Sunday, April 12, 2020

Rangkuman Pelajaran Bapak Imam Fitri Rahmadi


Rangkuman Pelajaran Bapak Imam Fitri Rahmadi

Kamis, 9 April 2020

By Nani


SRV4 PDDIKTI : Pangkalan Data Pendidikan Tinggi

Perkenalan dari narasumber : 
Bapak Imam Fitri Rahmadi, adalah dosen Universitas Pamulang yang sekarang sedang kuliah S3 di Johannes Kepler Universität Linz Austria (2019-sekarang). Narasumber pernah menulis 2 buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo ketika masih kuliah S1 di UIN Jakarta (2018-2013). Pada penghujung kuliah S2 di Universitas Negeri Jakarta (2016), mulai tertarik untuk menekuni penulisan akademik. Pada akhirnya, ketika mulai menjadi dosen di Universitas Pamulang (2017), dan mengelola jurnal, menjadi reviewer jurnal kampus lain, dan banyak mengikuti pelatihan penulisan akademik bahasa Inggris untuk keperluan persiapan studi lanjut ke luar negeri.

Materi yang diajarkan Dasar Menulis: Kata, Kalimat, dan Paragraf.
Dalam pembukaan di blog narasumber menyatakan bahwa sebenarnya tiap hari tanpa kita sadari kita sering menulis, baik itu pesan, expresikan perasaan, menasehati, bercanda atau bahkan bergosip (bagi yang suka bergosip). Dan menurut narasumber, menulis yang paling sederhana melalui media di WhatsApp dan Facebook, atau sekadar menulis keterangan foto yang diunggah di Instagram. 
Pada peajaran ini menjelaskan tentang menulis formal sebagai contoh untuk keperluan akademik dengan  kaidah baku yang harus diikuti. 
Dengan sabar dan ramah (dari gaya bahasa yang beliau tulis di WhatsApp) narasumber menjelaskan pelajarannya. 
Sebelum ke inti pelajaran, narasumber memberikan kesempatan kepada peserta untuk membaca di link blog beliau :  tigabelase.wordpress.com.
Dan tentang Dasar Menulis: Kata, Kalimat, dan Paragraf ada di alamat berikut:
Narasumber menjelaskan bahwa, penulisan personal adalah sebagaimana kita menulis status atau menulis blog dengan gaya personal dan penulisan formal biasanya digunakan oleh para jurnalis untuk menulis berita atau oleh para blogger profesional untuk menulis artikel populer. Sedangkan penulisan akademik digunakan oleh para akademisi untuk menulis berbagai karya ilmiah seperti makalah, laporan penelitian, atau artikel jurnal.
Pemilihan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf merupakan hal paling mendasar yang perlu dipelajari supaya dapat menulis dengan baik. Jika hal tersebut sudah dikuasai, kita akan dapat membuat tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami sesuai dengan tujuan dan konteks penulisan.
Beberapa strategi dalam tulisan ini beliau sarikan dari pengalaman pribadi selama belajar menulis, dan ketika mengikuti berbagai pelatihan bahasa Inggris untuk keperluan akademik, yang biasa disebut dengan english for academic purposes. Adaptasi strategi penulisan dari bahasa Inggris dilakukan karena ternyata rumusan yang digunakan jauh lebih sederhana dan mudah dipahami daripada teori yang diambil dari Bahasa Indonesia. Tidak ketinggalan, penjelasan materi dalam tulisan juga dilengkapi dengan contoh nyata.
Materi disampaikan dapat digunakan bukan hanya untuk penulisan akademik, tetapi juga untuk penulisan personal dan formal dan diharapkan materi dapat bermanfaat bagi semua peserta pelatihan yang beragam. 

Narasumber membagi sesi selama 120 menit ini menjadi 3 bagian:
1.         30 menit: membaca materi
2.         60 menit: diskusi atau tanya-jawab materi
3.         30 menit: latihan menyusun paragraf

Sesi kali ini berisi materi dan tanya-jawab, serta latihan penyusunan paragraf .

Cuplikan materi tersebut:

Pemilihan Kata.

Pilihan kata disebut dengan diksi. Antara penulisan personal, formal, dan akademik, diksi yang digunakan bisa sangat berbeda meskipun dimaksudkan untuk mengungkapkan hal yang sama. 

Perhatikan tiga kalimat di bawah ini:

Ibu guru sedang ngobrol-ngobrol dengan kepala sekolah (terasa lebih personal)
Ibu guru sedang berbincang-bincang (berbicara) dengan kepala sekolah (lebih formal)
Ibu guru sedang berdiskusi dengan kepala sekolah (lebih akademik)

Berbeda satu kata saja dapat merubah rasa dari kalimat, walau memiliki arti sama menggambarkan proses bertukar informasi.

Jika dalam bahasa Inggris sangat mudah untuk menemukan klasifikasi kelas kata karena bahasa Inggris sendiri sudah jelas terbagai menjadi dua, yaitu general English dan academic English. 

Contoh sederhana lainnya, yaitu kata ganti orang pertama: gue, aku, dan saya, yang memiliki rasa tersendiri jika dipakai pada sebuah kalimat. Gue dan aku terasa sangat personal, sedangkan saya terasa lebih formal.

Pada penulisan akademik, kata ganti personal baik orang pertama, kedua, atau ketiga sebaiknya dihindari dengan mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif dan menghilangkan kata gantinya. 

Misalkan, “saya melakukan penelitian ini untuk mendeskripsikan . . .”, maka sebaiknya ditulis seperti ini: “penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan . . .”

