Wednesday, May 6, 2020

Terbitkan bukumu Catatkan Sejarah dengan ibu Farrah Dina

Terbitkan bukumu Catatkan Sejarah dengan ibu Farrah Dina 
By Nani Kusmiyati.
Kuliah siang pada tanggal 6 Mei 2020 dibuka oleh Om Jay, blogger ternama yang tidak henti-hentinya menyemangati untuk membuat sebuah buku. Narasumber yang sangat expert dibidang penulisan dan penerbitan dihadirkan disini. Dan pada siang ini Om Jay menghadirkan narasumber yang memiliki background pendidikan di luar negeri dan di dalam negeri. Tokyo Gakugei University, Tokyo, Jepang tempat ibu farrah Dina belajar tentang Teori Teacher Training Program Jurusan Curruculum (2014), State Univeristy of New York, College at Buffalo tempat narasumber mengambil master of Science in Multidisciplinary Studies (2007)  dan Sarjana jurusan Gizi Masyarakat danSumberdaya keluarga di Institut Pertanian Bogor. Narasumber adalah pendiri Tangga Edu dan telah menulis 20 judul buku tentang pendidikan untuk guru dan orang tua serta buku-buku bergambar untuk anak. 
Kemudian narasumber membagikan link dengan mengambil tema "Terbitkan Bukumu,Catatkan Sejarah." 

https://www.youtube.com/watch?v=_7_bUDRAnhY&feature=youtu.be

Isi dari Youtube menjelaskan bahwa sebenarnya membaca buku itu sama dengan berbicara dengan orang-orang bijak dimasa lalu dan setiap manusia tentu ingin dikenang dalam sejarah. Sehingga yang dapat kita tinggalkan sebagai sejarah adalah buku itu sendiri.
tentang "Terbitkan Bukumu,Catatkan Sejarah."  Membuat buku dan menerbitkan buku dapat dilakukan siapa saja. Mem

Membuat buku dan menerbitkan buku dapat dilakukan siapa saja. Membuat buku hingga menerbitkan adalah sebuah karya. Mengekspresikan apa yang ada dipikiran kita, perasaan  kita dalam sebuah tulisan hingga menjadi buku dan diterbitkan akan abadi sepanjang masa. Jika buku-buku hasil tulisan kita dapat diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar maka hal ini adalah hasil dari karya yang baik dan berkualitas. Saat ini untuk menerbitkan buku tidaklah terlalu sulit, namun yang terpenting bagi penulis buku adalah hadirnya pembaca. Pembaca tidak selalu membaca dalam bentuk buku namun dapat membaca melalui media sosial seperti buku digital, majalah atau surat kabar. 

Buku akan mudah diterbitkan jika buku itu dapat menjawab masalah yang ada pada saat kini, dan dibutuhkan oleh pembacanya. Faktor utama adalah bagaimana kita membuat karya lalu mengasahnya menjadi sebuah intan berlian yang yang bermanfaat bagi masyarakat sehingga diterbitkannya buku itu.

Ibu Farrah Dina, seorang penulis buku-buku pendidikan, yang kemudian menemukan passionnya sebagai penulis buku anak. Dalam kuliahnya narasumber memperkenalkan metode 4R di dalam menulis, yaitu Renjana, Rutin, Review dan Ruang bagi pembaca.

Metode yang pertama adalah Renjana. Renjana dapat berarti passion yaitu sesuatu yang sangat menarik yang jika kita melakukannya kita akan merasa senang dan nyaman serta mudah untuk melakukannya. Jika kita menyukai novel makan tulisan kita akan cenderung ke fiksi dan jika lebih suka penelitian maka akan cenderung ke non fiksi. 

Cara termudah agar kita termotivasi untuk terus menulis adalah bagaimana kita merasa sukses untuk melakukan sesuatu. Kegagalan di dalam menulis itu wajar. Namun, jika tidak pernah menghasilkan tulisan maka hal itu adalah sebuah masalah. Menulislah yang mudah bagi kita. Misalnya, jika kita menyenangi buku anak, maka renjana kita adalah menulis tentang anak. Ide-ide sederhana yang kita tuangkan dalam tulisan akan berdampak besar bagi masyarakat. 

Metode yang kedua adalah Rutin. Rutin membaca dan menulis adalah kunci kesuksesan di dalam menulis. Ketika kita banyak membaca maka akan timbul keinginan untuk membuat tulisan lain dan akan menulis rutin. Kita perlu menyiapkan waktu dan tempat khusus untuk menulis. Menulis dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja dan tentang berbagai hal. Ketika kita melihat sesuatu yang menarik maka hal itu dapat menjadi sumber ide untuk menulis. Kita dapat menuliskannya pada buku catatan, Hp, atau merekam dengan alat rekorder. Kumpulkan bahan-bahan cerita dan jangan ditunda agar kita mendapatkan emosi dari tulisan kita.  

Narasumber juga mengatakan bahwa " Orang yang memendam akan kalah dengan orang yang mengungkapkan, dan orang yang menunggu akan kalah dengan orang yang melakukan. Jadi segera ungkapkan dan lakukan dalam tulisan dan jangan menunggu dan jadikan kegiatan menulis sebagai rutinitas.

