Tuesday, April 28, 2020

Merancang Desain Pembelajaran Modern dengan Dr. Paidi

Merancang Desain Pembelajaran Modern
Narasumber : Dr. PAIDI, S.Pd., M.TPd
By Nani Kusmiyati 

  AndiPublisher.com new - Tempat belanja buku DISKON secara ONLINE


CV Narasumber
Narasumber lulusan lulusan S3 tahun 2019 di Prodi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta yang sebagai Kepala SMKN 4 Kota Bengkulu, Ketua MKKS SMK Kota dan Provinsi Bengkulu, dan masih banyak jabatan-jabatan lain yang pernah dan sedang beliau handle hingga saat ini. Beliau memiliki dua tanda kehormatan yang sangat menonjol yaitu : Satyalancana Karya Sapta X tahun dari Presiden Republik Indonesia tahun 2016 dan Instruktur Nasional Pelatihan Kurikulum 2013 dari Mendikbud tahun 2016.

Pelatihan yang pernah diikuti yaitu Pelatihan Kepala Sekolah / Madrasah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudyaaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan tahun 2014, bersertifikat.

Buku-buku yang pernah dipublikasikan mayoritas tentang Laporan keuangan dengan MyOB 19.6” Edisi Perdana, I dan II yang diterbitkan oleh Penerbit Salemba IV Jakarta, juga Buku Ajar Simulasi dan Komunikasi Digital, Tingkat SMK/MAK Kelas 10 tahun 2019 diterbitkan oleh Penerbit ANDI Jogyakarta.


DUA JURNAL INTERNASIONAL karya beliau :

1.  Utilization Of Mobile Phones To Apply Blended Learning At Higher Education: Computer Subject at State Vocational Hight School 1 Bengkulu oleh Paidi & Basuki Wibawa, International Jounal Of Engineering & Technology (IJET), (2018).
2.  The Developnen Of Blended Learning Based On Handphone for Computer System Subject on XI Grade of SMKN 1 Bengkulu City,  Humanities & Social Sciences Reviews eISSN: 2395-6518, Vol 7, No 3, 2019, pp 497-502.

Dan jika berkenan untuk visit silakan melihat alamat kediaman beliau di:

Jln. Timur Indah V No. 39 RT. 19  Kelurahan Sidomulyo Kota Bengkulu 38229, dan jika berkenan menghubungi beliau dapat melalui contact beliau di :
HP                       :      082306325497, 081539320222
Alamat Surel       :      paidi1971@gmail.com
Blog                    :      https://pdsmk1bkl.blogspot.com

Salam kepada seluruh peserta Menulis group ke – 8, selalu diucapkan Om Jay, penyelenggara dan mempersilakan Mr. Bambs sebagai moderator. Om Jay juga mengirimkan Bio data narasumber dan materi Desain Pembelajaran melalui WA Group.
Kemudian kuliah diberikan oleh narasumber sebagai berikut:

Teknik dan pendekatan yg digunakan untuk tetang cara mendesain buku pembelajaran adalah mengacu pada tokoh fenomenal bidang desain  pembelajaran yaitu Prof Dr. Atwi Suparman (mantan rektor UT) dan Dick & Carrey.

Secara umum dalam mendesain pembelajaran dan sekaligus menghasilkan bahan pembelajaran secara ilmiah dpt dilihat pada bagan seperti terdapat pada Power Point pelajaran beliau.


Proses perancangan desain pembelajaran terdiri dari 11 langkah yg dpt sy uraikan sebagai berikut:

Langkah 1, diperlukan data dan informasi guna mendapatkan masukan dari siswa/pengguna atas materi-materi yg dianggap sulit atau perlu dipelajari lebih lanjut.

Langkah 2, Berdasarkan data yg di dapat dari langkah 1, selanjutnya perlu dibuat identifikasi kebutuhan peserta didik terhadap mata pelajaran / bahan yang akan dirancang.

Langkah 3, Berdasarkan data seperti pada langkah ke-2, Buatlah Analisis instruksional/pembelajaran mata pelajaran yang akan kita rancang.

Langkah 4, Seorang perancang perlu mendapatkan gambaran karakteristik peserta didik yang akan menjkadi target atau pemakai buku yg kita rancang.

