sosial, Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Profesional.
3. Psikotest
4. Presentasi dan wawancara Karya Tulis Ilmiah.

Jika ingin melihat komponen portofolio yang digunakan narasumber untuk lomba gupres tahun 2015 dapat dilihat di web: Contoh Portofolio Gupres

Kemudian kuliah dilanjutkan dengan tanya jawab.

Apa saja yang dinilai pada saat presentasi karya kita? Yang paling utama yang dinilai saat presentasi adalah penguasaan pada karya kita itu sendiri yang merupakan nilai utama, kebanyakan kita gagal saat presentasi karena kurang menguasari karya kita secara detail baik dalam file presentasinya maupuan laporan yang di buat. (hal ini bisa terjadi dikarenakan kita merasa telah menguasai karya yang kita buat sendiri tanpa di baca ulang, tanpa dipahami ulang), maka saat akan presentasi jauh hari sudah membaca berulang-ulang dan juga mencoba mempresentasikan secara tepat dan durasi waktu yang di butuhkan. Hal ini dilakukan juga untuk menghindari noise "gangguan" baik dari diri sendiri misal nerves dan kurang siap, mapun dari alat yang kita gunakan untuk presentasi seperti file error, laptop bermasalah, listrik mati dll), 

2. Perlu memperhatikan pertanyaan yang di ajukan oleh juri kita jawab dengan baik jika kita sudah siap.

Bagaimana menyiasati jika persiapan yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan tema lomba, maka akan muncul nerves dan mental down. Ada kalanya judul yang kita buat lolos masuk ke tahap selanjutnya untuk dipresentasikan di ajang lomba walupun temanya salah. Hal ini pernah didapati narasumber dari pengalaman teman narasumber pada saat lomba Forum Ilmiah Guru Tingkat Nasional tahun 2013. Teman beliau salah tema, salah penelitian namun tetap bisa lolos ke nasional. Yang beliau lakukan adalah tetap menyampaikan materi presentasi dengan mantap, fokus dan saat ditanya oleh juri temanya kok tidak sesuai dengan tema lomba, beliau menjawab dengan tenang, dan fokus walaupun tidak juara. Jadi intinya kita menguasai betul karya yang kita buat dan kita kerjakan dan berusaha secara maksimal mempresentasikan pada ajang lomba tersebut.

Resep agar motivasi kuat, yaitu didapat dari resep dari ibu narasumber. “Menang cacak kalah cacak" dan juga dorongan dan motivasi yang kuat dari istri yang siap mereview karya narasumber yang kebetulan satu jurusan di Teknologi pembelajaran sehingga dapat bersinergi dengan baik.

Untuk gupres narasumber mengikuti seleksi 2 kali tahun 2013 dan mendapatkan juara 2 tingkat kabupaten, kemudian mengikuti kembali tahun 2015 yang  diajukan oleh kepala sekolah untuk mengikuti seleksi tingkat kabupaten karena pada tahun tersebut tidak ada guru yang berkenan mengikuti (sebelumnya digilir pertahun sudah ditunjuk oleh Kepala Sekolah, 2 tahun sebelum lomba gupres), sehingga Kepala Sekolah meminta narasumber untuk maju di tahun 2015 dan Alhamdullillah lebih siap dan lebih komplit daripada tahun 2013, akhirnya menjadi juara 1 di kabupaten dan juara 1 nasional. Competitor di kabupaten th 2015 sebanyak 22 guru, di propinsi 5 guru (di DIY hanya 5 Kabupaten) dan di Nasional pada tahun 2015 ada 33 propinsi.

Orang yang berpengaruh pada keberhasilan narasumber yang pertama orangtua narasumber yang sudah mempercayai untuk belajar terus walaupun hampir gagal (DO), yang kedua pendamping hidup narasumber yang terus memotivasi dan mereview penelitan dan karya yang dibuat, yang ketiga Keluarga besar sekolah dari Kepala Sekolah, Guru dan siswa yang membebaskan narasumber untuk selalu bereksprerimen dan berinovasi, dan dinas Dikpora baik propinsi maupun  kabupaten yang memberi kesempatan untuk berbagi ilmu.