Metode yang ketiga adalah Review.  Review adalah proses terpanjang di dalam penulisan. Setelah kita memiliki kumpulan tulisan, maka lakukanlah untuk mereview secara berulang-ulang. Pada saat membuat draft tulisan tulislah semua yang akan ditulis dan tidak perlu di edit, biarkan saja mengalir. Ketika pada tahap mereview baru kita perhatikan siapa tokohnya, alur logikanya dan lain-lainya. 

Tujuan mereview untuk mengetahui pasar kita, siapakah audience kita, apa yang dibutuhkan dan apa yang akan kita tulis. Hasil penelitian dapat dibukukan menjadi tulisan populer. 

Metode yang keempat yaitu Ruang bagi Pembaca. Review yang terpenting bukan saja hasil dari review kita namun review dari pembaca yang kita tuju. Jika buku tentang hal-hal yang berhubungan dengan guru maka target pembacanya adalah guru. Demikian juga jika buku ditujukan untuk orang tua, maka target pembacanya juga orang tua. Ruang bagi pembaca ditujukan untuk mendapatkan respon positif dari pembaca. Jika respon yang kita dapatkan adalah respon negatif maka kita perlu memperbaiki bagian-bagian yang kurang dari tulisan kita tanpa menghilangkan jati diri kita sebagai penulis. Dan perlu diperhatikan pola pikir dan daya tangkap pembaca adalah berbeda-beda dan mungkin beda dengan pemahaman penulis. Dan karena kehadiran pembaca sangat penting, maka penulis perlu share ke media sosial dan meminta orang-orang terdekat dengan kita untuk membacanya. Dan kita akan senang jika ada yang membaca tulisan kita. 

Demikian kuliah yang disampaikan oleh narasumber, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sudah dirangkum.

Banyak buku-buku yang sekarang best seller adalah buku-buku ilmiah yang cara penyajiannya dalam bentuk buku populer yaitu tidak penuh dengan data-data yang memusingkan dan sebaiknya banyak membaca contoh buku-buku populer yang berdasarkan pendekatan ilmiah. Pada pembahasan buku-buku ilmiah yang menjadi buku populer tidak membahas teorinya namun membahas "Permasalahannya" kemudian jawabannya dan didukung sedikit teori-teori, ada unsur emosi yang kuat yang dibangun sehingga ada konektivitas dengan pembaca. Beberapa contoh buku ilmiah dibuat populer (buku-buku terjemahan) seperti Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses dunia, The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode pengobatan), The Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7 Habit).

Untuk menampilkan "voice" pada buku populer atau membangun emosi, dengan cara memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yang lebih hidup. 

Untuk mengetahui dan menentukan passion  kita dengan mudah dan paling ampuh adalah dengan terus menulis, nanti akan terlihat kecenderungan kita untuk menulis apa. Bahkan, dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi, pengalaman ke dalam bentuk rekaman atau tulisan pun kita akan dapat mengetahui renjana kita. Kita bisa lihat dari bank yang sudah kita kupulkan, apa yang menarik dan mendorong kita untuk mengungkapkannya, dan itulah renjana kita. Cara lain paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat tulisan mana yang paling cepat diselesaikan dengan mudah.

Pada penulisan buku anak boleh sekali dimasukkan imajinasi karena imajinasi itu kekuatan dari buku anak. Seperti binatang berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot, itu adalah imajinasi. Yang tidak boleh adalah takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekerasan. Narasumber secara pribadi keberatan dengan buku yang membahas tentang Anak Durhaka Menjadi Batu, Siasat Membuh Raksasa seperti dalam legenda Asal Usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa dalam bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya dan tidak berlebihan.

Narasumber menemukan renjana nya pada saat sekolah di Amerika dan Jepang yang topik pembahasan dalam belajar serius tentang buku anak. Hal ini juga berawal dari kebutuhan narasumber saat berada di Jepang dan pada saat itu anak beliau masih TK dan akan kembali ke Indonesia masuk SD. Sehingga harus mengajarkan untuk membaca. Narasumber merasa tidak puas dengan buku-buku yang dikirimkan dari Indonesia. Akhirnya narasumber menulis buku sendiri dan ternyata itu menyenangkan bagi narasumber karena merasa dapat memberi solusi pada permasalaahan yang ada. 

Selanjutnya melakukan penelitian di bidang membaca usia SD, dan salah satu hal yang dibutuhkan adalah buku anak berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas itu biasanya harganya mahal. Ini yang menjadi motivasi terbesar dan menjadi passion untuk menciptakan buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau. Walaupun tetap memaksakan diri untuk terus menulis genre lain. 

Karena rutin menulis buku anak dan pendidikan, narasumber agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Akhirnya "memaksa" diri untuk mengirimkan rencana penelitian untuk mendapat beasiswa. Dan akahirnya diterima di Universitas di Jepang.

Cara memanage 4 R agar menjadikan sebuah kesatuan yang utuh dalam menulis kunci utamanya dengan melakukan maka kemudian akan menemukan polanya sendiri. Menulis yang mudah dan yang diminati kemudian buatlah sebagai kebiasaan atau habbit. Ketika hendak dipublikasikan maka perlu dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review saat menulis di awal, karena nanti tidak akan jadi karya kita karena hanya berkutat dengan hal tersebut padahal masih banyak hal yang harus diselesaikan.

