Tuesday, April 7, 2020

Dua Jam belajar menulis dengan Om Bud



DUA JAM BELAJAR MENULIS TANPA IDE DENGAN OM BUD

By Nani


Jual Menulis Tanpa Ide - Kota Surabaya - EDU-Shop | Tokopedia



Membaca Cerpenting (Cerita Pendek Tidak penting)Om Bud Lucu banget. Mau ketawa sungkan sama suami, takut dibilang kok ketawa sendiri. Mau kirim WA ke group Belajar menulis 8 , tapi gak bisa ruang di bajak oleh admin. Akhirnya melanjutkan mendengarkan pelajaran. Penjelasannya lugas, spontanitas. Seperti kita sudah kenal lama. Ada tulisan yang benar-benar buat ketawa.
PLAK! (Aduh nyamuk banyak banget nih).  Padahal masih menjelaskan pelajaran.
Ada kalimat lagi yang buat ketawa:
‘Tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Buat kita-kita aja di group ini, nih. Hehehehe....
Lucu pooll, mungkin sampai pelajaran jam 9 malam, perutku kram karena menahan ketawa. Aku lirik disebelahku My husband sudah tidur. Untung sudah tidur, klo tidak aku dibilang “rather crazy”. (agak gila). Maaf kata-katanya kurang sopan. Sementara anak semata wayangku bermain drum,.gedubrang gedubreng,.gak tahu lagu apa yang sedang dimainkan. Yang jelas tidak menggangguku mengikuti pelajaran online yang super kocak. Aku baca dalam hati kalimat-kalimat di WhatsUps berjajar dan aku pindahkan ke word sudah mencapai 8 halaman padahal pelajaran baru satu jam. Pelajaran terus mengalir tapi belum dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta. “Amazing! Super duper,’ Aku tidak merasa lelah sedikitpun mengikuti pelajaran yang seolah-olah hanya chating satu arah.
Seneng sekali mendengarkan ceritanya terutama tentang temennya Asep yang menginspirasi narasumber. Apalagi ketika  menceritakan tips menulis yang menggunakan benda-benda disekitarnya. Kata-kata yang menurutku lucu namun ada ilmu di dalamnya:
“Kemudian saya pilih 6 benda yang tertangkap pancaindera. Kalo bisa pilih 6 benda. Itu jumlah yang ideal. Kalo kurang takutnya kedikitan. Kalo lebih ntar kita kebingungan sendiri karena kebanyakan.”
Sambil membaca cerita lucu episode berikutnya, suamiku terbangun dan bertanya. Sedang ngapain mah. Aku jawab, sedang belajar pah. Tanpa pertanyaan lagi suamiku ke kamar mandi membasuh mukanya.
“Wah, alamat banyak orderan. “ (Aku bergumam dalam hati).
“Mah, si bos belum makan.!” (si bos, panggilan anakku). Coba ditawari,”.
Pelajaran berhenti sejenak karena ada Iklan, hahaha.  Aku ketuk pintu kamar anakku sambil menanyakan,Mas gak dinner?” Menunya apa mah? Sambil tersenyum-senyum. “Goreng Telor!” Mau dimasakin mamah atau buat sendiri?”
“Mamah sibuk ya?” Sepertinya begitu,..jawabku.
“ Oke dech aku masak sendiri, mamah and papah mau?”
Aku langsung saja mengangguk. Tapi papahnya menjawab, ”untuk si bos saja.”
Tapi aku tidak balik di depan laptopku, tapi menemani anakku menggoreng sambil mencuci piring-piring yang masih tersisa belum di cuci.
Harum bau omelet menggugah seleraku. Satu piring omelet buatan anak semata wayangku, kami nikmati bersama. Rasanya nikmat bisa selalu makan bersama walau hanya dengan omelet dan orek tempe, yang tidak pernah absen menemani menu-menu lain.
Pada suapan terakhir, anakku berbisik, “Mah aku nanti carikan judul kualitative dan kuantitative ya, ada PR. Aku mengangguk sambil tersenyum. Selesai makan, aku rapikan piring-piring itu dan segera kembali di depan laptopku, untuk check chat yang tetinggal. Membaca cepat dan memindahkan di word untuk buat rangkuman. Sebenarnya bukan benar-benar rangkuman, karena pelajaran sudah tertata. Hanya mindahkan dari chat ke word, hahhaa.  
Alhamdulillah selesai sudah pelajarannya. Rasa kantukku mulai menyerang. Akhirnya aku berbaring sambil baca chat-chat terakhir di hp ku dan jatuh tertidur.

9 comments:

Jenis Penelitian Evaluasi 1

Jenis Penelitian Evaluasi Sugiono (2015) mengutip dari pendapat Kidder (1981), "there are many different types of evaluation depending ...