Gupres sebenarnya bukan pilihan namun itu semua merupakan rekam jejak narasumber selama mengajar, berinovasi, dan juga melakukan penelitian. Hal itu karena dorongan orangtua agar selalu disiplin untuk naik pangkat setiap 2 tahun sekali dan pernah membantu ibu saat masih kuliah pemberkasan ke IV b, sehingga narasumber mengikuti jejak beliau untuk menyimpan hampir semua arsip yang penting dan ternyata dapat dimanfaatkan di kemudian hari tepatnya tahun 2013 dan 2015 dapat gunakan.

Untuk guru dalam membuat PTK seharusnya benar sesuai dengan yang dilakukan/apa adanya, tidak dibuat-buat nilanya. Sehingga dapat digunakan untuk dupak dan pengembangan diri.

Memiliki buku dan karya sastra lain tidak dibutuhkan dalam seleksi untuk  mengikuti  seleksi gupres. Karya sastra hanya sebagian kecil dari karya ilmiah maupun publikasi ilmiah. Pada saat narasumber mengikuti seleksi gupres tahun 2015 beliau tidak mempunyai buku maupun karya sastra namun menggunakan berbagai artikel yang ditulis di blog narasumber di ciget.info, sedangkan untuk hal yang menonjol yang memang kekuatan paling besar saya adalah di bidang TIK dan karya narasumber yang paling banyak adalah media pembelajaran :


Berkah dari membuat buku, penanya pada tahun 2019 menjadi juara 1 Gupres Tingkat Kabupaten. Namun di Propinsi belum berhasil, karena termasuk persiapan  belum maksimal. Pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber, yaitu tentang cara membuat power point yang baik yang berhubungan dengan materi dan Jumlah power point  yang dipersyaratkan.

Narasumber menjelaskan bahwa dalam membuat power point harus di siasati dengan melihat waktu presentasi dan biasanya 10 menit, maka perlu belajar tentang infografis, sehingga informasi atau semua karya kita dapat ditampilkan dengan sedikit slide. Pada umumnya yang dibuat slide hanya di bab I, bab III, IV, dan V.

Peserta menanyakan pengalaman narasumber mengapa pernah menulis dalam waktu 9 tahun baru selesai.

Narasumber kemudian menjelaskan bahwa karya yang dibuat bersama istri beliau berupa cerpen dengan 10 judul, namun cerpen ini mengisahkan perjalan putra sulung beliau yang bernama Muhammad Yunus Baskara. Dari kecil sampai besar Muhammad sering bertanya kepada orang tuanya tentang hal-hal yang susah untuk dijawab. Akhirnya narasumber menulis dan menjadikan tulisan tersebut sebuah cerpen dan memerlukan waktu yang lama dari bayi hingga berumur 10 tahun. Karya tersebut benar-benar dijiwai oleh narasumber dan pada saat presensi desiminasi tingkat nasional dapat menjadi salah satu yang terbaik karena penjiwaan dan  penguasaan karya. 

Pertanyaan berikutnya yaitu tentang tips untuk menjadi pemenang di event Pembatik/DRB.

Narasumber menjelaskan tips untuk menjadi pemenang DRB yaitu mengikuti seleksi Duta Rumah Belajar melalui web simpatik.belajar.kemdikbud.go.id kemudian mengikuti seleksi tiap level dari level 1 sampai level 4, dan harus menulis semua aktivitas dan kegiatan pada saat mengikuti seleksi tiap level tersebut di web/ blog kita. langkah berikutnya yaitu melakukan sosialisasi ke sekolah peserta dan beberapa sekolah yang ada di sekitar peserta. Dan tetap mencatat dan menulis kegiatan yang dilakukan dengan foto ataupun video yang  kemudian di publish di web / blog. Hal tersebut akan bermanfaat ketika terpilih menjadi DRB karena akan ada seleksi lagi untuk memilih yang terbaik, terinovatif maupun terkreatif. Narasumber mendapatkan yang terinovatif pada saat itu karena semua kegiatan yang dilakukan tercatat dan dapat ditampilkan pada panitia seleksi DRB.

Penjelasan narasumber tentang cara menghadapi pertanyaan dari juri yang tidak bisa di prediksi yaitu dengan improvisasi, harus tetap tenang, dan fokus, serta berusaha menjawab sebaik mungkin pertanyaan juri tersebut dengan jujur.