Narasumber menyarankan menulislah sesuatu yang mudah terlebih dahulu yang sesuai dengan renjana kita, yang kita senang saat menuliskannya. Hal ini berguna untuk memberi reward terhadap diri sendiri. Dengan terselesaikan naskah yang kita sukai maka hal itu akan menjadi penyemangat kita untuk terus menulis. Jika di awal sudah tidak termotivasi, maka akan akan menghambat karya kita. Menulislah sesuatu yang benar-benar ingin disampaikan ke orang lain sesuai  hati dan pikiran kita.

Selanjutnya, kita dapat menyesuaikan diri dan dapat menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita diharapkan dapat menulis sesuai dengan kebutuhan pembaca.  Hal Ini yang nantinya perlu dikuasai setelah kita menguasai sedikit hal yang menjadi kekuatan utama kita.

Narasumber menjelaskan apa yang dimaksud dengan renjana. Renjana adalah passion, ketertarikan seseorang pada satu hal sehingga akan mengerahkan energinya untuk hal tersebut dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan renjana akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward langsung. Saat menulis sesuatu yang sesuai dengan minat seseorang, maka orang tersebut akan menikmatinya dan hasilnya pun akan cepat terwujud. Hasil tulisan ini menjadi reward sendiri sehingga orang tersebut akan terus termotivasi untuk menulis. Setelah itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre agar menguasai  menulis berbagai hal.

Narasumber menjelaskan bahwa tanggapan negatif memang tidak mudah. Jangan sampai Hal itu medemotivasi dan menghilangkan jati diri kita. Saat kita mendengar tanggapan pembaca, yang perlu diketahui sebenarnya adalah pemahaman pembaca terhadap hasil tulisan kita apakah sesuai dengan apa yang ingin kita sampaikan. Jika berbeda perlu diketahui dari sisi mana karena antara pembaca dan penulis memiliki ruang imajinasi yang berbeda. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah "keseluruhan" atau "detail" yang tidak disuka pembaca. Jika ketidaksukaan pembaca karena selera yang berbeda, maka bisa dijadikan pelajaran bahwa pembaca dengan persona tersebut bukanlah target pembaca kita.

Jika tidak sukanya karena "persepsi" atau "terjemahan" yang berbeda dari yang sebenanrnya ingin kita sampaikan, maka mungkin ada penulisan yang perlu diperbaik.

Demikian rangkuman sesi tanya jawab yang sebetulnya sudah terdapat pada pelajaran yang terdapat pada youtube narasumber.

Selamat membaca sebagai pelengkap khasanah ide-ide yang sedikit berbeda.






Tuesday, May 5, 2020

Menciptakan Proses Belajar yang Efektif dari Rumah by Nani


Menciptakan Proses Belajar yang Efektif dari Rumah
By Nani Kusmiyati
Bunda, Jangan Salah Kaprah Tentang Pendidikan Anak | GEOTIMES
Belajar dimasa Pandemi Covid-19 bukanlah hal yang mudah, banyak tantangan yang dihadapi guru maupun siswanya. Guru dan murid tidak dapat bertemu muka langsung dalam proses belajar mengajar. Guru tidak bisa melihat langsung wajah-wajah muridnya. Tatapan mata-mata mereka yang berbinar-binar penuh harapan untuk belajar, juga mata-mata yang enggan untuk belajar karena tidak menariknya materi pelajaran, sulitnya untuk mengerti pelajaran dan tidak bersahabatnya guru mereka. Maka akan sangat jelas diketahui guru yang mengajar saat itu.

Tawa riang di kelas, kegaduhan karena harus berdiskusi dengan teman-temannya, candaan, keusilan yang selalu diciptakan antar siswa. Semua itu tidak dapat dihadapi langsung oleh gurunya. Mata bijak, ucapan kasih sayang, atau bahkan kata-kata tegas dari gurunya tidak lagi dapat dirasakan siswanya. Kedekatan guru dan siswa tidak dapat tertransfer langsung. Guru adalah role model dari siswanya, dan siswa adalah nafas hidup seorang guru. Kebahagiaan seorang guru, jika anak didiknya dapat mengerti apa yang diajarkan, mengaplikasikan ilmu yang dibagikan guru kepada muridnya dan keberhasilan setelah mereka lulus dari belajarnya. 

Kondisi itu sudah tidak ada lagi semenjak kebijakan pemerintah yang mengharuskan siswanya belajar di rumah, demikian juga yang dihadapi dengan para guru. Teaching from home adalah pilihan yang harus dihadapi. Suka atau tidak suka proses belajar mengajar haruslah dilaksanakan. Bagi guru yang memiliki pengetahuan IT yang terbatas situasi ini merupakan tantangan. Mau tidak mau guru harus banyak belajar IT yang merupakan tools untuk mentransferkan ilmunya agar sampai ke muridnya. Berbagai media guru coba dan aplikasikan. Apakah melalui Whatsapp group, Instagram, Face Book, dan media-media conference seperti google classroom, Zoom, Webex Meeting, Live meeting maupun YouTube. Bagi guru tradisional media-media itu merupakan persoalan lain yang harus ditemukan solusinya. 