Langkah 5, Membuat rumusan tujuan instruksional khusus (penggunaan istilah instruksional disini berdasarkan sumber asli yg di karang oleh Dick & Carrey yaitu instructional).

Langkah 6, Melakukan penyusunan TES.

Langkah 7, Membuat perencanaan strategi instruksional/pembelajaran yang akan digunakan (dalam hal ini narasumber merancang pembelajaran secara blended learning).

Langkah 8, Mengembangkan dan memilih bahan instruksional. Bahan pembelajaran yang dirancang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu bahan tercetak dan bahan online. Dalam hal perancangan bahan pembelajaran (Buku) dapat digunakan teori Rothwel dan untuk bahan online bisa menggunakan teori Hannafin).

Langkah 9, setelah draft bahan tersedia (langkah 8) selanjutnya perlu dilakukan evaluasi formatif sebagai berikut: 1. one-to-one expert dengan melibatkan 4 orang pakar (pakar Desain, pakar Media, pakar Materi, pakar bahasa); 2. One-to-one learner (melibatkan 3 orang siswa yang berasal dari siswa peringkat atas, menengah dan bawah); 3. Evaluasi Small group (melibatkan sekitar 9 siswa yang berasal dari kelompok, menengah dan bawah); 4. Field trial yaitu tahap uji coba luas dengan melibatkan siswa sekitar 30 siswa  yang berasal dari kelompok atas, menengah dan bawah. Setiap tahapan muai evaluasi one-to-one, evaluasi small group akan menghasilkan namanya draft bahan pembelajaran dan setelah field trial baru dinamakan prototipe bahan pembelajaran.

Khusus untuk langkah yng terakhir Evaluasi Sumatif sifatnya tidak harus dilakukan dalam proses desain pembelajaran karena harus dilakukan oleh pihak lain.

Sedangkan untuk buku pembelajaran yang dirancang untuk keperluan penerbit bisanya pihak penerbit sudah mempunyai format/standar tertentu. Sehingga jika penulis ingin memasukkan buku agar bisa diterbitkan oleh penerbit maka format yg digunakan harus mengacu kepada format yang digunakan oleh penerbit.

Contoh bahan pembelajaran yang di rancang dengan format Research dan versi penerbit adalah seperti berikut:

GAMBAR 


Demikian sebagai pengantar sekilas cara mendesain bahan pembelajaran yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawaban, Insyallah jika tahapan di atas dilakukan secara benar maka tidak akan terjadi kasus salah gambar, dll sebagaimana dahulu pernah terjadi di buku-buku yang beredar di lingkup DIKBUD khususnya jenjang Sekolah Dasar.

Berikutnya sesi tanya jawab dan dirangkum dalam jawaban.

Narasumber pernah merancangkan sebuah desain pembelajaran utk SMKN 1 Bengkulu, dimana waktu itu pihak sekolah kesulitan untuk mencari pola pembelajaran untk siswanya yg melaksanakan di industri sekitar 6 bulan, maka dibuatlah sebuah konsep bernama Blended Learning dan dapat digunakan dengan media yg dipakai siswa dan guru kala itu yaitu Handphone. Praktek pembelajarannya memang menggabungkan antara pembelajaran di classroom dengan online. 

Untuk cara praktis dalam  mendesain pembelajaran seperti SMKN Bengkulu, dapat dikuti alur yang terdapt pada slide no. 7 tentang Pengembangan Blended Learning Berbasis Handphone (BLISH). (maaf Gambar yang ada di PPT tidak dapat di tempel disini, hahaha)

Narasumber menjelaskan untuk pakar yg yang terdapat pada langkah ke 9,  Prodi S2 Teknologi Pendidikan Unib sudah banyak yang bisa, dengan syarat yang bersangkutan sudah mencapai kualifikasi S3/Doktor (Pendapat Sugiyono dalam Bukunya R&D) atau juga di kampus atau lembaga lain juga bisa selagi sudah ada bukti kepakarannya.