Menulis kalimat yang baik sesuai dengan Subjek, Prediket, Objek, dan Keterangan (SPOK) sudah dipelajari sejak di bangku Sekolah Dasar (SD).

Sebuah kalimat sederhana atau tunggal setidaknya terdiri dari Subjek dan Predikat, contoh “saya membaca” atau yang lebih lengkap “saya membaca tulisan di blog.” 

Namun, selama ini jarang dipraktekkan dalam menulis, bahwa sebenarnya terdapat aneka bentuk kalimat majemuk yang perlu diterapkan dalam tulisan supaya tidak monoton dan lebih menarik untuk dibaca.

Terdapat 4 macam kalimat majemuk: setara, rapatan, bertingkat, dan campuran. Keempat rumusan kalimat majemuk tersebut karena cukup rumit dan narasumber tidak pernah menerapkan namun beliau selalu menggunakan rumus yang didapat ketika belajar bahasa Inggris untuk keperluan akademik karena jauh lebih sederhana.

Penulisan Kalimat
Kalimat terdiri dari kalimat sederhana (simple sentence), kalimat gabungan (compound sentence), kalimat kompleks (complex sentence), dan kalimat campuran.

Kalimat gabungan dibuat dengan menambahkan salah satu kata dari singkatan FANBOYS: for (untuk), and (dan), nor (maupun), but (tetapi), or (atau), yet (namun), so (sehingga). 

Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti when (ketika), after (setelah), because (karena), since (sejak), although (meskipun), while (sementara)dan lainnya. Supaya lebih jelas, seperti ini contohnya:

Kalimat Sederhana:
Saya membaca tulisan di blog

Kalimat Gabungan:
Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan saya tentang cara menulis kalimat.

Kalimat Kompleks:
Saya membaca tulisan di blog ketika sedang bekerja dari rumah.

Kalimat Campuran:
Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan saya tentang cara menulis kalimat ketika sedang bekerja dari rumah.

Penerapkan variasi kalimat dalam setiap paragraf supaya tulisan tidak monoton dan lebih menarik untuk dibaca. Variasi kalimat ini berlaku untuk penulisan personal, formal, dan akademik.

Penyusunan Paragraf

Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mempunyai satu kalimat topik (topic sentence), sebagai ide pokok atau gagasan utama (main idea) dan beberapa kalimat penjelas (supporting sentences) sebagai detail yang menjelaskan ide pokok. Supaya enak dibaca dan tulisan mudah dipahami, susun paragraf deduktif.

Gunakan bentuk kalimat sederhana untuk membuat kalimat topik

Cara gampang untuk membuat kalimat topik, adalah pastikan anda meletakkan ide pengontrol atau controlling idea pada setiap kalimat topik. 

Bentuk kalimat penjelas harus bervariasi, terdiri dari kalimat gabungan dan kompleks, serta dilengkapi dengan konjungsi sebagai transisi antar kalimat supaya paragraf mengalir dengan baik, enak dibaca, dan mudah dipahami.

Contoh paragraf yang baik:

Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan. Pada satu sisi, bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas sehingga karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri. Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit. Pada sisi lain, bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel dan lebih banyak waktu untuk keluarga. Selain itu, bekerja dari rumah bukan hanya dapat menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi tetapi juga menghemat biaya operasional kantor. 

Materi di atas hanya cuplikan dari materi yang sebenarnya. Pemahaman akan semakin komprehensif jika sudah membaca materi secara keseluruhan.

Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta :

Pertanyaan dari bapak Dito Anurogo. Dosen di Unismuh Makassar. 

1. Bagaimana proses dan rahasia kreatif Anda?
2. Adakah hambatan terbesar selama proses kreatif ini?
3. Bagaimana Anda melihat fenomena literasi pada generasi milenial saat ini? Terutama dengan maraknya medsos dan berita hoaks.

Jawaban narasumber :

1. Proses dan rahasia kreatif yang dilakukan adalah dengan membaca.

Inspirasi itu secara ilmiah bukan berarti ditemukan dengan merenung di bawah pohon      atau duduk di pinggir danau sambil melamun. Jika ingin menulis, berarti harus banyak baca dulu. Memperbanyak input sebelum outputnya ditulis.

2. Hambatan terbesar adalah mencari Niche alias topik yang orisinil yang belum ditulis oleh orang lain. Hal ini disebut sebagai tantangan. Ibarat mau meneliti, tantangannya adalah mencari reserach gap sebagai novelty penelitian kita.

3. Literasi digital generasi milenial masih sangat minim. Gerakan literasi digital di Indonesia sudah banyak yang mengarah ke penanggulangan hoaks, ciber bullying, pornografi, dan lainnya. Justru yang kurang adalah literasi digital untuk keperluan akademia sebagai bekal generasi milenial untuk belajar di era digital. Belum ada gerakan literasi digital yang mengarah ke situ. Tahun kemarin narasumber meneliti literasi digital untuk keperluan akademik bagi mahasiswa generasi milenial dengan hibah LPDP Dikti. Senang jika ada yang meneruskan penelitian itu.

Pertanyaan dari Bilal, Bengkulu : 

Bagaimana tips memilih konjungsi yang tepat untuk menghubungkan setiap kalimat dlm satu paragraf dan bagaimana menghubungkan antar paragraf. 

Jawaban narasumber :

Konjungsi antar kalimat dipilih berdasarkan jenis kalimatnya. Sedangkan, konjungsi antar paragraf dikontrol dengan kalimat topiknya. Untuk menjawab ini harus melihat gambaran besar struktur sebuah artikel.