Mereka terpaksa mengambil kursus-kursus online singkat tentang menggunakan media-media tersebut atau saling sharing dengan sesama guru. Memang hal ini merupakan salah satu sisi positifnya. Guru mulai meningkatkan skill yang lain disamping skill yang sudah dimiliki. Guru harus memiliki gadget yang compatible dengan media daring yang akan digunakan. Dan harus memilki kuota internet yang memadai. Bagi guru dipelosok akan lebih menemui kendala, diantaranya minimnya perangkat dan jaringan untuk mentransfer pembelajaran online, jaringan internet yang kurang bagus, tidak mampu membeli pulsa dan masih banyak lagi. Bagaimana dengan para siswa sendiri. 

Belajar dari rumah bukanlah salah satu pilihan yang menyenangkan bagi mereka, karena mereka tidak dapat bertemu langsung dengan teman-temannya, bercanda, diskusi seputar home work nya yang sulit. Merasakan langsung dengan jutek dan killernya gurunya atau bahkan super baik guru pembimbingnya. Belajar dirumah memang itu adalah faktanya. Nah bagaimana sekarang cara untuk menciptakan Pola Belajar yang efektif dari Rumah? Hal ini dapat diciptakan dengan kontribusi guru, orang tua, lingkungan dan murid itu sendiri. Jadi tidak dapat diciptakan oleh murid itu sendiri. 

Menciptakan Proses Belajar yang Efektif dari Rumah bagi siswa pada pasca pandemi ini dapat dilakukan dengan cara berikut :

1. Bantuan dari Guru.
Guru diharapkan tidak kaku dalam menerapkan target pencapaian kurikulum. Karena pembelajaran terjadi di rumah. Pilih materi-materi esensial yang perlu dilakukan oleh siswa kita di rumah dan jangan memindah sekolah ke rumah. Pembelajaran di rumah harus sesuai dengan kondisi masing-masing siswa, termasuk soal keterbatasan akses yang dihadapi siswa di beberapa daerah. Penilaian terhadap siswa di masa pembelajaran saat ini tidak sekedar bersifat kuantitatif yaitu tugas-tugas tidak harus dinilai seperti biasa, namun penilaiain lebih bersifat kualitatif dan memberikan motivasi. Diharapkan para guru dapat melakukan inovasi dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Para guru tentu menyesuaikan dengan kondisi masing-masing juga karena persoalan keterbatasan akses bagi sebagian siswa di daerah yang tidak memiliki infrastruktur mendukung. 

Maka saatnya para guru untuk melakukan inovasi pembelajaran di tiap daerah.

รขˆš 9 Contoh Sistem Informasi dalam Kehidupan Sehari-Hari
Guru harus mulai melakukan pembelajaran berbasis dalam jaringan (daring) atau dengan kata lain pembelajaran online (online learning). Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional yang terjadi di sekolah. Guru dan siswa tidak berhadapan langsung, melainkan terjadi interaksi secara jarak jauh yang memungkinkan guru dan siswa berada pada tempat yang berbeda. Hal positif yang dapat diambil dari pembelajaran di masa pandemi yaitu, Guru dan siswa akan tetap aman berada pada tempat atau rumahnya masing-masing, tanpa harus keluar rumah dan bertatap muka secara langsung.

Namun, merubah pola atau kebiasaan belajar sangatlah sulit. Hal ini dinilai wajar karena perubahan ini terjadi sangat cepat dan tidak terduga. Kebiasaan yang berubah secara signifikan dapat dilihat yaitu guru dan siswa harus mengandalkan perangkat komputer dan jaringan internet. Guru dan siswa harus mampu merubah metode dan strategi dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa harus mampu mengubah gaya komunikasinya selama pembelajaran daring ini yaitu harus lebih memahami penerapan dalam berkomunikasi mereka. Sehingga didalam berkomunikasi secara efektif dalam pembelajaran daring maka hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: 

Pertama, guru harus membuat aturan kelas daring, seperti waktu dan aplikasi yang akan digunakan.

Kedua, menciptakan suasana yang baik dan nyaman didalam berdiskusi walaupun mungkin agak susah dilakukan. Guru harus mampu menjawab pertanyaan dari siswa dengan sabar. Guru diharapkan tetap menggunakan ekpresi-ekpresi verbal dan non-verbal dalam memberikan feedback, reward dan punishment, misalnya menggunakan emoticon, sticker, atau kalimat yang memotivasi siswa. Guru dalam mengajar harus memilih materi yang masih berhubungan dengan kondisi saat ini. Agar pelajaran menarik dan tidak membosankan, guru dapat menggunakan video atau animasi yang yang mendukung materi.

2. Bantuan dari orang tua.
Orangtua memberikan pendampingan putra putrinya di dalam belajar. Hal ini memang agak sulit dilakukan bagi orang tua yang bekerja khususnya jika ibunya yang bekerja. Orangtua masih dapat mengingatkan putra putrinya untuk belajar atau mengikuti pelajaran melalui video call, memberikan semangat dan membimbing dalam belajar walau via daring juga. Dan pada saat dirumah, orang tua harus menyempatkan untuk berinteraksi dengan putra putrinya. Menanyakan kesulitan-kesulitan dalam belajar via online juga hal-hal yang menyenangkan yang telah dilakukan putra putinya. Orang tua juga perlu memberikan reward kepada putra putrinya. Reward itu tidak harus mahal. Orang tua dapat membelikan makanan kesukaannya, benda-benda unik yang tidak mahal namun memilki nilai positif bagi putra putrinya seperti tempat pencil cantik untuk melengkapi koleksi tempat belajarnya. Yang terpeting benda-benda itu mampu memotivasi mereka untuk menyenangi pola baru belajar secara online, dan disesuaikan dengan karakter mereka.