Narasumber menjelaskan tentang asal pendanaan dalam rangka persiapan ketingkat selanjutnya yaitu dengan biaya sendiri. Pada saat narasumber menjadi juara I tingkat Kabupaten, narasumber tidak menerima penghargaan dalam bentuk rupiah namun dalam bentuk plakat, dan diberi baju batik. Dan ketika juara 1 di tingkat propinsi narasumber mendapatkan uang pembinaan sebesar 5 juta, yang diterimakan tidak langsung, sehingga pada saat ketingkat nasional masih menggunakan biaya sendiri. Narasumber sudah terbiasa mengikuti lomba dengan biaya sendiri yang terpenting mendapatkan surat ijin dan surat tugas dari atasan sehingga legal untuk mengikuti kegiatan berbagai lomba.

Peserta menulis ke-8 berbagi pengalaman ketika mengikuti lomba gupres (guru berprestasi) tingkat kabupaten dan mendapatkan juara II, mendapatkan info dari juri bahwa penentuan juara dipengaruhi faktor pendidikan (S1,S2). Peserta mendapatkan info jika nilai peserta dalam ujian tulis dan presentasi diatas peserta yang juara I.

Narasumber menjelaskan bahwa penilaian pada gupres tidak berdasarkan jenjang pendidikan yang yang dimiliki peserta (S1, S2, S3) namun berdasarkan karya yang yang lebih bagus dan lebih banyak serta saat presentasi lebih baik dari yang memiliki pendidikan lebih tinggi, maka pasti akan jadi juaranya. Kebetulan narasumber adalah juri untuk seleksi Gupres di kabupaten gunungkidul dari tahun 2016-2018. Namun demikian tergantung dari kebijakan daerah masing-masing berkaitan dengan pendidikan. Menurut petunjuk peniliaan di pedoman gupres jika pendidikan yang dimiliki peserta tidak terlalu tinggi seperti yang sudah dipersyaratkan dapat dikejar dengan karya dan produk yang lain.

Pernyataan lain dari peserta bahwa peserta pernah mengikuti Gupres Tingkat Provinsi (Juara 2) tahun 2019. Mengajar Kimia di SMK. Dari Juknis tahun 2018, 2019, syarat portofolio yg dikumpulkan dan dinilai hanya 2 tahun terakhir, dan Best Practise. Dan pertanyaan peserta tentang strategi agar menghasilkan Best Practise dalam kurun waktu 1 tahun, misalnya untuk maju kembali pada tahun berikutnya. Karena tema di BP belum diketahui. Sejauh ini yang diamati dari lomba tersebut, jika peserta dari SMK maka harus berkaitan erat dengan SMK.

Narasumber menjelaskan untuk tahun ini belum tau apakah akan terus dilanjutkan atau dipending. Namun yang terpenting untuk Best Practise mengacu pada tahun lalu jika belum ada pedoman gupres tahun ini, dan tinggal menyempurnakan Best Practise tahun yang lalu dengan inovasi bisa di tampilan, di presentasi, maupun perbaikan naskah.

Narasumber menjelaskan pertanyaan tentang kondisi guru saat ini bahwa semakin banyak guru yang berkarya, berinovasi dan memiliki prestasi yang baik dan menurut narasumber peran Kepala Sekolah penting namun yang  paling utama adalah diri pribadi sejauh mana akan dapat maju dan berkembang.

Pertanyaan terakhir dari peserta, setelah capaian narasumber yang luar biasa target apalagi yang ingin diraih.

Target narasumber adalah mencari bonus misalnya Desiminasi, DRB adalah bonus. Dan tetap berkarya untuk mendapatkan bonus yang lain. Narasumber memberitahukan pencapaiannya bahwa proposal narasumber lolos untuk mendapatkan research grant dari seaqis P4TKIPA yang diumumkan yang merupakan bonus juga. Maka karena target sudah tercapai tetaplah bekerja, berkarya dan berikhtiar siapa tau bisa berguna dan bermanfaat kedepannya. 

Kesimpulan:
Narasumber berpesan agar para guru terus belajar, berkolaborasi dan berbagi ilmu sehingga ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi orang lain. Bekali para siswa sesuai dunianya, karena mereka akan hidup di zaman mereka yang sangat berbeda dengan zaman para guru. Dan yang terakhir “belajar dimana saja, kapan saja, dengan  siapa saja” (Rumah Belajar).

Demikian kuliah yang dapat ditulis kembali. Semoga bermanfaat.





1 comment:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...