Pertanyaan dari Suheri tangerang :

Bagaimana cara membuat diksi yang indah dan bisa dinikmati oleh pembacanya? 

Jawaban narasumber :

Struktur artikel terdiri dari: pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Jika ditarik garis-garis, semuanya berkaitan. Mulai dari judul, pendahuluan hingga kesimpulan.

Dalam pendahuluan, penulis mencantumkan thesis statement alias pendapat penulis dulu. Pendapat penulis mengandung beberapa kalimat topik. Nah, kalimat topik itu nanti yang akan ditaruh satu per satu di setiap paragraf. Sehingga satu artikel nyambung semuanya.

Untuk menyambungkan antar kalimat, perlu diketahui 'The 4 types of Sentence'  (empat tipe dari kalimat) :

1. Declarative statement (pernyataan)
    Contoh : He Stopped.

2. Interrogative? Question (pertanyaan)
    Contoh : Did he stop?

3. Imperative. Command (perintah)
    Contoh : Stop!

4. Exclamative! Exclamation! (seruan)
    Contoh : How he stopped!

Jika kalimatnya mengandung sesuatu yang kontras bisa gunakan konjungsi: namun, padahal, dan lainnya.

Pertanyaan dari Rifatun Salatiga :

Dalam membuat kalimat harus jelas topik yang dibahas/ diutarakan.  Apakah bisa untuk memperjelas kalimat yang dimaksud menggunakan bahasa dalam sebuah kalimat  menggunakan bahasa lokal. Dan apakah daerah lain paham jika menggunakan bahasa lokal.  Jika tanpa ada keterangan yg umum/ bahasa yg duketahui oleh umum.
Terimakasih. 

Jawaban narasumber :

Bisa. Cara penulisannya, bahasa lokal dituliskan dengan huruf miring. Kemudian dikasih penjelasan apa yang dimaksud dari istilah lokal yang digunakan tersebut. Apabila sudah ditulis miring sebetulnya dalam kaidah penulisan bahasa indonesia semua orang sudah paham kalau itu istilah di luar bahasa indonesia.

Diksi tidak perlu indah yang penting sampai pada pembaca. Jadi, dalam memilih diksi sesuaikan dengan target pembaca. Diksi yang terlalu tinggi itu justru bikit tulisan melayang dan tidak menyentuh ke tanah. Ibaratnya begitu. Itu istilahnya adalah inflated words.

Inflated Words : using fancy. Inflated Words does not make your writing better. It makes your writing sound artificial and boring.

Pertanyaan dari Supyanto kota Bekasi :

Bagaimana cara berlatih supaya kita pandai memilih atau menempatkan kata-kata, sehingga menarik bagi para pendengar atau pembaca?   

Jawaban narasumber :

     Word Choice
-       Have I used some words that I really love?
-       Can my reader tell what my words mean?
-       Have I used any new words?
-       Did I try not to repeat words too many times?

Sekali lagi, perbanyak input. Perbanyak membaca dulu sehingga kata-kata yang anda miliki akan semakin kaya. Maaf, kasarannya seperti itu, jangan harap bisa menulis bagus kalau tidak pernah membaca.

Nantinya, anda akan dengan otomatis ketika ingin menulis muncul diksi-diksi yang bagus. Tulisan anda juga otomatis akan semakin bagus.

Ini ceklist bagaimana cara memilih diksi. Jadi sebetulnya tolok ukur pemilihan diksi yang paling penting adalah apakah diksi/kata yang dipilih dipahami pembaca atau tidak. 

Pertanyaan :
Menurut pengalaman Mas Imam Fitri Rahmadi. Lebih sulit mana menyusun kata kalimat paragraf dengan mengoreksi tulisan orang lain karena hukumnya sama. Kalau membuat kalimat yg dilihat diparagraf tinggal memberi kata penyambung yg manis, jika mengoreksi tulisan org lain lebih sulit apa sebaliknya? 

Jawaban :

Hmmm..menyusun dan mengoreksi. Mengoreksi dalam arti apa ini?
Kalau membenarkan tulisan orang lain yang banyak kesalahannya memang cukup rumit. Mending ditulis ulang dengan kata sendiri. Ibarat penjahit, lebih suka jahit baju dari awal daripada harus benerin baju yang salah jahit.
Namun, jika dasar-dasar menulis sudah dikuasai, akan mudah mengoreksi tulisan orang lain.

Pertanyaan  dari Ibu Ismiatun :

Beberapa saat lalu saya cukup aktif berlatih menulis. Rasanya waktu itu agak lancar. Dalam kurun waktu 2 th tdk latihan lg. Saat memulai jadi kaku dan terasa harus mengulang dari awal. Mengapa begitu? Isminatun, Sukoharjo.

Jawaban narasumber :

Bahasa secara alamiah memang seperti itu, baik dari segi writing, speaking, listening, maupun reading. Jadi, itu normal karena otak belum terbiasa untuk mengolah bahasa kembali.Solusinya, membiasakan diri kembali untuk menulis. Sebetulnya tidak mengulang dari awal, Ibu tinggal me-recall/memanggil kembali kebiasaan Ibu dalam menulis dulu, kemudian mulai dibiasakan lagi mulai dari sekarang hingga ke depannya.


Pertanyaan  dari  RASITA, Kepala SDN 16 Penarik Kab Mukomuko Prov Bengkulu.