Orangtua mampu menciptakan suasana belajar bagi putra-putrinya, seperti ruangan, peralatan belajar seperti buku dan alat tulis, laptop atau Hp yang compatible dengan media yang digunakan para pengajarnya. Semua disesuaikan dengan ekonomi orang tua. Banyak cara yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu putra putrinya untuk belajar. Yang terpenting putra-putrinya dapat belajar dengan senang dan terus mengikuti info-info yang diberikan oleh para pengajarnya.

3. Peran siswa.

Jika siswa sudah menginjak remaja, maka dia dapat membantu dirinya bagaimana agar nyaman dalam belajar via online. Hal-hal yang dapat dilakukan siswa, menyulap kamar tidurnya menjadi semi tempat belajar. Kondisi ini bagi siswa yang tinggal dirumah yang tidak luas yang tidak memiliki ruang khusus untuk belajar.  Menambahkan kipas angin yang minimalis, jika ruangan tidak ber AC, agar sejuk pada siang hari. Meletakkan benda-benda yang diperlukan dalam belajar, tersusun rapi dan meletakkannya ditempat yang sama agar pada saat akan menggunakan benda-benda tersebut tidak perlu mencari-cari lagi. Hal ini akan hemat waktu. 
23 Desain Ruang Kerja yang Membuat Anda Fokus di Rumah

Jika siswa menyukai musik, dapat belajar sambil mendengarkan musik. Karena bagi sebagian siswa dapat mudah belajar apabila ada musik.
Daftar E-Learning Kemendikbud, Sekolah Online untuk Mencegah ...

Siswa juga dapat menyiapkan makanan-makanan kecil dan minuman fresh water. Jika sedikit bosan dapat ngemil dan minum, namun jangan makan makanan berat karena dapat menyebabkan kantuk.
71 Contoh Usaha Makanan Ringan Serba 2000 1000 dan 500    Deretan Minuman Sehat dan Segar, Cocok untuk Berbuka Puasa ...
Jika merasa lelah dapat beristirahat terlebih dahulu. Mengikuti pelajaran via daring tentu ada waktu untuk beristirahat. Dapat main musik, olahraga ringan atau tidur sejenak. Yang terpenting tepati waktu belajar.

Siswa dapat belajar group via online dengan teman-temannya. Belajar group akan dapat memecahkan soal-soal yang tidak dapat dipahami dan lebih menyenangkan. Selain dapat update info juga dapat mempererat persahabatan.

Gunakan media belajar yang tepat dan sesuai dengan pembelajaran yang diberikan guru. Yang terpenting proses belajar dapat terlaksana dengan baik.

Tetap semangat dan selalu berinovasi bagi guru, orang tua dan siswa dalam menyikapi pola belajar via online atau daring dimasa Covid-19.

Selamat membaca, semoga dapat memberi inspirasi buat belajar dan mengajar.

Monday, May 4, 2020

Berbagi Pengalaman Menulis Buku Motivasi dan Kepemimpinan dengan Bapak Amir Faisal

Berbagi Pengalaman Menulis Buku Motivasi dan Kepemimpinan,
Kamis, 30 April 2020, dengan Narasumber bapak Amir Faisal,

By Nani Kusmiyati

Om Jay memperkenalkan narasumber dengan memberikan alamat link :

Kemudian kami menyimak pelajaran dari naraasumber Youtube pengantar ini dengan link berikut:


(Video ini berseri. Untuk seri Hypnowriting ini Insya Allah ada 5 seri)



Video tersebut berisi tentang pengalaman narasumber untuk menjadi penulis nasional. Berikut isi dari video tersebut:

Bapak Amir Faisal yang memiliki profesi sebagai mandor proyek, mampu menulis buku dan menerbitkan buku pertamanya yang berjudul “Menyiapkan Anak Menjadi Juara”. dan Gramedia adalah sebagai penerbitnya. Beliau juga seorang pembicara nasional. Menurut beliau untuk dikenal jutaan orang apabila mampu menulis dan diterbitkan oleh penerbit berskala Nasional seperti Gramedia. Untuk menjadi sukses dalam menerbitkan buku  hal yang perlu diperhatikan adalah harus dapat menemukan Genre yang tepat untuk penulis. Genre memiliki arti sifat genetik dari karya penulis. Genre tersebut bisa pada buku novel, cerita anak, traveling atau marketing.  Buku yang disukai penerbit besar seperti Gramedia adalah buku yang diminati pasar. Hal tersebut dapat dilakukan melalui riset yang dilakukan dengan menyebarkan angket atau kuesioner untuk para pelanggan penerbit  Gramedia.  Buku yang terjual paling banyak adalah buku yang diminati pelanggan atau pembacanya. Diharapkan pengarang dapat membuat buku yang disukai pasar. Buku-buku yang biasanya laris terjual dengan penerbit Gramedia adalah buku-buku novel, traveling, komik, marketing dan buku-buku motivasi.