Narasumber menjelaskan yang dimaksud evaluasi formatif disini adalah evaluasi terhadap draft bahan pembelajaran yang terdiri dari1.Evaluasi one-to-one kepada Expert (Pakar/Ahli) dan peserta didik/siswa, 2. Evaluasi small group terdiri dari 9 orang peserta didik/siswa yang berasal dari kelompok atas, kelompok menengah dan kelompok bawah, 3. Field Trial yaitu uji coba luas kepada 30 orang peserta didik/siswa yang berasal dari kelompok atas, kelompok menengah dan kelompok bawah.

Software yang pernah digunakan oleh narasumber untuk e-learning yaitu moodle, murah meriah karena sifatnya open source. Tapi saat ini tidak bisa masuk lagi link tersebut karena sudah diserahkan ke pihak SMKN 1 Kota Bengkulu.

Narasumber menjelaskan bahwa Blended learning adalah sebuah model pembelajaran, sedangkan yg dimaksud dengan Reseacrh versi penerbit adalah aturan tata cara pengetikan seperti desain cover, isi dll, yang diberlakukan oleh penerbit jika buku tsb dicetak oleh Penerbit.

Penjelasan berikutnya tentang Teori Rowntre dan Hannafin. Teori Rowntre adalah cara-cara untuk membuat buku yg sifatnya tercetak. Dan Hannafin cara untuk merancang bahan yang non cetak atau online.

Pada prinsipnya Desain pembelajaran dapat digunakan untuk semua mata pelajarannya, yag membedakannya terletak pada isi pelajarannya.

Kelebihan desain pembelajaran ini yaitu akan mengasilkan buku pembelajaran yang bisa dijamin kebenaranya selagi prosedur dikerjakan dengan benar. Kelebihan lain juga desain pembelajaran ini akan dilengkapi dengan instrumen pendukungnya termasuk  model pembelajarannya sudah ditentukan.

Waktu yang dibutuhkan bagi narasumber  untuk 1 buku /tahun dibutuhkan antara 6 sampai 10 bulan dengan memiliki pekerjaan lain. Jika focus utk desain buku saja perlu waktu 6 bulan dapat selesai. Setiap bab materi ajaran di buku harus diujikan untuk tahap Small group dan Field Trial.

Penerbit sudah mempunyai Format atau versi tersendiri, penulis tinggal mengikuti outline. Sebagai contoh narasumber mendapatkan amanat dari penerbit Erlangga untuk membuat buku-buku SMK dengan outline sudah ditentukan pihak Erlangga.

Jumlah halaman untuk membuat buku tidak ada persyaratannya. Yang pasti buku tersebut dapat mencakup semua materi hasil analisis pada langkah 3 dan 5.

Untuk pelaksanaan pembelajaran online yg sederhana dan mudah salah satunya dapat menggunakan WhatsApp karena hampir semua orang tua /siswa sudah familiar, atau dapat juga menggunakan aplikasi yang sudah dimiliki sekolah. Bilamana kondisi insfrastruktur sekolah dan kemampuan orang tua memadai dapat juga menggunakan aplikasi seperti Skype, micosoft team guna mendukung pembelajaran secara online. 

Untuk pelaksanaan tes online saat ini banyak sekali aplikasi yang gratis untuk  ujian online seperti FlyExam dll. Jika di sekolah memiliki SDM bidang IT yang bagus maka dapat juga mengembangkan aplikasi moodle. Aplikasi ini sangat baik untuk melaksanakan pembelajaran dan ujian online.
Aplikasi e-learning yang digunakan adalah moodle versi 3 ke atas, software ini bersifat open source dan gratis serta mempunyai fasilitas sangat baik untuk pembelajaran dan ujian online.

Hal menarik dari model BLISH ini adalah:
a.    Pembelajaran memadukan antara pembelajaran tatap muka di kelas dengan pembelajaran online yang dilengkapi dengan pedoman untuk guru, dan siswa.
b.    Pembelajaran dapat berlangsung setiap saat.
c.    Guru dapat mengendalikan pembelajaran.
d.    Penugasan dapat dikirim ke web pembelajaran.
e.    Ujian dapat dilaksanakan secara online.

Integrasi antara pembelajaran konvensional (tatap muka dikelas) dengan pembelajaran online dengan prangkat akses handphone. Gambarnya sebagai berikut:

Pengertian dan Manfaat Model Pembelajaran Blended Learning – GHAMA ...

5 comments:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...