1. Bagai mana membuat pragraf yg tepat ?

Jawaban narasumber :

Ini pertanyaan mendasar yang sangat penting. Pahami kembali struktur paragraf. Materi yang saya tulis belum terlalu dalam membahas tentang penyusunan paragraf. Melalui pertanyaan ini, akan saya coba perdalam.

Basic Paragraph Structure.

1.    Topic Sentence (Main Idea)
a.    Major Supporting Detail
Minor Supporting Detail

b.    Major Supporting Detail
Minor Supporting Detail

c.   Major Supporting Detail
Minor Supporting Detail

2.   Closing Sentence (Restate Main Idea or make a Prediction)

Ini struktur paragraf yang lebih lengkap. Jadi kalimat penjelas itu terbagi menjadi 2:
1) kalimat penjelas mayor; dan 

2) kalimat penjelas minor. 

Kalimat penjelas mayor menjelaskan kalimat topik. Kalimat penjelas minor 
menjelaskan.

Kalimat penjelas mayor. Kemudian, diakhiri dengan kalimat penutup bila diperlukan.

Itu dari segi struktur. Kemudian, ini dari segi kalimat penjelasnya:

Kalimat penjelas itu juga macam-macam. Bisa berupa fakta, alasan, contoh, data, dan lain sebagainya.

Praktik menulis paragraf yang tepat, sekiranya begini. Selalu tanyakan "what/why" apa atau kenapa dari kalimat topik.

Jika kalimat topik membutuhkan detail apa, maka jelaskan apanya.

Jika kalimat topik butuh detail kenapa, maka jelaskan kenapanya.

Satu lagi, jika apa dan kenapa tidak berfungsi, saatnya berpikir alternatif dengan kata "jika". Yang ini agak susah dijawab dengan tulisan. Namun, beberapa paragraf dalam tulisan materi saya ada juga yang menggunakan alternatif kata "jika". 


Pertanyaan  dari AAM NURHASANAH, S.Pd. Kp. Gajrug, Lebak-Banten.

Bagaimana membuat sebuah paragraf yg baik dan menarik untuk dibaca? karena sudah berkali-kali saya coba buat tulisan, tulisan saya kurang menarik dan biasa saja. Tidak seperti om jay, om bams, om budi, bahkan Mas Imam. Adakah tips khusus untuk mengembangkan sebuah diksi,kalimat, dan paragraf yg menarik untuk dibaca???

     Jawaban narasumber :

Ini agak dalam pembahasannya. Paragraf yang baik dan benar harus memperhatikan koherensi dan kohesinya. Jika keduanya terpenuhi, paragraf baik.
Koherensi berarti logikanya nyambung dari kalimat topik hingga minor detailnya. 

Kohesi berati kata, diksi, konjungsi yang dipakai tepat hingga mudah dibaca.
Setidaknya ada 2 model yang bisa membantu Ibu bagaimana menyusun paragraf yang baik:

Picture Step 1 grammar

Model pertama. Point : kalimat topik. 
Elaborate: penjelasan kalimat topik (major detail). 
Evidence: bukti yang menjelaskan major detai (minor detail) yang bisa berisi fakta, quote, data, atau contoh. 
Link : diakhiri dengan menyambungkan semuanya di penutup.

Picture Model kedua
Ini model yang ke-2. Claim: klaim sebagai pernyataan kalimat topik. 
Proof: bukti yang bisa anda berikan untuk mendukun kalimat topik. dan 
Relevance: kaitan keduanya sebagai kesimpulan atau penutup jika diperlukan.

Pertanyaan dari Sius SMA 2 Salatiga:

Ijin bertanya, Tentang penggunaan kalimat, kata atau juga frasa. Terkadang dalam menulis buku ada beberapa istilah teknis yang justru kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sedikit aneh, dan mungkin berubah pemahaman bagi pembaca.
Adakah ketentuan dari penerbit bahwa naskah diupayakan dalam bahasa Indonesia yang baku ? Saya baru membuat 2 buah buku melalui penerbit independen, Ada sedikit "kebebasan" Dalam soal naskah. Terimakasih sebelumnya. 

Jawaban :

Tidak ada. Dalam tata bahasa indonesia yang resmi pun kata asing boleh dimasukkan dengan cara penulisan tertendiri. Biasanya dengan dicetak miring. Semua tergantung konteks dan terget pembaca sebetulnya. Penerbit besar seperti Elexmedia, naskah teman saya diterbitkan di sana dengan gaya bahasa elu gue. Tidak msalah karena target pembaca anak alay.

Pertanyaaan dari Mukminin Lamongan :

Mas Imam mau nanya, Sebaiknya dlm karya ilmiah menggunakan paragraf deduktif, induktif  atau campuran . Atau boleh semuanya. Mohon pencerahannya. 

Jawaban :

Secara umum, boleh semuanya. Namun, dalam teori penulisan akademik, supaya paragraf mudah dipahami gunakan paragraf deduktif. Jadi, kalimat pokok selalu di depan. Dalam penulisan artikel jurnal juga seperti itu. Sejauh saya mengamati, penerapan paragraf deduktif, induktif  atau campuran, itu hanya diaplikasikan dalam reading atau naskah bacaan untuk ujian bahasa atau ujian sekolah. Namun, praktek dalam menulis, yang banyak digunakan adalah paragraf deduktif.

Pertanyaaan dari Agus Ponjong :

Apakah dalam penulisan  paragraf dalam sebuah buku misalnya buku untuk materi pembelajaran maka diksinya harus selalu akademik atau boleh bervariasi? 