Setelah melihat video diatas, Om Jay memberikan link yang sangat menarik tentang Positive Thing in Covid Era, dengan alamat berikut :


Narasumber menceritakan tentang kondisi saat pandemi Covid dialami Indonesia. Setiap hari mendengarkan berita-berita yang mengerikan tentang situasi ini. Banyak anak-anak bersosial media, (mainstream) betapa banyak berita negatif yang membuat anak-anak dapat menjadi stress karena efek negatif dari berita-berita tersebut. Narasumber memberikan tugas kepada anak didiknya yang disebut Self healing , memproduksi hal-hal positif tentang sekolahnya yg harus ditulis di blog mereka via kompasiana. Narasumber menceritakan bahwa memiliki anak didik  210  anak remaja akan memproduksi tulisan kabar positif tentang sekolahnya, masing-masing anak membuat 15 tulisan untuk di publish di kompasiana. 450 kabar positif akan tersebar di Kompasiana dengan berbagai kata kunci untuk membuat tulisan. Menulis bukanlah hal yang mudah mereka akan berusaha mengkemas tulisannya agar dapat diminati pembacanya. Anak-anak tersebut berusaha untuk berkreasi dengan menempelkan gambar-gambar atau foto-foto di blog nya. Termasuk video yang disandingkan dengan kabar positif tentang sekolahnya. Tugas ini tidak sesulit tugas matematika namun tugas ini akan menciptakan kepuasan jika mereka upload di instagram dan banyak membacanya memberi response like atau comment dari followernya. Tugas ini akan menjadi nilai tersendiri bagi mereka yang akan diberikan nanti oleh narasumber setelah tugas tersebut selesai. 

Hasilnya luar biasa sudah ada posting dengan gambar-gambar menarik di Kompasiana. Kompasiana, benar-benar hebat jika tulisan tersebut copy paste, maka kompasiana akan mengetahui duplicate dan akan mengirimkan ke kepenulisnya bahwa tulisan tersebut tidak layak. Hal ini mempermudah narasumber untuk mengetahui keaslian tulisan tersebut. Harapan narasumber, berita ini menjadi hal positif, bertaburan hal-hal positif bagi pembacanya dalam menghadapi pandemi covid ini.   

Kemudian Om Jay mempersilakan kepada para peserta menulis group 8 untuk langsung mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan Kiat Menembus Penerbit Gramedia. Ringkasan jawaban terhadap beberapa pertanyaan dirangkum oleh narasumber sebagai berikut :

Narasumber mengawali dengan pengalaman beliau bahwa semula hanya mentraining anak sekolah dan mahasiswa. Kemudian narasumber membuat tantangan untuk mentraining guru. Walau sebenarnya tidak mengetahui ilmu pendidikan namun sudah berani mentraining guru. Langkah berikutnya, narasumber belajar dari buku-buku pendidikan mutakhir dari BobbiDePorter, Barbara Prashnig,  buku-buku psikologi dr Daniel Goleman, Howard Gardner, Thomas Armstrong dan mengikuti Training dari Bapak Munib Khatib, sekolahnya manusia.  

Semula narasumber hanya mentraining anak sekolah dan mahasiswa. Kemudian narasumber membuat tantangan untuk mentraining guru. Walau sebenarnya tidak mengetahui ilmu pendidikan namun sudah berani mentraining guru. Langkah berikutnya, narasumber belajar dari buku-buku pendidikan mutakhir dari Bobbi DePorter, Barbara Prashnig,  buku-buku psikologi dr Daniel Goleman, Howard Gardner, Thomas Armstrong dan mengikuti Training dari Bapak Munib Khatib, sekolahnya manusia.  

Ketika ingin menjadi penulis, hal yang terpenting adalah menentukan terlebih dahulu visi  atau impiannya apa. Kemudian menghadapi tantangan-tantangan dengan gagah berani.
Didalam mengirimkan naskah tidak perlu terlalu tebal karena Gramedia belum tentu menerima naskah tersebut. Yang terpenting adalah kualitas tulisan,  genre dan buku tersebut disukai pasar atau tidak.

Narasumber mengirimkan naskah dan dapat diterima karena sesuai kriteria penerbit dan beliau sejak awal menulis hingga sekarang,  selalu mengirimkan full naskah.

Agar tulisan kita dilirik penerbit maka kita perlu belajar Hypnowriting. Hypnowriting adalah bagaimana kita membuat tulisan yang menghipnotis yang membacanya. Tulisan yang menghipnotis artinya tulisan yang menarik, yang membuat orang fokus dan terus membaca apa yang kita tuliskan.

Buku pertama narasumber selesai sekitar setahun. Buku kedua sekitar 6 bulan. Sekarang bisa menulis  2 bulan. 

Penerbit lebih menyukai karya original dari pikiran, perasaan, gagasan kita sendiri. Sedangkan kajian pustaka itu bersifat hanya sebagai penguatan.

