Tuesday, July 5, 2022

MENJADI COURSE MANAGER UNTUK SISWA MANCA NEGARA

 MENJADI COURSE MANAGER UNTUK SISWA MANCA NEGARA


 

Ada rasa senang, was-was dan exited ketika saya ditunjuk menjadi Course Manager (CM) untuk siswa manca negara. Saya sebut sendiri Course Manager karena istilah itu saya dapat dari Pusdiklat Bahasa Kemhan. Sebenarnya tugas saya sebagai koordinator siswa yang memiliki tugas yang sama dengan Course Manager Pusdiklat Bahasa Kemhan. Saya memonitor kegiatan siswa selama belajar bahasa Indonesia di Pusdiklat Bahasa Kemhan hingga nanti belajar di institusi saya.

Terdapat sepuluh siswa yang belajar bahasa Indonesia namun baru delapan orang yang datang. Padahal saya selalu mengingatkan agar jangan terlambat ketika mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Bagaimanapun proses keberangkatan tergantung kepada negara masing-masing.  

Setelah pembukaan kursus, para siswa menikmati soto daging dengan minuman traditional jahe dan kopi. Mereka kemudian  berfoto di depan tulisan PUSDIKLAT BAHASA. Ketika masuk ke kelas, CM dari Pusdiklat Bahasa memberikan arahan dan instruksi tentang jadwal dan peraturan selama belajar dalam bahasa Indonesia. Para siswa masih tampak kebingungan karena bahasa Indonesia mereka masih minim. Sementara CM dari Pusdiklat Bahasa tidak bisa berbahasa Inggris karena diharapkan siswa agar lebih cepat memahami bahasa Indonesia.

Saya akhirnya menjadi penghubung antara CM dan para siswa. Mereka baru mengerti apa yang dijelaskan oleh CM. Masing-masing siswa mendapatkan nama baru namun ada beberapa siswa yang tidak berkenan dengan nama Indonesia tersebut, namun ada juga menerima nama baru tersebut. Mereka bertanya mengapa mereka harus memiliki nama Indonesia. Dan saya jelaskan untuk memudahkan guru ketika memanggil mereka. Tentunya tidak semua menerima penjelasan saya. Saya bilang jika tidak suka dengan nama baru tidak masalah, CM menerima akan keputusan para siswa.

Hal ini sedikit berbeda ketika saya mengajar siswa Indonesia berbahasa Inggris. Saya memberikan kebebasan untuk mencari nama asing yang mereka sukai untuk menjadi nama panggilan mereka. Siswa Indonesia cukup fleksibel karena ketika mereka belajar bahasa Inggris atau bahasa asing,  mereka berusaha mempelajari budaya orang asing tersebut, termasuk nama asing.

Saya cukup mengerti dengan keberagaman siswa manca negara yang sedang belajar bahasa Indonesia. Saya tidak dapat memaksakan mereka untuk menerima semua culture Indonesia, namun saya perkenalkan secara bertahap. Saya yakin, sedikit demi sedikit mereka akan mulai menerima. Jika mereka tidak dapat segera bersosialisasi dengan masyarakat Indonesia mereka akan susah meningkatkan kemampuan berbahasanya.

Untuk membantu mereka, saya mencari lagu anak-anak yang berjudul, NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG. Saya juga share videonya. Saya bilang lagu ini juga bisa diajarkan kepada putra-putrinya, karena beberapa dari mereka membawa keluarganya ke Indonesia.

Pagi tadi mereka baru belajar cara memperkenalkan diri, mengeja huruf alfabet Indonesia dan berhitung dalam bahasa Indonesia. Jadi seperti kita belajar bahasa asing, belajar mulai dari yang paling dasar terlebih dahulu. Mereka senang mendapat kiriman lagu dari saya. Saya berharap lagu ini dapat membantu mereka untuk fasih berbahasa Indonesia.

Inilah pengalaman saya menjadi Course Manager untuk siswa manca negara.

 

 

Jonggol, 30 Juni 2022

NANI KUSMIYATI

#lombamenulisblogpgri

#tantanganmenulissetiaphari

#Day 21

1 comment:

NYANYIAN ALAM

  pexels-alex-azabache-3214944 NYANYIAN ALAM   Deburan ombak Desiran angin Gemerisik daun kering Berpadu indah menenangkan hati ...