Jawaban :

Sekali lagi, pemilihan diksi tergantung target pembaca. Dalam konteks buku pelajaran sebaiknya gunakan diksi yang formal saja. Siswa akan bingung jika diksi terlalu akademik. Beda misalkan membuat buku teks untuk anak kuliah atau kalangan akademisi, dimana ini sudah masuk ke penulisan akademik, gunakan diksi akademik.

Pertanyaaan dari Ridwan Nurhadi – Tangerang.

Apakah menulis harus benar benar menggunakan kata baku meskipun untuk cerita fiksi. 

Jawaban :

Tidak. Sederhananya, mengutip judul lagunya almarhum Glen Fredly, "terserah . . ." Sesuka penulisanya jika ingin menulis fiksi. Namun, ada satu hal yang tetap dijadikan patokan, setiap satu paragraf pasti ada inti pesan yang ingin disampaikan meskipun dalam penulisan fiksi. Tetapi, dalam penulisan paragraf tersebut tidak seketat penulisan non-fiksi.

Pertanyaaan dari Uri dari Majalengka :

Bagaimana cara membuat kalimat utama yang baik ketika kita akan menyusun paragraf dan dimana menempatkan kalimat utama tersebut pada suatu paragraf, apakah di awal, di tengah, atau di akhir paragraf, agar lebih mudah dalam menjabarkan menjadi sebuah paragraf yang utuh dan baik? 

Jawaban :

Kalimat topik selalu taruh di depan. Kalimat topik dilengkapi dengan controling idea atau ide pengontrol. Ide pengontrol itulah yang dijelaskan dalam kalimat penjelas. Kalimat penjelas dapat berupa aneka detail atau contoh. Kemudian diakhiri dengan kalimat penutup jika dibutuhkan.

Pertanyaaan dari Suheri tangerang.

Bagaimana cara membuat diksi yang indah dan bisa dinikmati oleh pembacanya? 

Jawaban :

Ada 6 prinsip dalam memilih diksi:

1. Pilih kata yang mudah dipahami
2. Gunakan kata yang spesifik dan kontekstual
3. Pilih kata yang paling kuat diantara pilihan diksi yang ada
4. Lebih baik, tekankan pada penggunakaan kata yang positif daripada sebaliknya
5. Hindari penggunaaan diksi yang tinggi secara berlebihan
6. Juga hindari diksi yang terlalu jadul

Jadil, sekali lagi, diksi dipilih sesuai target pembaca.

Pertanyaaan dari Yulius Roma_Tana Toraja_Sulawesi Selatan :

Panduan menulis malam ini sangat menarik. Masalah yang sering saya temui adalah menyusun kalimat topik. Topik seringkali sudah siap tempur dalam pikiran, namun ketika akan dirangkai masuk tulisan, topik itu menjadi rumit kembali untuk dirangkai.  Adakah trik paling sederhana bagaimana menyusun kalimat topik dalam sebuah paragraf.  

Jawaban : 

Paling sederhana, bikin outline kalimat topiknya terlebih dahulu dalam bentuk ceklist atau dinomorin. Ini sebenernya masuk ke pembahasan lain, tapi mari kita singgung sedikit. Jadi, dalam menulis, bikin dulu outlinenya. Mulai dari Pendahuluan, isi, dan penutup. Dari pendahuluan sudah ditentukan apa yang akan dibahas (thesis statement). Thesis statement/poin yang akan dibahas dijadikan controlling ide pada setiap kalimat topik. Diakhiri dengan menyimpulkan semuanya. Ketika outline bagus, tulisan bagus. Silakan perhatikan tulisan materi saya di blog. Pada pendahuluan sudah ketahuan akan membahas apa. Pada isi, itu lah yang dibahas. Terakhir, saya kasih kata2 penutup sedikit. 

Pertanyaaan dari Fatimah,S.si :

Adalah tip dan trik apa yang di gunakan agar tulisan kita terlihat baik dan menarik,dan  bagaimana cara kita memilih. Kata yang benar,dan bagaimana cara kita bisa membuat kalimat campuran yang baik.

Jawaban : 

Tulisan yang baik dan menarik adalah yang ditulis sesuai dengan kaidah penulisan, terutama ini dalam konteks penulisan formal dan akademik.

Tips dan trik:

Perbanyak input: membaca, Berlatih: mencoba sedikit demi sedikit beberapa dasar menulis yang sudah kita pelajari. Menulis: rajin menulis.

Kata yang benar adalah kata yang digunakan sesuai dengan tujuan dan konteksnya. Kata yang baik adalah kata yang bisa menyampaikan informasi sesuai yang diinginkan oleh penulis sesuai dengan target pembaca. Pemilihannya berati disesuaikan dengan tujuan, konteks, dan target pembaca.

Kalimat campuran adalah gabungan dari kalimat gabungan dan kalimat kompleks. In rumusnya:

Compound Sentence (Kalimat Gabungan):
I kicked the ball and it hit Tom. (Independent Clause and Independent Clause).

Complex Sentence (Kalimat Kompleks)
Tom cried because the ball hit him (Independent Clause and Dependent Clause)

Kalimat gabungan dibuat dengan menambahkan salah satu kata dari singkatan FANBOYS: for (untuk), and (dan), nor (maupun), but (tetapi), or (atau), yet (namun), so (sehingga). Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti when (ketika), after (setelah), because (karena), since (sejak), although (meskipun), while (sementara), dan lainnya.