Agar buku yang diterbitkan Gramedia group diminati pasar maka perlu keterlibatan antara penulis dan penerbit untuk memasarkan buku tersebut dengan berbagai cara diantara melalui sosial media, mengadakan pelatihan-pelatihan gratis, membagikan buku ke key person/ influencer, dsb. Dan semua penerbit memiliki kriteria masing-masing.

Novel Motivasi untuk dapat menembus pasar buku di Indonesia, maka penulis terlebih dahulu membaca Novel terbitan Gramedia untuk dipelajari, juga bisa beli beberapa yang genre yang cocok dengan penulis.

Demikian pelajaran yang dapat diambil dari bapak Amir Faisal, semoga bermanfaat dan dapat melengkapi pengetahuan kita sebagai penulis pemula juga sebagai motivasi bagi kita untuk terus menulis.







Saturday, May 2, 2020

Motivasi Menulis Setiap hari dan Menerbitkan Buku dengan Bapak Dadang Kadarusman

By Nani

Dadang Kadarusman - Change Matter Learning Partner - DeKa Training ...

CV Narasumber.
Narasumber adalah putra seorang guru Sekolah Dasar. Ketika masih kecil, sering dibawakan buku-buku bacaan oleh ayahandanya. Semenjak itu narasumber suka membaca. Dan dari suka membaca narasumber berkeinginan untuk menulis. Sehingga sejak kecil narasumber sudah menulis.

Tema pelajaran kali ini adalah MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU.

Narasumber mulai berinteraksi dengan beberapa pertanyaan untuk menggali seberapa jauh pengetahuan peserta mengetahui bagaimana cara menerbitkan buku karya tulisan seseorang.

Menerbitkan buku saat ini sangat mudah sekali.  Beda dengan 20 tahun lalu ketika pertaman kali narasumber ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit itu sudah biasa. Sekarang tantangan terbesar BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARInya.

Jika dapat menulis setiap hari, maka akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan akan sangat menarik bagi penerbit. Kita, tidak perlu mendatangi penerbit lagi, namun mereka yang datang kepada kita. Buku-buku narasumber pada umumnya adalah hasil dari penerbit datang dan menawarkan untuk menerbitkan naskahnya. Sekarang tinggal bapak ibu mau menerbitkannya atau tidak.

Narasumber menjelaskan bahwa pembahasan pelajaran yang pertama difokuskan pada cara menulis setiap harinya. Jika kita menginginkan penerbit akan mendatangi KITA maka skill menulis KITA harus disesuaikan dengan kriteria yang penerbit inginkan. Sehingga jangan berpikir lagi bahwa menerbitkan buku itu susah. Mudah sekali untuk itu sudah saatnya seseorang dapat menulis setiap hari. Untuk menulis setiap harinya  diperlukan skill dan trik. Sebelumnya perlu dianalisa bahwa menulis setiap hari bagi setiap orang surprise banget. Karena pada kenyataannya tidak semua orang yang berhasil menerbitkan buku dapat menulis setiap hari. Ada kalanya seseorang menulis buku bukan dari dirinya sendiri namun meminta bantuan orang lain untuk menulisnya, sehingga harus bergantung dengan orang lain. Membayar profesional untuk menuliskan idenya. Dan Profesional tersebut sering disebut Gost Writer. Ketika seseorang menerbitkan buku kemungkinn hanya mampu menerbitkan satu kali atau dua kali buku saja.  Berbeda dengan orang yang mengasah dirinya untuk menulis dan menulis. Sehingga tanpa disadari menulis merupakan habit atau kebiasaan yang melekat. Dengan memiliki ketrampilan menulis setiap hari tanpa memikirkan menerbitkan buku, suatu saat akan mudah untuk menerbitkan buku dan pada akhirnya menjadi mandiri untuk menuliskan buku kapan saja.

Kemudian narasumber membahas tetang 'WHY' sebagai fokus yang kedua.  Mengapa kita perlu menulis setiap hari? Menulis setiap hari akan membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Sehingga jika nanti sudah terbiasa menulis ketika melihat apapun ada rasa keinginan untuk menerjemahkan apa yang di lihat menjadi tulisan dan hal itu terjadi secara refleks tanpa disadari. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu maka kita akan menterjemahkan perasaan kita itu dalam bentuk tulisan. bagi orang yang tidak terbiasa menulis akan memendam perasaan itu atau butuh seseorang yang mau mendengarnya. Padahal, belum tentu ada yang mau mendengarkan. Beda dengan orang yang terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. Kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka bisa mencurahkan isi hatinya, perasaaannya dan apa yang dilihatnya disana.

Yang ketiga, menulis setiap hari itu merupakan Healing remedy. Jika terbiasa menulis, kita dapat menjadi pribadi yang lebih sehat.

Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah : Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri. Kemampuan itu diasah dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam kehidupannya TANPA MENULIS. Jika kita sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal maka mulai sekarang berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Seberapa banyak tergantung individu masing-masing. Narasumber memberikan contoh menulis artikel 1 hari 1 artikel. Jika ukurannya jumlah artikel berarti tidak ditentukan jumlah katanya. Berbeda dengan jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, pasti ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan. Karena bukan hal yang mudah untuk menuanggkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan. Maka bagi narasumber, ukurannya adalah "1 Artikel".