Jika sudah sesuai dengan kaidah di atas, kalimat campuran akan baik. Silakan lihat contoh pada materi di blog.

Pertanyaaan dari Iin Kediri :

Apakah ide yang kita tulis harus dijelaskan dengan detail ataukan kita menganggap bahwa pembaca sudah punya schemata sehingga beberapa hal tidak perlu kita jelaskan dengan rinci. 

Jawaban : 

Pertanyaan memiliki 2 dimensi.

Jika dalam karya fiksi dan/atau dalam penulian personal, ide justru disimpan. Seperti cerpen yang ada plotnya, ide ditaruh di klimaks atau dikasih tahu pelan-pelan supaya pembaca penasaran.

Namun, dalam penulisan non-fiksi dan/atau penulisan formal dan akademik, ide justru harus disebutkan secara gamblang di depan. Ide harus sudah ditonjolkan di pendahuluan, diturunkan jadi kalimat topik, dan disimpulkan di akhir.

Misal, dalam menulis artikel jurnal, bahkan ada yang namanya abstrak yang berisi isi tulisan, dengan membaca abstrak saja sudah tahu gambaran seluruh isi artikelnya.

Dalam penulisan formal, para jurnalis meletakkan semua ide/informasi penting di paragraf pertama, baru informasi yang tidak penting di belakang. Namanya model piramida terbalik seperti ini.

Pertanyaaan dari Miseran dani  Kalsel :

Melihat dan menyimak tulisan bapak saya percaya bp sangat kompeten dalam bidang ini... Yg saya tanyakan..
1.sejak kapan bapak memulainya dan adakh perasaan jenuh bagaimana mengatasinya..
2.Pernahkah tulisan bapak tidak dhargai orang dan bagaimana kita mnimbulkn kepercayaan kepd tulisan kita sendiri.?

Jawaban : 

1. Saya mulai rajin menulis sejak kuliah S1 dengan mengikuti salah satu komunitas menulis tentang narasi lokal di sini:
https://akumassa.org/id/author/imam-fitri-rahmadi
Jenuh sesekali datang. Caranya tutup laptop, jalan keluar. Baru balik lagi dengan pikiran yang fresh.

2. Pernah, jangankan orang lain, saya juga pernah tidak menghargai tulisan saya sendiri
Menulis merupakan sebuah proses yang lambat laun kita akan suka dengan tulisan kita sendiri. Selama proses tersebut, "bodo amat" saja dengan semua kata orang. Silakan baca tulisan saya 7 tahun silam, jelek banget.
Seperti semangat yang selalu disampaikan Omjay, menulis saja terus dan buktikan apa yang terjadi.

Yang lebih penting, temukan motivasi internal dalam diri kenapa harus menulis. Kalau motivasi internal sudah kuat, gak peduli kata orang, menulis tetap jalan terus.
Jika kita sendiri sudah suka dengan tulisan sendiri, itu sudah jauh dari cukup ketimbang ambil hati komen orang lain.

Pertanyaaan dari Ropiyanto Curup - Bengkulu :

Dalam beberapa bntuk paragraf. Mana yg lbih efektif digunakan, deduktif atau induktif? 

Jawaban : 

Dalam penulisan formal dan akademik, paragraf deduktif lebih efektif dan sangat disarankan.

Pertanyaaan dari Bu Iez dosen Ikip Jember.

1.  Menulis yg kreatif tdk datang di bawah pohon, ttp dg merenung melihat fenomena barangkali ide ada di situ, awal sy bingung sekali krn pengalaman sy menulis artikel scopus berlatar blkng dasar teori yg mengkerucut, nahh pertanyaan saya, yg mana yg dikatakan menulis itu mudah jika tdk punya dasar literasi yg cukup.

2. Jika itu mudah di tulis, apakah benar2 tdk pernah di tulis org lain tanpa hrs menulis studi pendahulu.

3. Kebetulan sy riset ttg bimbilon yaitu bimbingan online kebetulan sy merujuk pd artikel Khasvari dr Austria, ttg peningkatan Social Presence Bagi pebelajar jarak jauh, barangkali bisa ada pencerahan dr Mas Imam Fitri Rahmadi.
Awal sy gabung di grup ini unt referensi sy pd pengguna pebelajar jarak jauh. 

Jawaban : 

1. Menulis personal seperti update status dan lainnya mudah. Menulis formal seperti menulis berita dan laporan dormal membutuhkan dasar literasi yang cukup. Menulis akademik seperti menulis laporan penelitian dan artikel jurnal membutuhkan dasar literasi yang tinggi.

2. Ada yang bilang, tidak ada yang baru selama masih berada di bawah sinar matahari, jadi segala kebaruan (inovasi) yang ada pasti ada silsilahnya ke belakang, maka studi pendahuluan paling tidak dengan systematic literature review harus dilakukan. Apalagi menulis untuk jurnal Scopus, novelty-nya harus kuat. Untuk menyatakan bahwa tulisan punya kebaruan, tidak bisa hanya dengan klaim semata, tetapi harus dengan pembuktian dari apa yang sudah dilakukan oleh penelitian sebelumnya ternyata belum menyentuk pada fokus penelitian yang kita lakukan.

3. Saya perlu membaca artikelnya dulu.

Pertanyaaan :

Apakah dalam ragam tulisan formal dan akademik harus selalu SPOK? Atau haruskah selalu ada unsur tersebut?

Jawaban : 

Tidak, susunannya bisa divariasi. Namun, minimal harus ada unsur Subjek dan Predikat untuk bisa sah diaggap sebagai kalimat.

Pertanyaaan dari Etik Nurinto,S.Pd.SD, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah:

Assalamualaikum, saya penulis pemula, bagaimana ciri -ciri paragraf yang baik , apa harus lengkap dengan struktur kalimat dan pemilihan diksi yang tepat atau yang enak dibaca saja . 

Jawaban : 

Secara teoretis, paragraf yang baik sudah saya jelaskan pada materi di blog dan diperjelas kembali lewat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.

Sebagai penulis pemulia, bisa bertahap tidak harus langsung sempurna sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jadi, mohon maaf, Bapak dan Ibu; jangan sampai semua teori yang kita bahas malam ini justru bikin keder untuk menulis. Pelan-pelan saja mari kita pahami dan mulai terapkan sedikit demi sedikit.

Pertanyaaan dari Etik Susanti SDN Tunggaknongko Semanu Gunungkidul Yogyakarta.:

Assalamualaikum, Ijin bertanya, teknik  curah gagasan yg seperti apa agar efektif dan efisien dlm era ini sebagai upaya menyimpan ide yg mudah terlupakan  saat terlintas dipikiran kita? kalau jaman dl tulis dikertas kecil (blocknote) dan Hp. 

Jawaban : 

Curah gagasan atau bahasa kerennya brainsorming memang sering dilakukan untuk menghimpun ide, biasanya lebih efektif dengan berdiskusi dengan orang lain sebagai lawan berpikir.

Cara yang sudah disampaikan oleh Om Bud kemarin itu out-of-the-box banget dalam mencari dan mendokumentasikan ide.

Pertanyaaan Noralia Semarang.

Jika suatu bacaan terpatok pada EYD yang tepat, benar ataukah tidak jika nanti tulisan tersebut akan terasa lebih kaku, seperti saat kita sedang membaca tulisan ilmiah. Lain cerita kalau novel atau cerpen atau mungkin tulisan fiksi lain,, sepertinya tidak melulu menggunakan EYD yang baku. Mohon komentarnya. 

Jawaban : 

Betul, tulisan fiksi lebih fleksibel daripada tulisan non-fiksi.
Namun, kalau terkait EYD atau yang sekarang adalah PUEBI, kedua jenis penulisan harus sesuai dengan aturan PUEBI kalau tidak akan sudah dipahami.
Beda kalau terkait kata, kalimat, dan paragraf, karya fiksi terserah tidak harus sesuai dengan aturan dasar yang kita bicarakan barusan.

Pertanyaaan Rusmin (G8-017) Kab. Barito Kuala KALSEL.

Penulisan kata yang kurang sesuai dengan tujuan atau kontek tulisan, seperti mestinya diksi tersebut lebih pada personal tetapi sebenarnya tujuan tulisan itu adalah laporan. Apakah ini tidak merupan bagian dari pembeda/sekat antara penulis dengan penerima laporan sehingga kedekatan secara personalpun dirasakan. Dan apa dampak dari kesalahan diksi itu? 

Jawaban : 

Laporan dalam konteks pekerjaan memang harus dengan diksi yang formal untuk menunjukkan profesionalitas. Kedekatan personal dalam konteks kerja profesional justru menjadi hal yang kurang pas. Bisa saja dekat secara personal, namun untuk urusan laporan kerja tetap formal. Diksi yang salah membuat kalimat susah dipahami dan bisa berujung pada miskomunikasi.

Pertanyaaan Asep Dahlan. Kepsek SLB Jakarta.

Mhn maaf saya termasuk terlambat belajar menulis yg selama ini tdk banyak buku yang saya baca. Saya tertarik dengan materi yang disampaikan pak Imam. Dalam membuat paragraf kadang saya terjebak dengan kalimat yang sdh terlanjur di tulis. Bagaimanakah agar   agar saya bisa mengalir manulis sebuah paragraf ? 

Jawaban : 

Hal tersebut sangat lumrah. Supaya tidak terjebak, buat outline pointer yang ingin ditulis. Bisa juga menerapkan strategi free writing, yaitu tulis aja semuanya dulu yang ada dikepala baru nanti dirapihkan lagi.

Pertanyaaan Budi Artopo, SDN MeLikan Rongkop GunungkiduL Yogyakarta.

Bagaimana cara mengembangkan tema jika sudah mentok Pak? 

Jawaban :

Lihat dari perpektif yang lain. Ibarat tema merupakan suatu bangun, awalnya kita menulis dengan sudut pandang dari sebelah kiri bangunan, kembangkan dengan melihat dari sudut sebaliknya dan sudut yang lainnya.


Pertanyaaan Wiji – malang. 


Jika pembaca kita adalah murid SMP mata pelajaran Bahasa Inggris, dalam membuat paragraf berdasarkan level pahaman mereka , yang sesuai paragraf deduktif atau induktif? 


Jawaban : 


Dalam menulis, supaya lebih mudah dipahami, gunakan paragraf deduktif.


Pertanyaaan  Siti Fatimah Mojokerto. 


Saya baru belajar menulis di mulai  pada group belajar. Dan selama ini saya menulis diblog tanpa menggunakan aturan sama sekali. Saya biarkan tulisan saya mengalir sebebas-bebasnya. Menulis bebas ada kenikmatan tersendiri.  Rasa takut kalau tulisan kita salah tak ada lagi. Namun jika saya mengikuti aturan yg detail tersebut saya malah blm . Apakah tulisan saya yg gaya bebas ini merupakan tulisan yg kurang benar. Dalam kaidah menulis? 