Apakah yang disebut Artikel? Artikel adalah sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya. Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Namun demikian belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Pasti sedih banget rasanya karena sudah cape-cape menulis tapi kok tidak ada yang membaca. 

Pada tahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu terbawa perasaan atau BAPER tentang ada yang baca atau tidak. Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif. Maka yang terpenting menulis saja dulu. Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, YAKIN LAH bakal dibaca orang lain.

Langkah berikutnya pembahasan tentang WHAT. WHAT makes you write something? Apa yang menjadi mendorong Anda untuk menulis? Pertanyaan ini sederhana. Namun bagi orang yang tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti ditengah jalan. Jadi mari kita tanyakan kepada diri sendiri dulu apa yang mendorong kita menulis. Dengan kata lain, apa tujuan kita menulis? 

Contoh Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, narasumber pernah berada di level itu, menulis untuk mendapatkan uang, karena butuh biaya untuk bisa sekolah. Apakah berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian saya sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang bukanlah nilai pribadi narasumber. Sehingga sampai sekarang, narasumber menulis BUKAN untuk uang. Namun uang dapat dijadikan sebagai pendorong utama dalam menulis. Dengan  seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita. 

Kedua, menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Menurut narasumber, alasan ini paling sesuai dengan kita sebagai jiwa pendidik.

Dulu ketika narasumber menulis karena uang, pernah mengalami kekecewaan karena penerbit menolak, serasa diremehkan oleh mereka. Atau karena bayarannya ternyata tidak sesuai yang diharapkan seperti Royalti penulisan buku misalnya.

Jika menulis setiap hari Idenya dari mana? Segala hal yang dapat ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita mengolahnya. Pegang teguh prinsip itu. Berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu TAK TERHINGGA. Maka hal itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita SAAAANGAT banyak. Contoh, Hal apa yang yang dapat ditangkap dengan panca indra kita? Ada bunyi AC? Itu sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat didepan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci jatuh? semua sumber ide. Dan ide itu, hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan. Dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya dapat menulis setiap hari.

Demikian pelajaran yang disampaikan oleh narasumber, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Narasumber menceritakan pengalamannya bahwa sejak SD sudah mulai menulis. Pada saat SMP aktif sekali menikuti lomba-lomba. Berarti sudah sekitar 40 tahun menulis. Dan mulai dipercaya oleh penerbit sekitar 10 tahun lalu. Jadi perlu 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Kondisi dulu, penerbit hanya sedikit dan mereka memiliki bargaining power yang sangat tinggi. Sehingga mereka sulit ditembus. Namun kondisi sekarang berbeda, banyak penerbit. Bahkan menerbitkan sendiri pun bisa.

Menulis adakalanya perlu dipaksa. 'Paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinan pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Narasumber mencontohkan ketika masih SD, setelah menulis narasumber baru bisa mendapatkan HR.

Bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa. Mengenai Thema dan sistematika penulisan, jika dalam tahap belajar, TIDAK PERLU DiKHAWATIRKAN. Yang terpenting menulis saja. Tidak perlu takut salah  karena bukan sedang mengikuti UN. 

Jika kita ingin menulis dengan tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Maka tulisan tidak perlu 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Kemudian meminta orang lain untuk membacanya. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang kita sampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan.

Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan tulisan kita. Hal ini tergantung dari kontrak dengan penerbit dan tergantung menulis untuk tujuan apa.

Narasumber memberikan contoh menulis dengan kalimat "DUNIA TANPA SUARA". Kalimat ini tentu akan mengundang pertanyaan orang. “DUNIA TANPA SUARA” dapat dijadikan tema oleh narasumber. Berikut contoh paragraf yang diberikan.

Paragraf 1: Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara didunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi. bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang. Coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.

Paragraf 2 : Eh, tapi. menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara.

Paragraf 3 atau terakhir: Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa... a-... aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti?

Contoh diatas, minimal ada 1 gagasan yang sudah sampai kepada pembaca. Dan diujung ceritanya, ada 'komitmen' untuk melanjutkan.

Narasumber menambahkan bahwa menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk. Hal  itu cocok hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Dan jika kita ingin menjadi penulis terampil, maka hal itu bukan opsi yang tepat.

Menurut narasumber tidak ada keharusan dalam menulis menentukan judul dulu atau naskah duluan. Sebagai contoh narasumber pernah menentukan judulnya terlebih dahulu seperti "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan.

Jika sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Mungkin tempat penayangannya yang kurang tepat. Tulisan-tulisan dapat dibuat kompolasi.

Narasumber memberikan link yang dapat dijadikan referensi dalam menulis tentang pengalaman “Menulis sedari kecil dan sampai sekarang tetap menulis.”


Saran dari narasumber, menulis itu buat diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Sehingga, berikanlah yang terbaik kepada tulisan kita sendiri. Agar mendapatkan yang terbaik dari yang kita berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya. Dengan begitu, maka lewat tulisan, kita menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju perbaikan diri itu. So teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.

Demikian pelajaran yang dapat saya kemas. Semoga bermanfaat.


NYANYIAN ALAM

  pexels-alex-azabache-3214944 NYANYIAN ALAM   Deburan ombak Desiran angin Gemerisik daun kering Berpadu indah menenangkan hati ...