Jawaban : 


Kaidah menulis sesuai dengan konteksnya, dan lebih berlaku untuk penulisan formal dan penulisan akademik. Dalam kasus Ibu Siti yang menulis di blog secara personal dengan gaya sesuka hati, sebetulnya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang dan menyalahkan. Namun, bisa jadi tulisan akan sedikit susah dipahami karena tidak sesuai dengan kaidah yang lumrah. 


Saran saya, sebebas-bebasnya menulis, sebaiknya kaidah dasar menulis tetap diterapkan meski tidak seketat kalau mau menulis formal atau akademik.


Pertanyaaan Tito _limapuluh kota sumbar.


Assalamualaikum mas imam, smoga sehat selalu di negeri orang. Karna peserta lain sudah banyak yg bertanya tentang materi. Maka saya akan bertanya sedikit melenceng. Bagaimakah caranya agar kita bisa kuliah keluar negeri dengan beasiswa? 


Jawaban :  

Terima kasih atas pertanyaan yang berbeda ini. Cerita persiapan diri dan perjuangan saya dalam meraih beasiswa saya tuliskan di sini: 


https://tigabelase.wordpress.com/category/road-to-phd  


Sungguh perjalanan yang cukup pajang. Bapak dan Ibu akan mengetahui berapa kali saya belajar bahasa inggris untuk bisa sampai pada sampai titik ini, berapa kali saya gagal melamar beasiswa, berapa kali mengirim email ke professor di luar negeri, dan lainnya. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin kuliah ke luar negeri dengan beasiswa. 


Tambahan dari narasumber 


Terkait dengan kata dan penggunaannya secara umum, sebetulnya bahasa dapat dibagi menjadi 2 kategori: spoken dan written language atau bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan biasanya kosa kata dan struktur kalimatnya lebih sederhana, model seperti ini banyak diadaptasi untuk menulis dengan hara personal. Bahasa tulisan digunakan untuk penulisan formal dan akademik yang biasanya baik kata maupun struktur kalimatnya lebih kompleks. Jadi, jika ingin menulis formal dan akademik, pastikan yang dipakai adalah bahasa tulisan. Bahasa tulisan sangat konsern terhadap variasi penggunaan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf. 


Terkait dengan kalimat, 4 jenis kalimat dan fungsinya ini perlu diperhatikan kembali. 


1. Kalimat pernyataan, berfungsi untuk menceritakan sesuatu. 

2. Kalimat pertanyaan, berfungsi untuk menanyakan sesuatu. 

3. Kalimat perintah, berfungsi untuk menginstruksian sesuatu.

4. Kalimat seruan, berfungsi untuk mengespresikan seuatu yang mengherankan/mengagetkan. 


Silakan keempatnya bisa digunakan untuk variasi tulisan, selain menggunakan formula kalimat sederhana, gabungan, kompleks, dan campuran. 


Types of paragraph:



1.   Descriptive paragraph.
Descriptive paragraph aim to :
a. show the reader what a thing or person is like without physical contact.
b. allow the reader to experience the phenomenon, item or event described in detail.

Jika bapak dan ibu hanya ingin menjelaskan apa itu virus corona, gunakan paragraf deskriptif.

2.    Narrative paragraph.
Narrative paragraph aim to tell about a sequence of actions.
Their features are:

a.    There is always a clear beginning, middle, and end.
b.    They usually follow a plot line.

Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan asal mula virus corona, gunakan paragraf naratif.

3.    Expository paragraph.
Expository paragraphs aim to:

a.    Help the reader undestand following a process or a method.
b.    Provide information either explaining it or giving instructions

Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan cara pencegahan virus corona, gunakan paragraf ekspositori.

4.    Persuasive paragraph.
Persuasive paragraphs aim to get the reader reaction, accepting or understanding the writer’s position or proposal.

Their features are :
a.    They often require the gathering of facts and research
b.  Usually rhetorical devices are employed in order to influence the reader’s opinion.

Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan bahwa virus corona itu sangat berbahaya, gunakan paragraf persuasif. 



Teaching- Hamburger- Parts of a paragraph | Pendidikan


Satu lagi tentang paragraf, seperti ini gambarannya jika dikemas dalam model humburger. 


Kalimat topik ada di atas. Kalimat penjelas di tengah. Kalimat penutup di akhir.



Narasumber memberikan tugas untuk latihan menulis.

Latihan 1:

Bapak dan Ibu, paragraf ini belum memiliki kalimat topiknya. Jadi kasihan, anak kalimatnya tidak memiliki induk kalimat. Minta tolong untuk dibuatkan kalimat topiknya kemudian ditaruh sebagai kalimat pertama pada paragraf tersebut.

Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.

Latihan 2: 

Paragraf ini baru ada kalimat topiknya. Mohon tambahkan minimal 3 kalimat penjelas:

Pendemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia.

Latihan 3:

Buat satu paragraf dengan tema bebas. Kalimat topik harus memiliki ide pengontrol. Paragraf memiliki setidaknya 3 kalimat penjelas yang mendukung atau menjelaskan lebih lanjut ide pengontrol.

Terima kasih Bapak dan Ibu,

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian materi dan menjawab pertanyaan.

Latihan di atas bisa dengan sukarela dikerjakan dan dikoreksi bersama nantinya.
Terus semangat selalu dalam menulis.

Demikian Pelajaran yang disampaikan. 

4 comments:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...